Opinions

Air Mata, Rahmat, dan Jalan Pulang: Membaca QS.2:157

Rahmat
‎Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag., Akademisi UIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI, Jumat (02/10/2026). Foto Ist

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.

(Dosen Sejarah Pemikiran Islam Pascasarjana UIN Kendari) 

INSAN.NEWS || Kendari—Teks Ayat أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Latin:

Ulā”ika ‘alaihim ṣalawātum mir rabbihim wa raḥmah, wa ulā”ika humul-muhtadūn.

Zig-Zag di Langit Nusantara

Terjemah:

“Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ayat ini tidak berdiri sendiri. Ia merupakan penutup rangkaian tiga ayat yang sangat erat:

QS. Al-Baqarah [2]:155

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

KETIKA FAKTA DITEMUKAN, TETAPI PUTUSAN TIDAK MENEMUKANNYA

“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

QS. Al-Baqarah [2]:156

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”

Kemudian ayat 157 memberikan jawabannya:

Kadisdik Makassar Achi Soleman: Investasi Terbesar Hari Ini adalah Pendidikan

صَلَوَاتٌ مِّنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Mereka memperoleh ṣalawāt dari Tuhan, rahmat, dan petunjuk.

Dengan demikian, struktur maknanya sangat indah:

ujian → sabar → istirjā‘ → ṣalawāt → raḥmah → hidāyah.

Konteks Ayat: Kehidupan Memang Sebuah Ujian

Allah terlebih dahulu mengatakan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم

Wa lanabluwannakum “Kami pasti akan menguji kamu.”

Kata : نَبْلُوَنَّكُمْ* (_nabluwannakum_) berasal dari akar kata: ب ل و (balā’),  yang bermakna menguji, mencoba, atau menampakkan kualitas sesuatu melalui ujian.

Yang menarik, Allah tidak mengatakan manusia mungkin diuji. Allah menggunakan bentuk penegasan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ

“Kami sungguh-sungguh pasti akan menguji kalian.”

Ujian adalah bagian dari sunnatullah kehidupan.

Bentuknya pun beragam: ketakutan, kelaparan, kehilangan harta, kehilangan orang yang dicintai, penyakit, kegagalan, kehilangan pekerjaan, keretakan hubungan, dan berbagai bentuk kekurangan.

Kementerian Agama menjelaskan rangkaian ayat ini sebagai gambaran kehidupan manusia yang memang penuh cobaan.

Orang sabar adalah mereka yang ketika mengalami musibah mengucapkan innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn, sebagai pengakuan bahwa seluruh yang dimiliki manusia pada hakikatnya milik Allah dan kepada-Nya manusia akan kembali.

Maka Al-Qur’an tidak menjanjikan kehidupan tanpa masalah.

Al-Qur’an mengajarkan bagaimana manusia menemukan orientasi ketika masalah datang.

Apa Makna “Ṣalawāt” dari Allah?

Kata pertama yang sangat penting adalah:

صَلَوَاتٌ

Ṣalawāt

Ini bukan sekadar “selawat” dalam pengertian yang biasa kita gunakan ketika berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Ketika Allah melakukan ṣalāt kepada hamba-Nya, maknanya tentu berbeda dari ṣalāt manusia kepada Allah.

Para ulama memberikan beberapa penjelasan.

Al-Ṭabari

Al-Ṭabari menjelaskan bahwa ṣalawāt Allah kepada mereka bermakna maghfirah, ampunan Allah.

Beliau juga menghubungkannya dengan pujian Allah terhadap orang-orang yang sabar. Setelah itu Allah memberikan rahmat kepada mereka dan menjadikan mereka termasuk orang-orang yang memperoleh jalan petunjuk.

Al-Qurṭubi

Al-Qurṭubi menjelaskan bahwa _ṣalāt Allah kepada hamba_ dapat bermakna ampunan, rahmat, keberkahan, serta pemuliaan Allah kepada hamba-Nya di dunia dan akhirat. Ia juga mengutip penjelasan bahwa ṣalāt mengandung makna pujian yang baik.

