Membongkar Industri Opini dalam Demokrasi Liberal-Oligarkis
Oleh: Dr. Buhari, S.Pd., M.Pd.
INSAN.NEWS || Sidrap—Ada satu pertanyaan yang semakin relevan diajukan dalam demokrasi elektoral hari ini: apakah survei politik benar-benar hanya membaca kehendak rakyat, atau justru ikut membentuk kehendak rakyat?
Pertanyaan ini bukan serangan terhadap ilmu statistik. Bukan pula penolakan terhadap survei sebagai metode ilmiah.
Persoalannya jauh lebih serius: ketika survei masuk ke dalam pasar politik, siapa yang menguasai modal untuk memproduksinya, siapa yang menentukan narasinya, dan siapa yang paling diuntungkan dari hasilnya?
Sebab angka tidak pernah sepenuhnya netral ketika ia masuk ke arena kekuasaan.
Di ruang akademik, survei adalah instrumen penelitian. Tetapi di ruang politik, angka elektabilitas dapat berubah menjadi senjata legitimasi.
Angka dapat mengangkat kandidat, menenggelamkan lawan, membentuk persepsi publik, memengaruhi elite, mengarahkan pemberitaan, bahkan mengubah perilaku pemilih.
Di sinilah kita perlu berbicara tentang “kejahatan survei”—bukan dalam arti bahwa setiap survei adalah kejahatan, melainkan sebagai kritik terhadap kemungkinan penyalahgunaan survei sebagai instrumen produksi dan rekayasa opini dalam demokrasi yang semakin dikendalikan oleh modal.
Demokrasi dan Paradoks Kebebasan
Demokrasi liberal dibangun di atas gagasan kebebasan individual. Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memilih. Secara normatif, satu orang memiliki satu suara.
Tetapi demokrasi liberal modern menghadapi paradoks yang tidak sederhana: kesetaraan politik formal hidup berdampingan dengan ketimpangan ekonomi yang ekstrem.
Seorang rakyat biasa memiliki satu suara. Seorang oligark juga memiliki satu suara.
Namun oligark memiliki sesuatu yang tidak dimiliki rakyat biasa: modal untuk memengaruhi jutaan suara.
Ia dapat membiayai media, lembaga konsultan, kampanye, iklan digital, produksi konten, jaringan politik, lembaga survei, bahkan ekosistem komunikasi yang membentuk persepsi publik.
Dengan demikian, prinsip one person, one vote tidak otomatis berarti one person, equal political influence.
Robert Dahl memang menunjukkan pentingnya partisipasi dan kompetisi dalam demokrasi.
Tetapi pertanyaan tentang siapa yang memiliki kapasitas nyata untuk memengaruhi agenda politik tetap menjadi problem serius dalam demokrasi modern.
Di sinilah demokrasi liberal dapat bertransformasi menjadi demokrasi oligarkis: rakyat tetap memilih, tetapi arena tempat pilihan itu dibentuk tidak sepenuhnya berada di tangan rakyat.
Robert Michels dan Ironi Demokrasi
Lebih dari satu abad lalu, Robert Michels memperkenalkan apa yang kemudian dikenal sebagai “iron law of oligarchy.”
Organisasi yang pada awalnya demokratis, menurut Michels, memiliki kecenderungan berkembang menuju konsentrasi kekuasaan pada kelompok elite.
Ironinya, demokrasi modern juga dapat mengalami gejala serupa.
Pemilu diselenggarakan atas nama rakyat. Partai mengklaim mewakili rakyat. Kandidat mengaku memperjuangkan kepentingan rakyat. Survei mengklaim membaca suara rakyat.
Tetapi di antara rakyat dan kekuasaan terdapat lapisan elite yang semakin kompleks:
partai → elite politik → pemodal → konsultan → media → lembaga survei → influencer → algoritma.
Rakyat akhirnya datang pada tahap terakhir: memberikan suara.
Pertanyaannya:
Jika sebagian besar proses pembentukan opini telah berlangsung sebelum rakyat memberikan suara, seberapa besar sebenarnya otonomi politik rakyat?
Dari C. Wright Mills ke Industri Survei
C. Wright Mills, dalam The Power Elite, memperlihatkan bagaimana kekuasaan modern dapat terkonsentrasi pada jaringan elite politik, ekonomi, dan militer.
Dalam konteks kontemporer, kita dapat memperluas pembacaan itu. Elite politik membutuhkan legitimasi. Elite ekonomi membutuhkan akses kebijakan.
Media membutuhkan pasar dan sumber pembiayaan. Konsultan politik membutuhkan klien. Lembaga survei membutuhkan proyek.
