Budaya

Makassar Jadi Panggung Diplomasi Budaya ASEAN, Bumi Anoa Festival Usung Mangkasara’ Molulo 2026

Festival Budaya
Bumi Anoa Nusantara Festival “Mangkasara’ Molulo 2026” akan digelar di Anjungan Pantai Losari, Makassar, pada 29 Agustus 2026, Minggu (23/08/2026). Foto Ist

INSAN.NEWS || Makassar—Kota Makassar akan menjadi panggung pertemuan budaya lintas daerah dan negara melalui Bumi Anoa Nusantara Festival bertajuk “Mangkasara’ Molulo 2026”, yang dijadwalkan berlangsung di Anjungan Pantai Losari, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Festival ini merupakan kolaborasi Angkatan Muda Bumi Anoa Sulawesi Tenggara (AMBA SULTRA) dengan Lembaga Adat Kerajaan Gowa (LAKG), yang mengusung semangat pelestarian warisan leluhur sekaligus promosi potensi budaya dan pariwisata Sulawesi ke panggung yang lebih luas.

Ketua Umum AMBA SULTRA Indonesia, YM Stenly Diover, terus mendorong organisasi tersebut mengambil peran dalam diplomasi kebudayaan, Minggu (23/8).

Melalui platform Bumi Anoa Nusantara Festival, AMBA SULTRA berupaya mempertemukan kekayaan tradisi dari berbagai daerah dengan jejaring kebudayaan di kawasan Asia Tenggara.

Langkah tersebut menjadi kelanjutan dari keterlibatan AMBA SULTRA dalam International Nusantara Cultural Forum (INCaF), jejaring lembaga kebudayaan Nusantara di kawasan ASEAN yang mencakup Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Sebelumnya, AMBA SULTRA telah membangun kerja sama kebudayaan di Kuala Lumpur dan Selangor, Malaysia, pada November 2025.

‎Korupsi Budaya Nusantara ‎

Dalam pelaksanaan festival di Makassar, kolaborasi strategis dijalin bersama Lembaga Adat Kerajaan Gowa, sebagai bagian dari upaya menjaga dan memperkenalkan warisan sejarah serta tradisi masyarakat Gowa.

Kolaborasi tersebut juga mendapat sambutan dari Putra Mahkota Kerajaan Gowa, PYM Andi Muhammad Imam Daeng Situju, yang memberikan dukungan terhadap penguatan kebersamaan dalam pelestarian nilai-nilai budaya Nusantara.

Tak hanya melibatkan dua lembaga utama, Mangkasara’ Molulo 2026 juga mendapat dukungan dari sejumlah komunitas dan organisasi kebudayaan di Makassar dan sekitarnya.

Di antaranya Divisi Seni Budaya Mabes Kiwal Garuda Hitam MPW Sulawesi Selatan, Sulawesi Bersatu Sipakatauki, serta Lembaga Pakarena Pusaka Leluhur Nusantara.

Pemilihan Kota Makassar dinilai memiliki nilai strategis. Sebagai salah satu metropolitan terbesar di Indonesia Timur, Makassar dipandang memiliki posisi penting sebagai simpul pertemuan budaya, pariwisata, dan aktivitas masyarakat dari berbagai wilayah di kawasan timur Nusantara.

Dari Saluk Lambongang Menyemai Sang Surya: A.G.H. Abdul Fattah Daeng Biseang, Pejuang Muhammadiyah

Festival yang digelar di kawasan Anjungan Pantai Losari itu rencananya menghadirkan perpaduan seni dan tradisi Bugis, Makassar, serta Sulawesi Tenggara. Sejumlah delegasi lembaga kebudayaan yang tergabung dalam INCaF dari kawasan ASEAN juga dijadwalkan hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Melalui Bumi Anoa Nusantara Festival, AMBA SULTRA berharap kolaborasi lintas daerah dan lintas negara tidak berhenti pada pertunjukan budaya semata. Festival ini diharapkan menjadi ruang diplomasi kebudayaan yang mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus membuka peluang lebih besar bagi promosi pariwisata dan kekayaan tradisi Sulawesi di tingkat internasional.

“Mangkasara’ Molulo 2026” menjadi penanda bahwa budaya tidak hanya hidup dalam tradisi masa lalu, tetapi juga dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan daerah, bangsa, dan generasi.

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

Herbite Angkat Warisan Herbal Kerajaan Gowa: Edukasi Generasi Muda
× Advertisement
× Advertisement