Ibn Kathir

Ibn Kathir menjelaskan ṣalawāt dalam ayat ini sebagai pujian dari Allah kepada mereka dan rahmat-Nya. Dengan demikian, orang yang sabar tidak hanya mendapatkan kompensasi pahala, tetapi mendapatkan perhatian dan pujian dari Allah.

Ini sebuah pesan spiritual yang sangat dalam:

Ketika manusia merasa dirinya hancur karena musibah, Allah justru dapat mengangkat derajatnya melalui kesabarannya.

Musibah tidak selalu berarti Allah sedang menjauh.

Kadang-kadang justru dalam musibah manusia sedang dipanggil untuk lebih dekat kepada-Nya.

Mengapa “Ṣalawāt” Didahulukan Sebelum “Raḥmah”?

Ayat mengatakan:

صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ

“Ṣalawāt dari Tuhan mereka dan rahmat.”

Secara filosofis, ada lapisan makna yang indah.

Ṣalawāt dapat dipahami sebagai bentuk penghormatan, pujian, pengampunan, dan perhatian ilahi.

Sedangkan raḥmah adalah limpahan kasih sayang Allah.

Seolah-olah Al-Qur’an ingin mengatakan:

Orang yang mampu menghadapi penderitaan dengan iman tidak hanya “bertahan”; ia sedang berada dalam ruang perhatian Allah.

Inilah yang membedakan sabar Qur’ani dengan sekadar kemampuan menahan sakit.

Sabar bukan berarti tidak menangis.

Sabar bukan berarti tidak merasa sedih.

Sabar bukan berarti tidak boleh mencari pertolongan.

Sabar adalah tidak kehilangan Allah ketika kehilangan sesuatu selain Allah

“Raḥmah”: Musibah Tidak Berarti Allah Meninggalkan Kita

Allah melanjutkan:

وَرَحْمَةٌ

Wa raḥmah “dan rahmat.”

Kata raḥmah berasal dari akar ر ح م, yang berkaitan dengan kasih sayang, kelembutan, dan perhatian.

Karena itu, seseorang yang sedang mengalami musibah tidak boleh langsung menyimpulkan:

“Allah tidak sayang kepada saya.”

Ayat ini justru memberikan perspektif berbeda.

Musibah bisa menjadi ruang tempat rahmat Allah hadir dalam bentuk yang tidak selalu segera kita pahami.

Kadang rahmat hadir sebagai kesembuhan.

Kadang sebagai kekuatan untuk bertahan.

Kadang sebagai seseorang yang datang menolong.

Kadang sebagai kesadaran baru.

Kadang sebagai pertobatan.

Kadang sebagai kemampuan menerima kenyataan.

Dan kadang manusia baru memahami makna rahmat itu setelah bertahun-tahun berlalu.

Puncaknya: “وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ”

Bagian terakhir ayat sangat menarik:

وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Allah tidak mengatakan hanya:

“Mereka memperoleh pahala.”

Tetapi:

هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ini berarti ujian bukan hanya persoalan berapa besar penderitaan yang kita tanggung, tetapi ke mana penderitaan itu membawa kita.

Ada orang yang mengalami musibah lalu semakin dekat kepada Allah.

Ada pula orang yang mengalami musibah lalu semakin jauh dari Allah.

Peristiwa yang sama dapat menghasilkan perjalanan spiritual yang berbeda.

Karena itu, ukuran keberhasilan menghadapi musibah bukan hanya:

“Apakah masalah saya sudah selesai?”

Tetapi:

“Apakah saya menjadi manusia yang lebih dekat kepada Allah setelah melewati masalah itu?”

Makna “إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ”

Ayat 156 menjadi pintu masuk menuju ayat 157:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”

Kalimat ini disebut istirjā‘.

Ia bukan sekadar kalimat yang diucapkan ketika seseorang meninggal.

Maknanya jauh lebih luas.

إِنَّا لِلَّهِ

“Kita adalah milik Allah.”

Artinya:

  • Tubuh kita milik Allah.
  • Orang tua kita milik Allah.
  • Anak-anak kita milik Allah.
  • Harta kita milik Allah.
  • Jabatan kita milik Allah.
  • Ilmu kita milik Allah.
  • Bahkan kehidupan kita sendiri adalah amanah Allah.

Kemudian:

وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Dan kepada-Nya kita kembali.”