Semua aktor tersebut dapat bertemu dalam satu ekosistem politik. Di sinilah survei berpotensi menjadi infrastruktur pengetahuan bagi kekuasaan.
Yang menguasai sumber daya untuk memproduksi pengetahuan tentang “apa yang diinginkan rakyat” dapat memperoleh posisi istimewa dalam menentukan bagaimana realitas politik dipahami.
Survei kemudian tidak hanya menjawab “Apa yang rakyat pikirkan?”. Tetapi secara tidak langsung dapat menentukan “Apa yang harus rakyat pikirkan tentang kandidat tertentu?”
Perbedaan antara keduanya sangat tipis—tetapi secara demokratis sangat menentukan.
Dari Polling ke Political Engineering
Inilah titik paling problematis.
Bayangkan sebuah survei menunjukkan kandidat A memperoleh 48 persen, kandidat B 27 persen, dan kandidat C 12 persen. Angka tersebut kemudian masuk media.
Judul berita berbunyi: “A Unggul Telak, Kandidat Lain Terancam Tertinggal.” Media lain mengutip. Influencer membahas. Pengamat mengomentari. Elite mulai merapat kepada A. Pemodal membaca peluang.
Partai mulai menghitung ulang koalisi. Masyarakat kemudian melihat A sebagai kandidat paling kuat.
Survei berikutnya menunjukkan kenaikan A. Kemudian muncul berita bahwa “Elektabilitas A Semakin Tak Terbendung.”
Apa yang terjadi?
Survei pertama mungkin hanya mengukur persepsi. Tetapi publikasi dan sirkulasi hasil survei kemudian memengaruhi persepsi.
Inilah yang dalam ilmu politik dan psikologi sosial dapat dibaca melalui berbagai mekanisme seperti bandwagon effect, framing, dan agenda-setting.
Maka survei berpotensi bergerak dari measurement menuju political engineering. Dan ketika itu terjadi, persoalannya bukan lagi statistik. Persoalannya adalah kekuasaan.
Bourdieu: Siapa yang Menguasai Produksi Pengetahuan?
Pierre Bourdieu mengingatkan kita bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui paksaan fisik. Kekuasaan juga bekerja melalui apa yang dianggap sah, normal, objektif, dan benar.
Inilah yang dapat disebut sebagai symbolic power. Angka survei memiliki kekuatan simbolik yang luar biasa karena ia tampil sebagai sesuatu yang objektif.
Ketika sebuah lembaga mengatakan “Elektabilitas kandidat X mencapai 54 persen,” masyarakat cenderung menerima angka tersebut sebagai fakta.
Padahal di balik angka itu terdapat serangkaian keputusan manusia misalnya siapa yang ditanya, kapan ditanya, bagaimana pertanyaan disusun, bagaimana responden dipilih, bagaimana data diolah, bagaimana margin of error dihitung, dan akhirnya bagaimana angka tersebut diberi makna.
Karena itu, angka bukanlah realitas itu sendiri. Angka adalah representasi atas realitas. Dan setiap representasi memiliki kemungkinan bias.
Masalah menjadi semakin serius ketika masyarakat tidak memiliki kemampuan atau akses untuk menguji proses di balik angka tersebut.
Angka kemudian memperoleh status seperti kebenaran yang tidak boleh dipertanyakan.bInilah kekuatan simboliknya.
Chomsky dan “Manufacturing Consent”
Gagasan Noam Chomsky tentang manufacturing consent juga relevan sebagai lensa kritis—meskipun konsep tersebut tidak secara khusus dirancang untuk menjelaskan industri survei.
Dalam masyarakat modern, persetujuan publik tidak selalu diperoleh melalui pemaksaan. Ia dapat diproduksi melalui pengelolaan informasi.
Publik dibanjiri informasi tertentu, sementara informasi lain tenggelam.Kandidat tertentu memperoleh ruang pemberitaan yang luas. Kandidat lain hampir tidak terlihat.
Survei kemudian memberikan legitimasi numerik yaitu “Inilah kandidat yang paling dikehendaki masyarakat.”
Dengan demikian, opini publik tidak perlu dipaksa. Cukup diarahkan. Tidak perlu diperintah. Cukup dibuat percaya bahwa pilihan tersebut adalah pilihan mayoritas.
Di sinilah demokrasi dapat menghasilkan bentuk kontrol yang sangat halus sebab rakyat merasa bebas memilih, tetapi pilihan mereka dibentuk dalam lingkungan informasi yang tidak sepenuhnya bebas.
Ketika Survei Membunuh Kandidat Sebelum Pemilu
Bahaya lain dari industri survei adalah premature political elimination.
