Opinions

Bahtera, Badai, dan Tempat Pulang: Tafsir QS. 23:29

Bahtera Badai
‎Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag., Akademisi UIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI, Selasa (29/9/2026). Foto Ist

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.

(Dosen Pemikiran Islam UIN Kendari) 

INSAN.NEWS || Kendari—Teks Ayat Allah Swt. berfirman:

وَقُلْ رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

Latin:

Muhajir Tantang MKKS dan Kepala SMP Makassar: Jangan Cuma Bicara Peduli, Buktikan Aksi!

Wa qur-rabbi anzilnī munzalam mubārakaw wa anta khairul-munzilīn.

Terjemah:

“Dan berdoalah, ‘Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.”

(QS. Al-Mu’minūn [23]:29)

Ayat ini merupakan bagian dari kisah Nabi Nuh a.s. setelah Allah menyelamatkan beliau dan orang-orang beriman dari banjir besar.

HIPMI PT Dibentuk di Bulukumba, Tiga Kampus Siapkan Kader Pengusaha Muda

Sekilas, ayat ini seperti doa sederhana tentang tempat tinggal atau tempat berlabuh.

Tetapi jika direnungkan lebih dalam, ayat ini berbicara tentang sesuatu yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia:

Di mana kita ditempatkan?

Bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara spiritual:

  • di mana kita hidup,
  • dengan siapa kita hidup,
  • untuk apa kita hidup,
  • apa yang kita bangun,
  • dan apakah kehadiran kita membawa keberkahan bagi tempat yang kita tempati.

Konteks Ayat: Setelah Banjir, Dimulai Kehidupan Baru

Appi Instruksikan Pembagian Masker Gratis, Sekolah di Makassar Batasi Aktivitas Luar Ruangan

Ayat 29 tidak dapat dilepaskan dari ayat-ayat sebelumnya.

Allah menceritakan Nabi Nuh yang diperintahkan membuat bahtera:

فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنْتَ وَمَنْ مَعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Fa iżastawaita anta wa mam ma‘aka ‘alal-fulki fa qulil-ḥamdu lillāhilladzī najjānā minal-qaumiẓ-ẓālimīn.

“Apabila engkau dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas kapal, maka ucapkanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim.”

(QS. Al-Mu’minūn [23]:28)

Kemudian ayat 29:

رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا

“Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi.”

Jadi terdapat urutan spiritual yang sangat indah:

diselamatkan → bersyukur → berdoa → menempati tempat baru → membangun kehidupan baru.

Manusia tidak hanya membutuhkan keselamatan dari bencana.

Ia membutuhkan arah setelah keselamatan.

Sebab selamat dari suatu masalah bukanlah akhir perjalanan. Setelah keluar dari badai, manusia harus bertanya:

“Ke mana aku akan melangkah selanjutnya?”

Siapa yang Berdoa?

Menurut al-Ṭabari, ayat ini berkaitan dengan Nabi Nuh a.s., khususnya ketika beliau turun dari kapal setelah Allah menyelamatkannya dari banjir. Al-Ṭabari meriwayatkan penjelasan Mujahid bahwa doa tersebut berkaitan dengan saat Nuh turun dari kapal.

Al-Qurṭubi juga mengaitkannya dengan Nabi Nuh dan menjelaskan adanya perbedaan qira’at pada kata مُنْزَلًا (munzalan).

Sebagian membacanya sebagai bentuk yang bermakna tempat turun, sementara bacaan lain memberikan nuansa proses atau cara diturunkan/ditempatkan.

Ini menarik.

Ayat tidak hanya berbicara:

“Ya Allah, berikan aku tempat.”

Tetapi juga dapat direnungkan sebagai:

“Ya Allah, aturlah proses perpindahanku dan tempatkan aku dengan cara yang penuh keberkahan.”

Makna “Munzalan Mubārakan”

Kata kunci ayat ini adalah:

مُنْزَلًا مُبَارَكًا

Munzalan mubārakan.

Secara umum berarti *tempat atau proses turun yang diberkahi*.