Jadi manusia berada di antara dua kesadaran:

  • dari Allah — kepada Allah.
  • Dari sinilah lahir ketenangan spiritual.

Pandangan Ulama Klasik: Sabar Bukan Pasif

Al-Ṭabari menekankan bahwa orang yang memperoleh ṣalawāt, rahmat, dan hidayah adalah mereka yang berserah kepada Allah ketika musibah dan mengembalikan urusan kepada-Nya.

Al-Qurṭubi juga menjelaskan bahwa rangkaian tersebut merupakan karunia Allah kepada orang-orang yang sabar dan melakukan istirjā‘.

Ia mengutip perkataan Umar bin al-Khattab رضي الله عنه yang menggambarkan ṣalawāt dan rahmat sebagai dua anugerah utama, sedangkan hidayah sebagai tambahan yang menyempurnakannya.

Sementara Ibn Kathir menekankan bahwa orang-orang tersebut mendapatkan pujian dan rahmat dari Allah, kemudian memperoleh hidayah.

Jadi sabar dalam Al-Qur’an bukan sikap menyerah tanpa usaha.

Sabar adalah kemampuan mempertahankan orientasi kepada Allah sambil tetap melakukan ikhtiar.

Pandangan Kontemporer Indonesia

A. Kementerian Agama

Tafsir Kemenag menekankan bahwa ucapan innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn menunjukkan kepasrahan kepada Allah sekaligus keyakinan bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia adalah milik-Nya dan manusia akan kembali kepada-Nya. Orang yang demikian memperoleh ampunan, rahmat, dan petunjuk.

B. M. Quraish Shihab

Dalam penjelasan _Tafsir Al-Mishbah_, Quraish Shihab menerjemahkan _ṣalawāt_ dalam ayat ini dengan nuansa keberkahan yang sempurna dan beragam, sementara raḥmah menunjuk pada karunia Allah.

Ringkasan tafsirnya menegaskan bahwa orang yang sabar dan beriman memperoleh pengampunan dan karunia Tuhan serta petunjuk menuju jalan kebaikan dan kebenaran.

Ada kedalaman filosofis di sini: keberkahan tidak selalu berarti bertambahnya sesuatu secara kuantitatif. Sesuatu bisa sedikit secara jumlah tetapi besar manfaatnya.

C. Buya Hamka

Dalam _Tafsir Al-Azhar_, sebagaimana terjemahan yang tersedia untuk ayat ini, ṣalawāt dipahami sebagai anugerah-anugerah Allah dan rahmat-Nya, yang kemudian berkaitan dengan petunjuk.

Dalam pembacaan etis atas konsep sabar, pesan pentingnya adalah bahwa manusia tidak boleh dikalahkan oleh keadaan. Kesabaran harus melahirkan keteguhan jiwa dan orientasi hidup yang benar.

Sabar Bukan Berarti Tidak Boleh Menangis

Ini penting.

Nabi Ya’qub menangis karena kehilangan Yusuf.

Nabi Ayyub mengadukan penderitaannya kepada Allah.

Nabi Muhammad ﷺ menangis ketika kehilangan orang yang dicintai.

Maka:

menangis bukan lawan sabar.

Yang menjadi persoalan adalah ketika kesedihan membuat manusia:

  • berputus asa dari rahmat Allah;
  • menyalahkan Allah;
  • melakukan kezaliman;
  • menghancurkan dirinya;
  • atau kehilangan orientasi moral.

Sabar berarti:

Air mata boleh jatuh, tetapi iman tidak boleh ikut jatuh.

Dimensi Sufistik: Musibah sebagai Jalan Pulang

Dalam perspektif sufistik, manusia sering merasa memiliki dunia.

Padahal ayat 156 mengembalikan kesadaran itu:

إِنَّا لِلَّهِ

“Kita milik Allah.”

Kemudian:

  • وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
  • “Kita akan kembali kepada-Nya.”
  • Maka hidup manusia adalah sebuah perjalanan.
  • Kita datang tanpa membawa apa-apa.
  • Kita hidup dengan menerima amanah.
  • Kemudian kita meninggalkan semuanya.
  • Yang dibawa bukan rumah.
  • Bukan jabatan.
  • Bukan rekening.
  • Bukan jumlah pengikut.
  • Bukan popularitas.
  • Tetapi amal dan keadaan hati ketika kembali kepada Allah.

