Catatan Akademik atas Dua Pertemuan Keluarga Besar Darul Istiqamah
Oleh : Baharuddin Hafid (Alumni Pesantren Darul Istiqamah Pusat Maccopa Maros 1988-1994)
INSAN.NEWS || Maros—Pelaksanaan dua pertemuan yang berlangsung pada momentum yang sama dalam keluarga besar Pesantren Darul Istiqamah—yakni Silaturrahim Akbar keluarga dan Alumni di Sinjai dan pertemuan di Maccopa Maros—menjadi fenomena sosial yang menarik untuk dibaca dalam perspektif sosiologi organisasi, politik kelembagaan, dan dinamika otoritas pesantren.
Pertemuan di Sinjai melahirkan dua produk penting: pertama, Manifesto Silaturrahim Akbar keluarga dan Alumni sebagai dokumen moral dan arah gerakan alumni; kedua, pelantikan pengurus Ikatan Keluarga Alumni sebagai bentuk konsolidasi organisatoris yang berorientasi pada penguatan jaringan alumni lintas generasi.
Produk yang lahir dari forum ini menunjukkan adanya orientasi kelembagaan yang lebih struktural, kultural, administratif, dan kolektif.
Sementara itu, pertemuan di Maccopa Maros menghasilkan sebuah deklarasi yang mengatasnamakan warga, simpatisan, dan santri Darul Istiqamah, dengan penegasan bahwa kepemimpinan yang sah berada di bawah kendali Mufassir Arif.
Berbeda dengan forum Sinjai yang menitikberatkan pada konsolidasi alumni, forum Maccopa lebih menonjolkan aspek legitimasi otoritas dan peneguhan loyalitas terhadap figur kepemimpinan tertentu.
Dalam perspektif teori legitimasi Max Weber, fenomena ini menunjukkan adanya dua corak legitimasi yang berjalan secara paralel.
Pertemuan Sinjai lebih merepresentasikan legitimasi organisatoris—yakni pengakuan yang lahir melalui mekanisme kolektif, musyawarah alumni, dan pembentukan struktur formal.
Sedangkan deklarasi Maccopa merepresentasikan legitimasi kharismatik dan tradisional, di mana otoritas bertumpu pada figur sentral yang dianggap memiliki kesinambungan historis dan moral terhadap pesantren.
Dari sudut pandang sosiologi pesantren, situasi ini sebenarnya tidak sepenuhnya anomali. Banyak lembaga pesantren besar di Indonesia mengalami dialektika antara otoritas struktural dan otoritas kultural.
Persoalan muncul ketika kedua legitimasi tersebut tidak dipertemukan dalam ruang dialog yang sehat, sehingga melahirkan klaim kebenaran yang berjalan sendiri-sendiri.
Yang perlu dicatat secara akademik ialah bahwa alumni, santri, simpatisan, maupun warga pesantren sejatinya merupakan unsur-unsur sosial yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Alumni tidak mungkin lahir tanpa pesantren, dan pesantren tidak akan memiliki kesinambungan sejarah tanpa kontribusi alumni.
Karena itu, setiap upaya yang cenderung mempertentangkan basis sosial tersebut hanya akan memperdalam fragmentasi emosional di tubuh keluarga besar Darul Istiqamah.
Manifesto dan deklarasi pada hakikatnya merupakan dua bentuk ekspresi sosial yang berbeda. Manifesto biasanya lahir sebagai rumusan visi, gagasan, dan orientasi gerakan kolektif.
Sedangkan deklarasi cenderung menjadi penegasan sikap politik atau dukungan terhadap otoritas tertentu. Keduanya sah dalam ruang demokrasi organisasi, tetapi akan menjadi problematik ketika dipahami secara eksklusif dan saling menegasikan.
Dalam konteks ini, tantangan terbesar Darul Istiqamah bukan sekadar menentukan siapa yang paling sah atau paling representatif, melainkan bagaimana membangun titik temu antara legitimasi moral, legitimasi historis, dan legitimasi organisatoris.
Sebab institusi besar tidak akan bertahan hanya dengan kekuatan figur, dan juga tidak cukup hanya dengan kekuatan struktur. Keduanya harus berjalan dalam keseimbangan.
Oleh karena itu, pasca dua pertemuan tersebut, diperlukan upaya islah yang lebih substantif dan bermartabat.
Islah tidak boleh dimaknai sekadar mempertemukan tokoh, tetapi harus menjadi ruang rekonsiliasi pemikiran, penyatuan visi, dan pembangunan kembali kepercayaan sosial antar unsur keluarga besar pesantren.
Pada akhirnya, publik alumni dan masyarakat luas tentu berharap agar Darul Istiqamah tetap dikenang sebagai rumah ilmu dan rumah persaudaraan, bukan sebagai arena kontestasi legitimasi yang berkepanjangan.
Sebab pesantren akan menjadi besar bukan karena minimnya perbedaan, tetapi karena kemampuan seluruh elemennya menjaga adab ketika menghadapi perbedaan tersebut.
Maros—31 Mei 2026
Allahu A’lam Bishshawab
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