Kata barakah mengandung makna bertambahnya kebaikan, keberlangsungan manfaat, dan kebaikan yang melampaui sekadar ukuran lahiriah.

Karena itu, tempat yang berkah tidak selalu berarti tempat yang:

  • paling mewah,
  • paling luas,
  • paling terkenal,
  • paling mahal,
  • paling strategis,
  • atau paling bergengsi.

Tempat menjadi berkah ketika di dalamnya terdapat kebaikan yang tumbuh dan memberi manfaat.

Rumah kecil dapat menjadi tempat yang penuh berkah.

Sebaliknya, rumah megah dapat kehilangan berkah jika dipenuhi pertengkaran, kesombongan, dan kemaksiatan.

Kampus dapat menjadi tempat berkah jika ilmu melahirkan kemanusiaan.

Kantor dapat menjadi tempat berkah jika pekerjaan dijalankan dengan amanah.

Masjid menjadi tempat berkah ketika ia menghidupkan hati.

Bahkan ruang digital dapat menjadi ruang yang “berkah” apabila digunakan untuk ilmu, silaturahmi, dakwah, pendidikan, dan kemaslahatan.

“Wa Anta Khairul-Munzilīn”

Doa itu ditutup dengan:

وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

Wa anta khairul-munzilīn.

“Dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.”

Ini adalah pengakuan tauhid.

Manusia memang memilih rumah.

Manusia mencari pekerjaan.

Manusia memilih kota.

Manusia menentukan sekolah.

Manusia merencanakan perjalanan.

Tetapi di balik semua perencanaan itu, seorang mukmin menyadari bahwa Allah adalah pengatur terakhir perjalanan hidupnya.

Kita memilih tempat.

Allah menentukan hasilnya.

Kita merencanakan perjalanan.

Allah mengetahui ke mana perjalanan itu membawa kita.

Kita mengetuk banyak pintu.

Tetapi Allah mengetahui pintu mana yang sebenarnya terbaik bagi kita.

Karena itu, doa ini bukan alasan untuk pasif.

Ia justru mengajarkan keseimbangan:

ikhtiar dalam memilih, doa dalam menyerahkan hasil.

Pandangan Ulama Klasik

Al-Ṭabari: Tempat yang Menjadi Rahmat Setelah Keselamatan

Al-Ṭabari menjelaskan bahwa Nabi Nuh berdoa agar Allah menempatkannya di suatu tempat di bumi dengan keberkahan setelah keluar dari kapal. Ia juga menyebut riwayat Mujahid tentang turunnya Nuh dari kapal.

Yang menarik adalah hubungan antara keselamatan dan keberkahan.

Allah telah menyelamatkan Nuh.

Tetapi Nuh tidak berhenti pada ucapan syukur.

Ia berdoa agar fase kehidupan berikutnya juga diberkahi.

Artinya:

Keselamatan adalah nikmat, tetapi keberkahan adalah kualitas dari kehidupan setelah keselamatan itu.

Al-Qurṭubi: Doa Ketika Turun atau Memasuki Tempat

Al-Qurṭubi memberikan perhatian khusus pada kata _munzalan_ dan menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pendidikan bagi manusia ketika naik kendaraan dan ketika turun atau memasuki suatu tempat. Ia bahkan menyebut penggunaannya sebagai doa ketika memasuki rumah atau tempat tertentu.

Ini membuat ayat menjadi sangat praktis.

Perjalanan bukan sekadar berpindah koordinat.

Setiap perpindahan seharusnya disertai kesadaran kepada Allah.

Ketika sampai di rumah:

“Ya Allah, jadikan tempat ini berkah.”

Ketika pindah kota:

“Ya Allah, jadikan perpindahan ini berkah.”

Ketika memasuki pekerjaan baru:

“Ya Allah, jadikan pekerjaan ini berkah.”

Ketika memulai fase kehidupan baru:

“Ya Allah, jangan hanya berikan tempat, tetapi berikan keberkahan.”