Karena itu, musibah terkadang menjadi guru spiritual yang sangat keras tetapi sangat jujur.

Ia mengajarkan:

“Apa yang selama ini engkau kira milikmu ternyata hanya titipan.”

Relevansi dengan Kehidupan Modern

Manusia modern memiliki banyak kemudahan, tetapi bukan berarti bebas dari ujian.

Bentuk ujian berubah.

Dahulu orang takut kehilangan hasil panen.

Hari ini seseorang mungkin takut kehilangan pekerjaan.

Dahulu seseorang kehilangan surat atau berita.

Hari ini seseorang kehilangan data digital.

Dahulu seseorang berhadapan dengan fitnah di pasar.

Hari ini fitnah dapat menyebar ke jutaan orang melalui media sosial.

Tetapi struktur persoalannya sama:

manusia diuji dengan sesuatu yang dicintainya.

Sabar di Era Media Sosial

Media sosial menciptakan budaya serba cepat.

Kita ingin:

  • jawaban cepat;
  • kesuksesan cepat;
  • popularitas cepat;
  • kekayaan cepat;
  • respons cepat;
  • pengakuan cepat.
  • Akibatnya, manusia semakin sulit menerima proses.

Padahal sabar adalah kemampuan untuk berkata:

“Tidak semua hal harus selesai hari ini.”

Sabar mengajarkan kedalaman di tengah budaya kecepatan.

Ketika unggahan kita tidak mendapatkan respons, jangan langsung merasa diri tidak berharga.

Ketika orang lain tampak lebih sukses, jangan langsung merasa hidup kita gagal.

Ketika algoritma membuat kita terus membandingkan kehidupan, ingat:

Algoritma hanya memperlihatkan potongan kehidupan orang lain; Allah mengetahui seluruh perjalanan hidup kita.

“Innā Lillāh” di Tengah Budaya Kepemilikan Digital

Era digital juga melahirkan bentuk kepemilikan baru:

  • akun;
  • pengikut;
  • konten;
  • reputasi;
  • data;
  • foto;
  • arsip;
  • karya intelektual.

Tetapi QS. Al-Baqarah [2]:156 mengajarkan paradigma berbeda:

Innā lillāh.

Semua itu tetap berada dalam batas amanah.

Karena itu, seorang muslim tidak boleh memperlakukan kekuasaan digital secara absolut.

Ia harus bertanya:

Apakah konten saya bermanfaat?

Apakah informasi saya benar?

Apakah saya sedang merusak kehormatan orang lain?

Apakah saya menggunakan teknologi sebagai alat kebaikan atau sebagai sarana memuaskan ego?

Sabar Menghadapi “Musibah Digital”

Ada bentuk-bentuk penderitaan yang khas zaman digital:

  • cyberbullying;
  • penghinaan publik;
  • penyebaran hoaks;
  • doxing;
  • pencemaran nama baik;
  • kehilangan privasi;
  • kegagalan bisnis akibat reputasi digital;
  • kecanduan media sosial;
  • tekanan membandingkan diri dengan orang lain.

Dalam situasi seperti ini, QS. Al-Baqarah [2]:157 menawarkan tiga tahap:

Pertama: Ṣalawāt

Bangun kembali kesadaran bahwa Allah mengetahui penderitaan kita.

Kedua: Raḥmah

Jangan membalas luka dengan menciptakan luka baru.

Ketiga: Hidāyah

Cari jalan keluar yang benar, rasional, dan bermartabat.

Jadi sabar bukan berarti diam terhadap kezaliman.

Seseorang tetap boleh mencari bantuan hukum, melapor kepada pihak yang berwenang, melakukan fact-checking, mengamankan akun, membatasi akses, dan mengambil langkah perlindungan.

Yang dijaga adalah agar perjuangan tersebut tidak berubah menjadi kezaliman baru.

AI dan Ujian Kesabaran Manusia

Kecerdasan buatan membuat manusia semakin terbiasa mendapatkan sesuatu secara instan.

