Pengayaan kutipan ini bisa memperkuat nuansa filosofis dan kritik sosial dalam esai Anda.
Menulis
Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidrap—Di zaman modern, pendidikan telah berubah menjadi industri sertifikasi massal. Gelar bertambah, kampus menjamur, wisuda berlangsung megah bak festival prestise, tetapi kemampuan riil justru semakin sulit ditemukan.
Dunia pendidikan hari ini sedang mengalami sebuah paradoks besar: credential expansion without capability expansion—ekspansi kredensial tanpa ekspansi kapasitas.
Kita hidup dalam era ketika ijazah dipuja melebihi ilmu, gelar akademik lebih dihormati daripada kompetensi, dan formalitas pendidikan dianggap lebih penting daripada kemampuan berpikir.
Akibatnya, lahirlah generasi yang kaya sertifikat tetapi miskin daya cipta; sarjana yang fasih teori namun gagap menghadapi kenyataan; intelektual yang mampu mengutip banyak buku tetapi tidak mampu membaca problem sosial di depannya sendiri.
Paulo Freire pernah mengingatkan:
“Education either functions as an instrument to bring about conformity or freedom.”
Pendidikan, menurut Freire, bisa menjadi alat pembebasan atau justru alat penjinakan. Dan pendidikan modern hari ini tampaknya semakin dekat pada fungsi kedua: membentuk manusia yang patuh terhadap sistem, bukan manusia yang berani mempertanyakan sistem.
Pendidikan modern perlahan berubah dari ruang pembebasan menjadi pabrik legalisasi status sosial. Kampus tidak lagi sepenuhnya menjadi tempat pencarian kebenaran, melainkan arena produksi legitimasi administratif.
Mahasiswa masuk dengan mimpi menjadi manusia merdeka, tetapi keluar sebagai produk sistem birokrasi pengetahuan: hafal modul, lulus ujian, mengejar IPK, lalu antre pekerjaan dengan CV penuh pelatihan motivasi.
Ivan Illich dalam Deschooling Society bahkan secara sarkastik menyebut sekolah modern sering kali hanya menjadi institusi reproduksi ketimpangan sosial. Ia menulis:
“School prepares for the alienating institutionalization of life.”
Sekolah mempersiapkan manusia untuk hidup dalam keterasingan institusional. Kritik Illich terasa relevan ketika pendidikan lebih sibuk mencetak kepatuhan administratif daripada membangun kreativitas dan keberanian moral.
Ironisnya, semakin tinggi angka lulusan, semakin rendah kualitas keberanian intelektual. Banyak pengajar sibuk mengejar akreditasi tetapi lupa mendidik daya kritis.
Banyak dosen menulis jurnal demi angka kredit, bukan demi pencerahan publik. Sekolah dan universitas akhirnya hanya menjadi “pabrik stempel kompetensi”, padahal masyarakat membutuhkan manusia yang benar-benar kompeten.
Di ruang-ruang kelas modern, murid diajarkan bagaimana menjawab soal, tetapi tidak diajarkan bagaimana mempertanyakan realitas.
Mereka dilatih menjadi penghafal yang patuh, bukan pemikir yang gelisah. Sistem pendidikan takut pada pertanyaan liar, sebab pertanyaan sering kali lebih berbahaya daripada jawaban. Maka lahirlah budaya akademik yang steril: aman, formal, sopan, tetapi kehilangan keberanian moral.
John Dewey pernah mengatakan:
“If we teach today as we taught yesterday, we rob our children of tomorrow.”
Tetapi pendidikan modern justru sering terjebak pada pola lama: hafalan, formalitas, dan birokrasi akademik yang menumpulkan kreativitas.
Ruang kelas berubah menjadi ruang administrasi pengetahuan, bukan ruang pencarian makna.
Lebih tragis lagi, pendidikan sering hanya melahirkan kaum intelektual bisu. Mereka cerdas membaca teori demokrasi tetapi diam ketika ketidakadilan terjadi.
Mereka memahami filsafat etika tetapi tunduk pada kekuasaan. Mereka ahli metodologi penelitian tetapi kehilangan keberanian mengatakan yang benar.
Kampus yang seharusnya menjadi benteng nurani publik justru terkadang berubah menjadi ruang tunggu birokrasi karier.
Ki Hadjar Dewantara sejak lama telah mengingatkan bahwa:
“Pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak.”
Artinya, pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses memanusiakan manusia. Namun yang terjadi hari ini, pendidikan sering kali justru mereduksi manusia menjadi angka statistik, IPK, akreditasi, dan ranking global.
Dalam situasi seperti ini, pengajar tidak lagi cukup hanya menjadi penyampai materi. Tugas utama pendidikan sesungguhnya bukan sekadar mentransfer informasi, melainkan membangun kesadaran.
Seorang pendidik sejati bukan tukang cetak nilai, tetapi pembentuk karakter intelektual. Ia tidak hanya mengajar bagaimana mencari nafkah, tetapi juga bagaimana menjaga martabat.
Pendidikan yang sehat seharusnya melahirkan manusia yang mampu berpikir independen, berani mengkritik, mampu menyelesaikan masalah nyata, dan memiliki integritas moral.
Sebab bangsa tidak runtuh karena kekurangan orang pintar, tetapi karena terlalu banyak orang berpendidikan yang kehilangan keberanian.
Hari ini, dunia pendidikan modern tampak sibuk memperluas akses gelar, tetapi lupa memperluas kualitas manusia.
Kampus berlomba membangun gedung megah, sementara daya pikir mahasiswa runtuh dalam budaya instan. Seminar motivasi lebih ramai daripada diskusi filsafat.
Konten viral lebih dipercaya daripada argumentasi ilmiah. Bahkan sebagian pengajar pun terjebak dalam rutinitas administratif hingga lupa bahwa tugas utama pendidikan adalah memanusiakan manusia.
Albert Einstein pernah mengingatkan:
“Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think.”
Namun dunia pendidikan modern justru sering memproduksi penghafal fakta, bukan pelatih daya pikir.
Kita menghasilkan lulusan yang mampu menjawab ujian, tetapi tidak mampu menjawab tantangan zaman.
Paradoks inilah yang membuat pendidikan modern terlihat maju secara statistik tetapi rapuh secara substansi.
Angka sarjana meningkat, tetapi kualitas kebijaksanaan belum tentu ikut tumbuh. Teknologi pendidikan berkembang pesat, tetapi kedalaman berpikir justru menurun.
Dunia menghasilkan lebih banyak lulusan, tetapi tidak selalu menghasilkan lebih banyak pemikir.
Mungkin masalah terbesar pendidikan modern bukan kekurangan fasilitas, melainkan kehilangan orientasi.
Pendidikan terlalu sibuk mencetak pekerja, tetapi lupa mencetak manusia. Terlalu fokus pada pasar kerja, tetapi lalai membangun kesadaran sosial.
Akibatnya, lahirlah generasi yang sangat siap mencari pekerjaan, tetapi tidak siap menghadapi kehidupan.
Karena itu, sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada tujuan paling mendasarnya: membangun manusia yang merdeka secara intelektual dan bermoral secara sosial.
Pendidikan bukan sekadar alat mobilitas ekonomi, melainkan proses pembentukan peradaban.
Dan pengajar bukan operator kurikulum, melainkan penjaga akal sehat masyarakat.
Jika tidak, maka sekolah dan universitas hanya akan menjadi museum gelar yang penuh sertifikat, penuh seremoni, tetapi kosong keberanian dan miskin makna.
Sidenreng Rappang—29 Mei 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