Ibn Kathir: Keselamatan adalah Tanda Kekuasaan Allah

Ibn Kathir menghubungkan kisah penyelamatan Nuh dengan tanda-tanda kekuasaan Allah: keselamatan orang beriman dan kebinasaan orang yang menolak kebenaran merupakan tanda kekuasaan dan kehendak Allah.

Maka doa Nuh bukan hanya doa geografis.

Ia merupakan pengakuan bahwa:

Allah yang menyelamatkan, Allah pula yang menentukan tempat kehidupan berikutnya.

Perspektif Buya Hamka

Dalam perspektif Buya Hamka, kisah para nabi selalu memiliki dimensi yang melampaui peristiwa sejarah. Kisah Nuh dapat dibaca sebagai gambaran tentang keteguhan iman, perjuangan dakwah, kesabaran, dan hubungan manusia dengan ketentuan Allah.

Jika perspektif Hamka ini dibawa ke QS. Al-Mu’minūn [23]:29, maka “tempat yang diberkahi” dapat dipahami bukan sekadar tempat secara fisik, tetapi *tempat di mana manusia dapat menjalankan amanah kehidupannya dengan baik*.

Hamka dikenal tidak memisahkan agama dari kehidupan nyata.

Karena itu, keberkahan bukanlah alasan untuk meninggalkan dunia.

Keberkahan justru membuat dunia menjadi ruang pengabdian.

Rumah menjadi tempat pendidikan.

Kampus menjadi tempat pencarian ilmu.

Kantor menjadi tempat amanah.

Masyarakat menjadi ruang pengabdian.

Negeri menjadi ruang perjuangan.

Dengan demikian:

Tempat yang berkah adalah tempat di mana manusia dapat menjadi lebih dekat kepada Allah dan lebih bermanfaat bagi sesama.

Perspektif M. Quraish Shihab

Dalam perspektif tafsir M. Quraish Shihab, perhatian terhadap makna kata dan konteks sangat penting.

Kata barakah tidak semestinya dipersempit menjadi keberuntungan material.

Sebuah sesuatu disebut berkah ketika kebaikan yang terkandung di dalamnya memberikan manfaat yang terus berkembang.

Karena itu, “tempat yang diberkahi” tidak identik dengan kemewahan.

Rumah yang sederhana tetapi melahirkan anak-anak saleh dapat lebih berkah daripada rumah besar yang kehilangan kasih sayang.

Ilmu yang sedikit tetapi diamalkan dapat lebih berkah daripada pengetahuan luas yang hanya digunakan untuk kesombongan.

Teknologi yang sederhana tetapi membantu banyak manusia dapat lebih berkah daripada teknologi canggih yang digunakan untuk manipulasi.

Dengan demikian, doa Nuh mengajarkan kita untuk tidak hanya meminta “tempat yang baik”, tetapi meminta “kehidupan yang memberi kebaikan.”

Perspektif Nurcholish Madjid

Jika dibaca dalam horizon pemikiran Nurcholish Madjid tentang tauhid, modernitas, dan kemanusiaan, ayat ini dapat memberikan pelajaran bahwa manusia tidak boleh memperlakukan tempat, benda, jabatan, atau simbol duniawi sebagai tujuan absolut.

Tempat hanyalah sarana.

Yang absolut adalah Allah.

Rumah bukan Tuhan.

Negara bukan Tuhan.

Organisasi bukan Tuhan.

Jabatan bukan Tuhan.

Bahkan identitas kelompok bukan Tuhan.

Tauhid membebaskan manusia dari pengultusan terhadap semua yang bersifat duniawi.

Maka ketika seseorang berdoa:

“Wa anta khairul-munzilīn”

ia sedang menyatakan:

“Ya Allah, aku boleh memiliki tempat, tetapi tempat itu tidak boleh memiliki hatiku.”

Ini penting dalam masyarakat modern yang sering mengukur keberhasilan berdasarkan tempat seseorang berada: kota mana, kampus mana, kantor mana, jabatan apa, kendaraan apa, rumah seperti apa.

Islam mengajarkan ukuran yang lebih dalam:

bukan hanya di mana engkau berada, tetapi menjadi manusia seperti apa engkau di tempat itu.

