Oleh: Dr. Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidrap—Dalam perang politik modern, orang tidak perlu lagi menembak Presiden untuk menjatuhkan Presiden. Cukup memberinya data yang salah.
Tidak perlu membakar Istana; cukup biarkan angka-angka palsu masuk ke ruang rapat, kemudian biarkan Presiden mengucapkannya di depan kamera. Setelah itu, media sosial akan mengerjakan sisanya.
Presiden menjadi bahan tertawaan, program pemerintah menjadi bahan olok-olok, dan orang yang memasok informasi bermasalah tetap duduk nyaman di kursinya.
Inilah bentuk sabotase yang paling murah, paling rapi, dan paling sulit ditangkap: membiarkan seorang Presiden kalah oleh informasi yang diberikan orang-orangnya sendiri.
Kasus MBG, SPPG, KDMP dan kontroversi angka upah kupas bawang merah semestinya tidak berhenti sebagai bahan fact-checking. Kalau kesalahan data terjadi sekali, mungkin itu keteledoran. Dua kali, mungkin incompetence.
Tetapi apabila pola yang sama terus berulang dan selalu menghasilkan kerugian reputasi bagi Presiden, pertanyaannya berubah: apakah Istana sedang mengalami krisis kompetensi, atau ada pihak yang sengaja memanfaatkan kelemahan sistem informasi pemerintahan?
Jangan sampai pemerintah terlalu sibuk mencari musuh di luar pagar sementara tikus sudah membuat gudang di dalam rumah.
Yang paling menggelikan adalah budaya “asal Presiden senang”. Semua laporan dibuat indah. Semua program dikatakan sukses. Semua angka terlihat mengkilap.
Semua pejabat berlomba menjadi pembawa kabar baik. Tetapi ketika angka yang telah dipoles itu akhirnya terbukti bermasalah, orang yang pertama kali menjadi sasaran bukan pembawa laporan, melainkan Presiden.
Para pembawa data bersembunyi di balik meja; Presiden berdiri sendirian di depan kamera. Ini bukan sistem pemerintahan yang sehat. Ini adalah sistem yang secara tidak langsung menjadikan Presiden sebagai tameng bagi kesalahan birokrasi.
Karena itu, kubu loyalis Prabowo perlu berhenti menjadi “pasukan tepuk tangan” dan berubah menjadi “pasukan audit.” Jangan setiap kritik dijawab dengan marah.
Jangan setiap kritik dianggap sebagai serangan politik. Kritik yang menunjukkan kesalahan data justru harus dijadikan pintu masuk untuk membongkar siapa yang bekerja buruk di dalam pemerintahan.
Loyalis yang hanya sibuk menyerang pengkritik tetapi tidak pernah bertanya siapa pemasok datanya sesungguhnya sedang membantu benalu.
Ada langkah yang jauh lebih tegas: audit total rantai informasi Presiden. Setiap angka yang masuk ke pidato Presiden harus memiliki source, verifier, timestamp, dan penanggung jawab. Tidak boleh lagi ada angka tanpa nama.
Tidak boleh ada laporan tanpa sumber primer. Tidak boleh ada pejabat yang berkata, “Kami mendapat data dari bawah,” tanpa bisa menunjukkan siapa “bawah” tersebut.
Jika satu angka ternyata keliru, telusuri dari meja Presiden kembali ke sumber pertama. Cari bukan siapa yang salah bicara, tetapi siapa yang pertama kali membuat kesalahan itu bisa sampai ke mulut Presiden.
Dan jangan berhenti pada audit administratif. Periksa juga konflik kepentingan.
Siapa yang berkepentingan dengan kegagalan sebuah program?
Siapa yang memperoleh keuntungan ketika sebuah program pemerintah terlihat buruk?
Siapa yang memiliki akses terhadap data?
Siapa yang mempunyai jaringan media atau buzzer yang langsung mengamplifikasi kesalahan?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan paranoia. Dalam politik, insentif adalah salah satu cara paling efektif membaca motif.
Namun ada satu jebakan yang harus dihindari kubu Prabowo: jangan menjadikan istilah “benalu” sebagai alasan untuk melakukan pembersihan berdasarkan kesetiaan politik.
Kalau setiap kritik dianggap pengkhianatan, maka yang tersisa di sekitar Presiden hanya orang-orang yang pandai berkata “siap”.
Dan sebuah pemerintahan yang hanya dihuni orang-orang yang selalu mengatakan “siap” sedang berjalan menuju jurang dengan mata tertutup.
Benalu sesungguhnya bukan orang yang berbeda pendapat. Benalu adalah orang yang mendapatkan keuntungan dari kekuasaan tetapi membiarkan kekuasaan menerima informasi yang salah.
Ia bisa berasal dari birokrasi, lingkaran politik, kelompok kepentingan, bahkan dari barisan yang mengaku paling loyal.
Karena itu, ukur seseorang bukan dari seberapa keras ia membela Prabowo di media sosial, tetapi dari seberapa jujur ia menyampaikan kenyataan kepada Prabowo ketika kenyataan itu pahit.
Inilah yang harus disiapkan menghadapi 2029. Jangan membangun kemenangan dengan propaganda; bangun dengan mesin pemerintahan yang kebal terhadap manipulasi data.
Jangan membalas setiap serangan dengan buzzer; jawab dengan data yang dapat diaudit. Jangan melindungi pejabat karena kedekatan; lindungi negara dengan integritas.
Dan jangan menunggu 2029 untuk membersihkan sistem. Kalau ada kebocoran di kapal, jangan menunggu kapal tenggelam baru mencari tukang lubangnya.
Sebab pertarungan 2029 sesungguhnya mungkin sudah dimulai jauh sebelum kotak suara dibuka. Pertarungannya berlangsung di ruang-ruang yang tidak terlihat publik: siapa yang menguasai informasi, siapa yang menentukan angka, siapa yang menyusun laporan, siapa yang membisikkan sesuatu kepada Presiden, dan siapa yang kemudian mengubah kesalahan itu menjadi senjata politik.
Maka pesan kepada kubu loyalis Prabowo sederhana: jangan hanya jaga Presiden dari musuh di luar Istana. Jaga Presiden dari informasi yang salah yang masuk melalui pintu Istana.
Musuh politik yang berteriak dari luar pagar mudah dikenali. Yang lebih berbahaya adalah orang yang masuk melalui pintu depan, membawa map, tersenyum, menyebut dirinya loyalis, lalu meninggalkan selembar angka yang kelak membuat Presiden dipermalukan di depan seluruh negeri.
Dan kalau setelah audit ternyata memang ada yang sengaja melakukan itu, jangan dibela karena kedekatan, jangan dilindungi karena jasa, jangan diselamatkan karena kepentingan 2029.
Pecat jika pelanggarannya administratif, proses jika melanggar hukum, dan buka kepada publik jika memang menyangkut kepentingan rakyat.
Karena pada akhirnya, Prabowo tidak akan dijatuhkan oleh orang yang paling keras mengkritiknya. Ia justru bisa dijatuhkan oleh orang yang setiap pagi paling keras meneriakkan: “Kami loyal kepada Presiden!”
Sidenreng Rappang—19 Agustus 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