Kandidat yang tidak memiliki modal besar mungkin memiliki gagasan yang kuat, integritas yang baik, dan basis sosial yang nyata.
Tetapi ketika ia terus-menerus ditempatkan pada posisi rendah dalam survei, publik dapat menganggapnya tidak memiliki peluang.
Media mengurangi perhatian. Elite tidak tertarik. Pemodal tidak masuk. Partai tidak menjadikannya prioritas.
Pemilih kemudian berpikir “Untuk apa memilih yang tidak akan menang?”. Akhirnya kandidat tersebut benar-benar kehilangan peluang.
Ironisnya, survei yang semula hanya mendeskripsikan keadaan justru ikut memproduksi keadaan tersebut.
Ini adalah persoalan epistemologis sekaligus politik. Apakah survei sedang membaca masa depan atau ikut menciptakan masa depan?
Politik Tidak Lagi Berbasis Gagasan
Ketika angka survei menjadi terlalu dominan, politik mengalami reduksi. Politik tidak lagi berbicara tentang keadilan sosial, pendidikan, kemiskinan, kesehatan, lingkungan, kedaulatan ekonomi, reformasi birokrasi, atau masa depan generasi muda.
Politik berubah menjadi elektabilitas, popularitas, approval rating, top of mind, strong supporter, dan simulasi kemenangan.
Kandidat tidak lagi bertanya “Apa yang benar bagi rakyat?” Tetapi “Apa yang disukai pemilih?” Perbedaannya fundamental.
Demokrasi yang sehat seharusnya memungkinkan pemimpin menawarkan kebijakan yang benar meskipun kebijakan itu tidak populer.
Tetapi politik berbasis survei mendorong pemimpin mengejar apa yang populer meskipun belum tentu benar.
Politik akhirnya berubah dari leadership menjadi market research.
Negara diperlakukan seperti pasar. Rakyat diperlakukan seperti konsumen. Kandidat diperlakukan seperti produk. Survei menjadi riset pasar. Dan demokrasi berubah menjadi kompetisi merek politik.
Oligarki Tidak Perlu Membeli Semua Suara
Ini mungkin bagian paling provokatif dari kritik ini. Oligarki tidak selalu perlu membeli suara rakyat satu per satu. Cukup menguasai kondisi yang membentuk pilihan rakyat.
Jika modal dapat membeli iklan, akses media, konsultan, teknologi kampanye, jaringan politik, dan produksi opini, maka biaya untuk “membeli suara” dapat digantikan dengan biaya untuk membentuk persepsi.
Dalam politik modern, persuasi bisa lebih murah dan lebih efektif daripada transaksi langsung.
Maka politik uang tidak selalu berbentuk “Ini uang, pilih saya.”
Ia dapat berubah menjadi “Ini informasi, percayalah bahwa saya adalah pilihan terbaik.”
Bentuk kedua jauh lebih sulit dideteksi karena tampak seperti komunikasi politik biasa.
Siapa yang Membiayai Kebenaran?
Pertanyaan paling sederhana sekaligus paling mengganggu adalah:
Siapa yang membayar survei? Pertanyaan ini bukan tuduhan. Ini adalah pertanyaan demokratis.
Jika sebuah survei politik dipublikasikan kepada masyarakat, publik berhak mengetahui sumber pembiayaannya.
Sebab independensi penelitian bukan hanya persoalan metodologi, tetapi juga persoalan konflik kepentingan.
Survei yang dibiayai kandidat tidak otomatis salah.
Survei yang dibiayai partai tidak otomatis manipulatif.
Survei yang dibiayai kelompok bisnis juga tidak otomatis palsu.
Tetapi publik harus mengetahui hubungan tersebut agar dapat menilai hasilnya secara kritis.
Karena itu, transparansi bukan musuh industri survei.
Transparansi adalah syarat legitimasi industri survei.
Kita Tidak Membutuhkan Anti-Survei, tetapi Anti-Manipulasi
Kritik terhadap survei tidak boleh jatuh pada kesimpulan bahwa semua lembaga survei adalah bagian dari oligarki.
Itu sama tidak ilmiahnya dengan menerima semua angka survei sebagai kebenaran mutlak.
Yang diperlukan adalah skeptisisme metodologis dan kewaspadaan politik.
Setiap survei harus dapat diuji. Siapa sponsornya? Apa metodologinya? Berapa ukuran sampelnya? Bagaimana sampel ditentukan?Kapan penelitian dilakukan? Bagaimana pertanyaan disusun? Berapa margin of error-nya? Apakah data mentah atau metodologinya dapat diaudit? Apa konflik kepentingannya?