Perspektif Muhammad Sabri AR.

Secara filosofis, ayat ini dapat dibaca sebagai pertanyaan eksistensial:

Di manakah sebenarnya manusia “bertempat”?

Manusia memiliki rumah fisik.

Tetapi manusia juga memiliki “rumah” psikologis dan spiritual.

Ada orang yang tinggal di rumah mewah tetapi hatinya tidak memiliki ketenteraman.

Ada yang hidup sederhana tetapi memiliki ketenangan.

Ada yang berada di tengah keramaian tetapi merasa sendirian.

Ada yang secara fisik jauh dari kampung halaman tetapi merasa dekat dengan Tuhan.

Dalam horizon filosofis-spiritual yang dapat dielaborasi dari pemikiran Muhammad Sabri AR., manusia tidak cukup dipahami hanya melalui lokasi fisiknya. Manusia adalah makhluk pencari makna.

Karena itu, pertanyaan terdalam bukan hanya:

“Di mana aku tinggal?”

Tetapi:

“Di mana hatiku berlabuh?”

Inilah yang membuat doa Nabi Nuh sangat filosofis.

Kapal boleh menjadi tempat sementara.

Darat menjadi tempat berikutnya.

Tetapi hati manusia membutuhkan tempat berlabuh yang lebih dalam:

Allah.

Perspektif Sufistik: Hidup adalah Perjalanan dari Satu “Tempat” ke Tempat Lain

Kisah Nuh adalah kisah perjalanan.

Ada kapal.

Ada air.

Ada badai.

Ada keselamatan.

Ada pendaratan.

Dan ada kehidupan baru.

Bukankah hidup manusia juga demikian?

Kita berpindah dari satu fase ke fase lain:

masa kanak-kanak → remaja → dewasa → tua.

Dari sekolah → kampus → pekerjaan.

Dari lajang → keluarga.

Dari satu kota → kota lain.

Dari satu jabatan → jabatan lain.

Dan akhirnya:

dari dunia → alam akhirat.

Karena itu, manusia sesungguhnya adalah musafir.

Tidak ada tempat dunia yang benar-benar permanen.

Rumah hari ini suatu saat akan kita tinggalkan.

Jabatan akan ditinggalkan.

Kekayaan akan ditinggalkan.

Nama akan ditinggalkan.

Bahkan tubuh akan kita tinggalkan.

Yang menjadi persoalan adalah:

Apakah setiap tempat yang kita singgahi telah kita jadikan tempat yang berkah?

Makna “Barakah” dalam Kehidupan

Keberkahan dapat terlihat dalam berbagai bentuk.

Rumah yang berkah

Bukan rumah yang paling besar, tetapi rumah yang menghadirkan ketenteraman, pendidikan, kasih sayang, dan ibadah.

Ilmu yang berkah

Bukan ilmu yang membuat seseorang merasa paling pintar, tetapi ilmu yang membuatnya semakin rendah hati dan bermanfaat.

Jabatan yang berkah

Bukan jabatan yang membuat seseorang semakin berkuasa, tetapi yang membuat semakin banyak orang merasakan keadilan.

Rezeki yang berkah

Bukan semata-mata banyak, tetapi halal, cukup, bermanfaat, dan tidak menjauhkan dari Allah.

Teknologi yang berkah

Bukan teknologi yang paling canggih, tetapi teknologi yang paling banyak menghadirkan maslahat dan paling sedikit menimbulkan kerusakan.

Relevansi dengan Kehidupan Modern

A. Ketika Manusia Terlalu Sibuk Mencari “Tempat”

Modernitas membuat manusia sangat kompetitif.

Orang ingin masuk kampus terbaik.

Bekerja di institusi terbaik.

Tinggal di kota terbaik.

Memiliki rumah terbaik.

Mendapat jabatan terbaik.

Semua itu tidak salah.

Tetapi Al-Qur’an mengajarkan satu pertanyaan tambahan:

“Apakah tempat terbaik itu juga tempat yang paling berkah bagiku?”

Sebab tidak semua yang tampak baik secara duniawi otomatis baik bagi jiwa.

B. Hijrah dan Perpindahan

Banyak manusia mengalami perpindahan:

  • pindah rumah,
  • pindah pekerjaan,
  • pindah kota,
  • pindah kampus,
  • migrasi,
  • merantau,
  • bahkan memulai kehidupan baru setelah kegagalan.

Doa Nabi Nuh memberikan paradigma:

jangan hanya meminta agar perpindahan berhasil; mintalah agar perpindahan itu diberkahi.

Ada perbedaan antara:

“Aku berhasil pindah.”

dan:

“Perpindahanku membawa kebaikan.”

Yang kedua jauh lebih dalam.

Relevansi dengan Dunia Digital

Hari ini manusia juga memiliki “tempat” digital.

Kita mempunyai:

  • akun media sosial,
  • grup percakapan,
  • ruang kerja virtual,
  • komunitas digital,
  • kanal YouTube,
  • platform pembelajaran,
  • ruang AI.

Pertanyaannya:

  • Apakah ruang digital yang kita tempati adalah “munzalan mubārakan”?
  • Apakah akun kita membawa ilmu
  • Apakah komentar kita membawa kedamaian?
  • Apakah unggahan kita memberi manfaat?
  • Apakah konten kita menjaga kehormatan manusia?
  • Apakah AI kita gunakan untuk pendidikan dan kemaslahatan?

Ataukah ruang digital kita justru menjadi tempat:

  • fitnah,
  • penghinaan,
  • manipulasi,
  • hoaks,
  • kebencian,
  • eksploitasi,
  • dan pamer kehidupan?

Jika demikian, kita perlu merenungkan kembali makna *mubārak*.

Teknologi mungkin modern.

Tetapi belum tentu berkah.

“Digital Home” dan Etika Kehadiran

Media sosial pada zaman ini seperti rumah kedua.

Di sana kita menerima tamu.

Kita berbicara.

Kita memperlihatkan diri.

Kita membentuk identitas.

Maka doa Nabi Nuh dapat menjadi inspirasi etika digital:

“Ya Allah, jadikan ruang digital yang aku masuki sebagai tempat yang berkah.”

Artinya:

  • informasi yang benar;
  • bahasa yang santun;
  • kritik yang adil;
  • konten yang bermanfaat;
  • privasi yang dihormati;
  • teknologi yang digunakan secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, *barakah bukan hanya konsep untuk masjid dan rumah, tetapi juga untuk ruang digital*.

AI dan Pertanyaan tentang Keberkahan*

AI mampu mempercepat pekerjaan manusia.

Tetapi kecepatan tidak identik dengan keberkahan.

AI dapat membuat tulisan lebih cepat.

Tetapi apakah tulisan itu benar?

AI dapat menghasilkan gambar.

Tetapi apakah gambar itu bermartabat?

AI dapat menganalisis data.

Tetapi apakah hasil analisis digunakan secara adil?

AI dapat membantu pendidikan.

Tetapi apakah ia meningkatkan kualitas manusia?

Di sinilah doa:

“Rabbi anzilnī munzalan mubārakan”

dapat diterjemahkan menjadi prinsip etis:

“Ya Allah, tempatkan aku di tengah kemajuan teknologi tanpa kehilangan keberkahan kemanusiaan.”

Teknologi harus menjadi *wasīlah*, bukan tujuan akhir.

Dari “Tempat yang Baik” Menuju “Menjadi Orang yang Membawa Kebaikan”

Ada satu pergeseran makna yang penting.

Sering kali kita berdoa:

“Ya Allah, berikan aku tempat yang baik.”

Tetapi ayat ini dapat mengajarkan pertanyaan yang lebih tinggi:

“Setelah aku ditempatkan di tempat yang baik, apakah aku akan membuat tempat itu menjadi lebih baik?”

Inilah spiritualitas keberkahan.

Bukan hanya menerima berkah.

Tetapi *menjadi pembawa berkah*.