Kita dapat meminta AI:

  • menulis;
  • menerjemahkan;
  • menganalisis;
  • mencari informasi;
  • membuat gambar;
  • menyusun ide.

Tetapi ada sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh mesin:

kematangan jiwa.

AI dapat memberikan jawaban dalam beberapa detik.

Tetapi manusia tetap membutuhkan waktu untuk menjadi bijaksana.

AI dapat menghasilkan teks.

Tetapi ia tidak dapat menggantikan proses manusia dalam membentuk ṣabr, tawakkal, keikhlasan, dan tanggung jawab moral.

Karena itu, teknologi seharusnya mempercepat pekerjaan manusia, bukan menghilangkan proses pembentukan manusia.

Dari “Musibah” Menuju “Hidayah

Inilah inti filosofis ayat.

Allah tidak mengatakan:

“Mereka tidak mengalami musibah.”

Tidak.

Mereka tetap mengalami musibah.

Tetapi musibah itu menghasilkan:

ṣalawāt → raḥmah → hidāyah.

Dengan demikian, pertanyaan seorang mukmin bukan hanya:

“Mengapa Allah memberikan musibah ini?”

Tetapi juga:

“Apa yang Allah ingin ajarkan kepada saya melalui musibah ini?”

Pertanyaan kedua mengubah posisi manusia.

Dari korban keadaan menjadi pencari makna.

Dari sekadar bertanya:

“Mengapa saya?”

menjadi:

“Untuk apa saya melewati semua ini?”

Di situlah musibah mulai berubah menjadi pendidikan spiritual.

Tiga Kesadaran Besar QS. Al-Baqarah [2]:157.

Ayat ini dapat diringkas dalam tiga kesadaran.

1. Kesadaran kepemilikan

إِنَّا لِلَّهِ

Aku milik Allah.

Maka jangan terlalu sombong ketika mendapatkan sesuatu.

2. Kesadaran perjalanan

وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Aku akan kembali kepada Allah.

Maka jangan terlalu hancur ketika kehilangan sesuatu.

3. Kesadaran petunjuk

وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Aku harus mencari petunjuk dalam setiap keadaan.

Maka jangan sia-siakan pengalaman hidup.

Kesimpulan: Ketika Musibah Menjadi Jalan Pulang

QS. Al-Baqarah [2]:157 bukan sekadar ayat tentang kesabaran.

Ia adalah peta spiritual manusia ketika berhadapan dengan kehilangan.

Ayat 155 mengajarkan:

Ujian adalah keniscayaan.

Ayat 156 mengajarkan:

Kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Ayat 157 memberikan kabar gembira:

Allah memberikan ṣalawāt, rahmat, dan petunjuk kepada mereka yang bersabar.

Karena itu, seorang mukmin tidak harus menjadi manusia yang tidak pernah terluka.

Ia hanya perlu menjadi manusia yang tidak kehilangan arah ketika terluka.

Musibah boleh mengguncang kehidupan, tetapi jangan biarkan ia mengguncang tauhid.

Kehilangan boleh membuat air mata jatuh, tetapi jangan biarkan air mata menghapus harapan.

Dunia boleh berubah, tetapi orientasi kepada Allah jangan berubah.

Dan ketika sesuatu yang kita cintai pergi, kalimat innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn mengembalikan kita kepada hakikat:

kita datang dari Allah, hidup dalam amanah-Nya, dan akhirnya pulang kepada-Nya.

Maka sabar bukan sekadar kemampuan bertahan.

Sabar adalah cara jiwa menemukan jalan pulang kepada Tuhan.

Dan barangkali inilah rahasia terdalam ayat tersebut:

Musibah tidak selalu datang untuk menghancurkan manusia. Kadang ia datang untuk melepaskan manusia dari sesuatu yang membuatnya lupa kepada Allah.

Ketika manusia mampu melewati ujian dengan iman, kesabarannya memperoleh ṣalawāt, hidupnya disentuh raḥmah, dan langkahnya diarahkan oleh hidāyah.

  • Dari musibah menuju sabar.
  • Dari sabar menuju rahmat.
  • Dari rahmat menuju hidayah.
  • Dan dari hidayah menuju Allah.

Sulawesi Tenggara—02 Oktober 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda

‎Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement