INSAN.NEWS || Bulukumba—Milad KOHATI bukan hanya tentang memperingati bertambahnya usia organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan refleksi dan menjemput gagasan baru.
Bertambahnya usia KOHATI harus sejalan dengan bertambahnya kualitas kader, keberanian menyampaikan gagasan, serta kemampuan organisasi dalam menjawab persoalan perempuan dan masyarakat.
KOHATI lahir sebagai wadah pengembangan potensi perempuan HMI. Karena itu, KOHATI tidak cukup hanya menjadi ruang berkumpul dan menjalankan program kerja, tetapi harus menjadi ruang intelektual yang mampu melahirkan kader perempuan yang kritis, berdaya, berintegritas, dan mampu mengambil peran dalam kehidupan sosial.
Menurut saya, gagasan pembaharuan KOHATI harus dimulai dari keberanian untuk mengevaluasi diri. Kader perlu bertanya: apakah kaderisasi yang dilakukan hari ini sudah mampu menjawab kebutuhan perempuan di tengah perubahan zaman? Apakah gagasan yang lahir dalam forum-forum KOHATI sudah diterjemahkan menjadi gerakan nyata?
Pertanyaan tersebut penting agar KOHATI tidak berhenti pada diskusi, tetapi mampu menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan.
Pembaharuan juga berarti memperkuat budaya intelektual. Kader KOHATI harus memiliki kemampuan membaca, berdiskusi, menulis, melakukan kajian, dan menyampaikan pendapat secara argumentatif.
Persoalan seperti kekerasan terhadap perempuan, ketimpangan sosial, pendidikan, ekonomi, lingkungan, kesehatan reproduksi, serta tantangan perempuan di ruang digital membutuhkan kader yang tidak hanya memiliki kepedulian, tetapi juga memiliki pengetahuan untuk menawarkan solusi.
Selain itu, KOHATI perlu memperluas ruang gerak perjuangannya. Perubahan teknologi membuat ruang digital menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Media sosial dapat dimanfaatkan kader sebagai ruang edukasi dan penyebaran gagasan.
KOHATI harus mampu menghadirkan narasi yang mencerdaskan, melawan informasi yang menyesatkan, dan menyuarakan persoalan perempuan dengan cara yang kritis serta konstruktif.
Gagasan pembaharuan juga harus mendorong kader KOHATI untuk berani hadir di ruang publik.
Perempuan tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai objek dalam berbagai persoalan sosial, tetapi juga harus menjadi subjek yang ikut menentukan arah perubahan.
Kepemimpinan perempuan membutuhkan keberanian, kapasitas, dan konsistensi. Oleh karena itu, kaderisasi KOHATI harus mampu melahirkan perempuan yang siap mengambil peran di berbagai bidang tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.
Semangat pembaharuan ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11 bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Ayat ini dapat menjadi refleksi bahwa perubahan membutuhkan kesadaran dan tindakan. KOHATI tidak bisa menunggu perubahan datang, tetapi harus menjadi bagian dari proses perubahan tersebut.
Maka, menjemput Milad KOHATI seharusnya berarti menjemput semangat baru: dari kader yang hanya aktif menjadi kader yang produktif, dari diskusi menuju aksi, dan dari gagasan menuju gerakan.
Milad harus menjadi titik evaluasi sekaligus titik keberangkatan untuk membangun KOHATI yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Pada akhirnya, pembaharuan KOHATI bukan sekadar mengganti program atau membuat kegiatan yang berbeda.
Pembaharuan yang sesungguhnya adalah perubahan cara berpikir, peningkatan kualitas kader, dan keberanian untuk menghadirkan gerakan yang memberikan manfaat bagi perempuan, masyarakat, dan bangsa.
Menjemput Milad KOHATI berarti menjemput masa depan. Karena KOHATI yang besar bukan hanya KOHATI yang panjang usianya, tetapi KOHATI yang mampu melahirkan gagasan, menciptakan gerakan, dan meninggalkan kebermanfaatan.
Bumi Butta Panrita Lopi—04 September 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda
Follow Berita InsanNews di Google News