Dan yang paling penting adalah mengapa hasil survei tersebut dipublikasikan pada momentum politik tertentu?
Pertanyaan terakhir sering dilupakan. Padahal timing adalah bagian dari politik.
Survei yang dirilis enam bulan sebelum pemilu dan survei yang dirilis tiga hari sebelum pemilu mungkin memiliki angka yang sama, tetapi dampak politiknya sangat berbeda.
Demokrasi Membutuhkan Rakyat yang Merdeka dari Rekayasa
Pada akhirnya, persoalan survei membawa kita kembali kepada pertanyaan fundamental tentang demokrasi.
Demokrasi bukan sekadar prosedur memilih.
Demokrasi adalah kondisi di mana warga memiliki kemampuan untuk membentuk pilihan politik secara relatif bebas, rasional, dan sadar.
Karena itu, kebebasan memilih tidak cukup jika kebebasan membentuk pilihan telah dikuasai oleh modal.
Rakyat mungkin bebas mencoblos. Tetapi jika informasi yang mereka konsumsi telah direkayasa, maka kebebasan tersebut perlu dipertanyakan.
Di sinilah demokrasi liberal menghadapi tantangan terbesar abad ke-21. Bukan lagi diktator yang menjadi satu-satunya ancaman demokrasi.
Ancaman itu dapat datang dari sesuatu yang jauh lebih halus yaitu modal yang mengendalikan informasi, algoritma yang mengendalikan perhatian, media yang mengendalikan agenda, konsultan yang mengendalikan strategi, dan survei yang memberikan angka untuk melegitimasi semuanya.
Rakyat tetap berada di bilik suara. Tetapi sebelum sampai ke sana, pikirannya telah melewati sebuah industri yang sangat besar. Dari “Suara Rakyat” Menjadi “Suara yang Diproduksi”
Karena itu, kita perlu membalik pertanyaan klasik demokrasi. Selama ini kita bertanya “Siapa yang dipilih rakyat?”
Pertanyaan yang lebih kritis adalah “Siapa yang membentuk pilihan rakyat sebelum rakyat memilih?”
Dan pertanyaan yang lebih radikal lagi: “Jika pilihan rakyat dapat diproduksi melalui modal, media, algoritma, dan industri survei, apakah kita masih sedang menjalankan demokrasi substantif atau hanya menjalankan ritual elektoral?”
Inilah problem demokrasi liberal-oligarkis. Pemilu tetap ada. Partai tetap ada. Kampanye tetap ada. Survei tetap ada. Rakyat tetap mencoblos.
Tetapi kekuasaan dapat bekerja jauh sebelum hari pencoblosan.
Ia bekerja ketika opini dibentuk. Ia bekerja ketika kandidat tertentu diberi label “unggul”. Ia bekerja ketika kandidat lain diberi label “tidak punya peluang”.
Ia bekerja ketika elite diarahkan untuk merapat kepada kandidat tertentu. Ia bekerja ketika pemilih mulai berpikir bahwa kemenangan sudah ditentukan.
Dan pada titik itu, survei tidak lagi sekadar menjadi cermin demokrasi.
Ia dapat berubah menjadi alat yang membantu menciptakan demokrasi sesuai kehendak mereka yang memiliki modal untuk membiayainya.
Maka kritik kita harus jelas: Jangan bunuh survei. Bunuh manipulasi. Jangan musuhi statistik. Bongkar kepentingan di balik angka. Jangan curigai setiap lembaga survei. Tetapi jangan pula menyakralkan angka survei.
Sebab dalam demokrasi, angka harus tunduk kepada kebenaran ilmiah bukan kebenaran ilmiah yang tunduk kepada kepentingan politik.
Dan ketika uang dapat membeli produksi opini, media dapat mengamplifikasi opini, dan survei dapat memberikan legitimasi numerik kepada opini tersebut, maka pertarungan demokrasi tidak lagi sekadar berlangsung di kotak suara.
Pertarungan sesungguhnya berlangsung jauh sebelumnya: di ruang tempat persepsi rakyat diproduksi.
Di situlah kita harus bertanya dengan keberanian yang lebih besar: Apakah rakyat benar-benar memilih, atau mereka hanya memilih dari pilihan-pilihan yang sebelumnya telah diproduksi oleh kekuasaan?
Jika pertanyaan itu tidak lagi boleh diajukan, maka yang sedang kita pertahankan bukan demokrasi.
Yang sedang kita pertahankan adalah ilusi demokrasi.
Sidenreng Rappang—09 September 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda
Follow Berita InsanNews di Google News


