Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Sulawesi Tenggara)
INSAN.NEWS || Kendari—Di zaman digital, manusia hidup dalam paradoks. Di satu sisi, teknologi membuat dunia semakin dekat. Informasi bergerak melampaui batas negara dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan, media sosial, dan algoritma telah mengubah cara manusia berpikir, bekerja, bahkan beribadah.
Namun di sisi lain, kedekatan digital tidak selalu melahirkan kedekatan spiritual. Kita terhubung dengan banyak orang, tetapi sering kehilangan hubungan dengan diri sendiri dan dengan Tuhan.
Dalam konteks inilah QS. Al-Hajj ayat 77 menjadi sangat relevan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Yā ayyuhallażīna āmanūrka‘ū wasjudū wa‘budū rabbakum waf‘alul-khaira la‘allakum tufliḥūn_.
“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebaikan agar kamu memperoleh keberuntungan.” (QS. Al-Hajj: 77)
Ayat ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya memuat peta jalan peradaban. Ada empat perintah utama: rukuk, sujud, beribadah, dan berbuat baik. Lalu semuanya bermuara pada satu tujuan: falah—keberuntungan yang utuh, lahir dan batin, dunia dan akhirat.
Sujud Kosmik: Menyatu dengan Irama Semesta
Dalam perspektif spiritual Islam, sujud bukan sekadar gerakan tubuh. Sujud adalah pengakuan eksistensial bahwa manusia bukan pusat alam semesta.
Ketika dahi menyentuh bumi, ego diturunkan dari singgasananya. Manusia mengingat kembali asal-usulnya: dari tanah, hidup di atas tanah, dan akan kembali ke tanah.
Filsuf Muslim kontemporer Seyyed Hossein Nasr sering mengingatkan bahwa krisis modern berakar pada hilangnya kesadaran sakral terhadap alam.
Manusia modern merasa dirinya penguasa mutlak dunia sehingga mengeksploitasi bumi tanpa batas.
Padahal Al-Qur’an menggambarkan seluruh alam sedang berada dalam keadaan sujud kepada Allah.
Allah berfirman:
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ
Wa in min syai’in illā yusabbiḥu biḥamdih.
“Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih memuji-Nya.” (QS. Al-Isra’: 44)
Dalam pandangan ini, sujud bukan hanya ibadah personal, melainkan partisipasi manusia dalam “orkestra kosmik” yang terus memuji Sang Pencipta. Matahari, bulan, gunung, lautan, dan seluruh makhluk menjalankan tugas penciptaannya.
Manusia yang sujud berarti menyelaraskan dirinya dengan ritme ilahiah yang menggerakkan alam semesta.
Tantangan Ego di Era Digital
Masalah terbesar manusia digital bukan kurangnya informasi, melainkan membengkaknya ego.
Media sosial memberi ruang bagi setiap orang untuk tampil. Tidak sedikit yang akhirnya terjebak dalam budaya pencitraan.
Ukuran keberhasilan bergeser dari kualitas diri menjadi jumlah pengikut, tanda suka, atau jumlah tayangan. Manusia perlahan berubah menjadi “produk” yang harus terus dipromosikan.
Di sinilah makna rukuk dan sujud menemukan aktualitasnya. Sujud mengingatkan bahwa sehebat apa pun seseorang di ruang digital, ia tetap seorang hamba.
Tidak ada algoritma yang lebih besar daripada kehendak Allah. Tidak ada popularitas yang dapat menggantikan ketakwaan.
Sujud adalah terapi terhadap kesombongan digital.
Dari Ritual Menuju Amal Kemanusiaan
Menariknya, Al-Qur’an tidak berhenti pada perintah rukuk dan sujud. Setelah itu
Allah berfirman:
وَافْعَلُوا الْخَيْرَ
“Dan berbuatlah kebaikan.”
Ini menunjukkan bahwa spiritualitas yang sejati harus menghasilkan manfaat sosial. Kesalehan ritual tanpa kepedulian sosial adalah spiritualitas yang belum matang.
Abdul Malik Karim Amrullah dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan bahwa ibadah harus melahirkan amal nyata di tengah masyarakat.
Salat yang benar seharusnya membuat seseorang semakin jujur, semakin peduli, dan semakin bermanfaat.
Di era digital, amal kemanusiaan memiliki bentuk yang lebih luas. Berbagi ilmu yang benar, membantu orang lain melalui platform digital, mengedukasi masyarakat, melawan hoaks, membangun ruang dialog yang sehat, dan menggunakan teknologi untuk kemaslahatan umum adalah bagian dari waf’alul khair.
Kebaikan hari ini tidak hanya dilakukan di jalanan atau masjid, tetapi juga di layar-layar gawai.
Etika Digital sebagai Bentuk Ibadah
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil ākhir falyaqul khairan aw liyasmut.
“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika hadis ini diterapkan pada dunia digital, maka setiap unggahan, komentar, dan pesan yang kita kirim sesungguhnya memiliki dimensi moral dan spiritual.
Pertanyaannya bukan lagi: “Apakah saya bisa memposting ini?”
Tetapi:
“Apakah postingan ini termasuk kebaikan yang mendekatkan manusia kepada kebenaran?”
Di tengah banjir informasi, amal saleh digital menjadi kebutuhan peradaban.
Dunia tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kekurangan orang yang menggunakan kepintarannya untuk kebaikan.
Falah: Keberuntungan yang Lebih Dalam
Ayat ini ditutup dengan kalimat:
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Agar kamu beruntung.”
Dalam bahasa Al-Qur’an, falah bukan sekadar sukses material. Ia adalah keberhasilan yang menyeluruh: ketenangan batin, kebermaknaan hidup, kemanfaatan sosial, dan keselamatan akhirat.
Banyak orang hari ini sukses secara digital tetapi gagal secara spiritual. Mereka dikenal banyak orang, tetapi asing terhadap dirinya sendiri. Mereka memiliki ribuan pengikut, tetapi kehilangan arah hidup.
QS. Al-Hajj ayat 77 menawarkan jalan yang berbeda. Jalan itu dimulai dari rukuk yang merendahkan ego, sujud yang mendekatkan diri kepada Allah, ibadah yang memurnikan niat, dan kebaikan yang mengalir kepada sesama.
Penutup
Di tengah dunia yang semakin terkoneksi oleh jaringan internet, manusia membutuhkan koneksi yang lebih dalam dengan Tuhan dan sesama. QS. Al-Hajj ayat 77 mengajarkan bahwa spiritualitas bukan pelarian dari dunia, melainkan energi untuk memperbaiki dunia.
Sujud bukanlah simbol kelemahan, melainkan puncak kesadaran manusia akan posisinya di hadapan Allah.
Dan ketika sujud itu melahirkan amal kemanusiaan, lahirlah peradaban yang berakar di bumi namun bercahaya dari langit.
Mungkin itulah pesan terdalam ayat ini bagi generasi digital: jangan hanya menjadi pengguna teknologi yang cerdas, tetapi jadilah hamba yang sujud, manusia yang bermanfaat, dan penjaga kebaikan di tengah semesta yang terus bertasbih kepada-Nya.
Wallahu A’lam bi al-Shawab
Kendari Sulawesi tenggara—04 Juni 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