Ketika seorang guru hadir, kelas menjadi lebih hidup.

Ketika seorang pemimpin hadir, institusi menjadi lebih adil.

Ketika seorang ilmuwan hadir, ilmu menjadi lebih bermanfaat.

Ketika seorang ulama hadir, masyarakat menjadi lebih teduh.

Ketika seorang pengguna teknologi hadir, ruang digital menjadi lebih sehat.

Itulah manusia yang mubārak—kehadirannya membawa kebaikan.

Tiga Pelajaran Besar dari Doa Nabi Nuh

Pertama: Setelah keselamatan, jangan lupa berdoa

Nuh telah diselamatkan, tetapi tetap berdoa.

Ini mengajarkan bahwa setiap fase baru membutuhkan pertolongan Allah.

Kedua: Jangan hanya mencari tempat, carilah keberkahan*

Tempat yang bagus belum tentu berkah.

Keberkahan adalah ketika tempat itu menjadi ruang tumbuhnya kebaikan.

Ketiga: Allah adalah sebaik-baik pemberi tempat

Manusia berusaha memilih.

Allah mengetahui keseluruhan perjalanan.

Karena itu:

ikhtiar + doa + tawakal.

Doa untuk Setiap Perjalanan Hidup

Doa Nabi Nuh ini dapat menjadi renungan ketika kita:

  • pindah rumah;
  • merantau;
  • memulai pekerjaan;
  • memasuki kampus;
  • membuka usaha;
  • memulai keluarga;
  • memulai kepemimpinan;
  • memasuki fase kehidupan baru.

Bukan sekadar:

“Ya Allah, mudahkan.”

Tetapi:

“Ya Allah, jadikan kemudahan ini berkah.”

Sebab sesuatu yang mudah belum tentu baik.

Dan sesuatu yang sulit belum tentu buruk.

Yang kita butuhkan adalah keberkahan dalam perjalanan dan tempat yang Allah pilihkan.

Penutup: Bukan Sekadar Di Mana Kita Tinggal

QS. Al-Mu’minūn [23]:29 mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain.

Nabi Nuh pernah berada di tengah banjir.

Kemudian berada di atas kapal.

Lalu turun ke daratan.

Tetapi setiap perpindahan itu berada di bawah kehendak Allah.

Demikian pula hidup kita.

Kita berpindah dari satu ruang ke ruang yang lain.

Dari rumah ke kantor.

Dari kampus ke masyarakat.

Dari dunia nyata ke dunia digital.

Dari masa muda menuju usia tua.

Dan akhirnya dari dunia menuju akhirat.

Maka doa Nabi Nuh menjadi doa yang sangat relevan:

رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا

Rabbi anzilnī munzalan mubārakan.

“Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi.”

Bukan sekadar meminta tempat yang nyaman, tetapi tempat yang melahirkan kebaikan.

Bukan sekadar meminta kesuksesan, tetapi kesuksesan yang berkah.

Bukan sekadar meminta rumah, tetapi rumah yang menjadi ruang tumbuhnya cinta.

Bukan sekadar meminta jabatan, tetapi amanah yang memberi manfaat.

Bukan sekadar meminta teknologi, tetapi kemampuan menggunakannya untuk kemaslahatan.

Dan bukan sekadar meminta tempat di dunia, tetapi memohon agar seluruh perjalanan dunia menjadi jalan menuju tempat kembali yang diridai Allah.

Sebab pada akhirnya, persoalan terpenting bukan:

“Di mana aku berada?”

Tetapi:

“Apa yang terjadi pada diriku dan orang lain karena aku berada di sana?”

Dan mungkin itulah makna terdalam dari munzalan mubārakan:

Jadilah manusia yang ketika ditempatkan di suatu tempat, tempat itu menjadi sedikit lebih baik karena kehadiranmu.

Karena Allah adalah sebaik-baik pemberi tempat, dan manusia beriman dipanggil untuk menjadikan setiap tempat yang ia singgahi sebagai ruang tumbuhnya keberkahan.

Sulawesi Tenggara—29 September 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda

‎Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement