Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Direktur Pusat Studi Pancasila dan Konstitusi UIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI)
INSAN.NEWS || Kendari—QS. Āli ‘Imrān [3]:27 merupakan ayat yang sangat kaya secara teologis dan filosofis. Ia berbicara tentang pergantian malam dan siang, keluarnya kehidupan dari kematian, serta rezeki Allah yang tidak terbatas.
Jika dibaca bersama ayat 26, ayat ini juga mengajarkan bahwa kekuasaan, perubahan, kehidupan, dan rezeki semuanya berada dalam tata kelola Allah, tetapi berlangsung melalui hukum-hukum yang Dia tetapkan.
Teks Ayat:
تُولِجُ الَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۖ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ ۖ وَتَرْزُقُ مَن تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Latin:
_Tūlijul-laila fin-nahāri wa tūlijun-nahāra fil-laili, wa tukhrijul-ḥayya minal-mayyiti wa tukhrijul-mayyita minal-ḥayyi, wa tarzuqu man tasyā’u bighairi ḥisāb_.
Terjemah Kemenag:
“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.”
Ayat ini berada dalam rangkaian QS. Āli ‘Imrān [3]:26–27.
Ayat 26 menyatakan:
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ…
“Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki…”
Kemudian ayat 27 menunjukkan tanda-tanda kekuasaan itu dalam *alam, kehidupan, dan rezeki*.
Dengan demikian, ada kesinambungan:
kekuasaan → perubahan → kehidupan → rezeki.
Munāsabah: Dari Kekuasaan kepada Siklus Kehidupan
Ayat 26 berbicara tentang al-mulk, kerajaan atau kekuasaan.
Ayat 27 kemudian membawa manusia keluar dari ruang politik dan kekuasaan menuju ruang kosmik:
- malam dan siang;
- hidup dan mati;
- rezeki dan kebutuhan manusia.
Seolah-olah Al-Qur’an mengajarkan:
Kekuasaan Allah tidak hanya terlihat dalam pergantian penguasa, tetapi juga dalam pergantian malam dan siang, lahirnya kehidupan, dan mengalirnya rezeki.
Kemenag menjelaskan ayat ini sebagai rangkaian bukti kekuasaan Allah dalam perubahan alam dan kehidupan. Perubahan siang dan malam berjalan menurut hukum yang ditetapkan Allah; demikian pula kehidupan muncul melalui proses-proses yang Dia tetapkan.
Maka ayat ini bukan sekadar ayat tentang rezeki.
Ia adalah ayat tentang *keteraturan kosmos di bawah kehendak Tuhan*.
“تُولِجُ” — Allah Memasukkan Malam ke dalam Siang
Kata pertama yang perlu diperhatikan:
تُولِجُ
Takjil.
Artinya: Engkau memasukkan.
Kata ini berasal dari akar:
وَلَجَ – يَلِجُ
yang berarti masuk.
Al-Ṭabari menjelaskan bahwa _tūliju_ bermakna memasukkan sebagian waktu malam ke dalam siang dan sebagian waktu siang ke dalam malam. Dengan demikian, panjang-pendek siang dan malam berubah secara teratur.
Ibn Kathir juga menjelaskan bahwa sebagian waktu dari satu fase dimasukkan ke fase lainnya sehingga panjang keduanya berubah sesuai musim.
Di sini terdapat pelajaran filosofis:
- Tidak ada keadaan dunia yang benar-benar statis.
- Malam bergerak menuju siang.
- Siang bergerak menuju malam.
- Musim berubah.
- Waktu bergerak.
- Manusia lahir, tumbuh, tua, kemudian mati.
- Kekuasaan naik dan turun.
- Kejayaan datang dan pergi.
- Kesulitan berganti kemudahan.
- Itulah sunnatullah kehidupan.
Malam dan Siang: Filsafat Perubahan
- Malam dan siang bukan dua realitas yang saling menghancurkan.
- Keduanya justru membentuk keteraturan kehidupan.
- Malam menyediakan ruang untuk istirahat.
- Siang menyediakan ruang untuk aktivitas.
- Karena itu, kehidupan tidak mungkin dibangun hanya dengan satu keadaan.
Manusia membutuhkan:
- aktivitas dan istirahat,
- usaha dan jeda,
- ikhtiar dan kontemplasi,
- lahir dan batin.
Dalam bahasa sufistik, manusia membutuhkan siang untuk bergerak dan malam untuk kembali ke dalam diri.
- Ada saat manusia harus bekerja.
- Ada saat manusia harus diam.
- Ada saat manusia harus berbicara.
- Ada saat manusia harus mendengarkan.
- Ada saat manusia harus mengejar dunia.
Ada saat manusia harus bertanya:
Untuk apa semua yang sedang saya kejar?
Malam dan Siang dalam Kehidupan Modern
Manusia modern sering ingin hidup tanpa “malam”.
Semua harus aktif 24 jam:
- pekerjaan;
- bisnis;
- media sosial;
- pesan instan;
- berita;
- perdagangan;
- hiburan;
- informasi.
Smartphone membuat siang seolah tidak pernah berakhir.
- Notifikasi terus berbunyi.
- Pesan terus masuk.
- Informasi terus mengalir.
Padahal Al-Qur’an mengingatkan bahwa Allah menciptakan siklus
- Ada waktu bergerak.
- Ada waktu berhenti.
- Ada waktu berbicara.
- Ada waktu hening.
Karena itu, salah satu bentuk _tadabbur_ terhadap QS. Āli ‘Imrān [3]:27 pada zaman digital adalah belajar kembali menghormati batas waktu.
- Tidak semua notifikasi harus dijawab.
- Tidak semua informasi harus dikonsumsi.
- Tidak semua perdebatan harus diikuti.
- Tidak semua tren harus dikejar.
Manusia membutuhkan malam agar jiwanya tidak terbakar oleh siang yang tak pernah berakhir.
“وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ”
Kemudian Allah berfirman:
وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ
“Engkau mengeluarkan yang hidup dari yang mati.”
Ini adalah salah satu ungkapan Al-Qur’an yang sangat kaya.
Para mufasir memberikan beberapa contoh.
Ibn Kathir menyebut antara lain:
- tumbuhan dari biji;
- biji dari tumbuhan;
- pohon kurma dari biji;
- biji dari pohon;
- ayam dari telur;
- telur dari ayam;
dan juga dalam makna spiritual:
- orang beriman dari orang kafir;
- orang kafir dari orang beriman.
Kemenag juga menjelaskan bahwa “hidup” dan “mati” dapat dipahami secara fisik maupun maknawi, termasuk iman dan kekufuran, ilmu dan kebodohan.
- Dari Biji yang Mati Tumbuh Kehidupan
- Bayangkan sebutir biji.
- Ia tampak kecil.
- Kering.
- Diam.
- Bahkan secara kasat mata seperti tidak memiliki kehidupan.
Tetapi ketika bertemu tanah, air, udara, dan kondisi yang tepat, ia tumbuh menjadi kehidupan.
Dari sesuatu yang tampak mati, Allah keluarkan kehidupan.
Ini mengajarkan bahwa:
- Apa yang tampak sebagai akhir bagi manusia belum tentu merupakan akhir menurut Allah.
- Kegagalan bisa menjadi awal.
- Kehilangan bisa menjadi pembelajaran.
- Keterpurukan bisa menjadi titik balik.
- Keterbatasan bisa melahirkan kreativitas.
- Krisis bisa melahirkan perubahan.
- “وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ”
Tetapi Allah juga mengatakan sebaliknya:
- وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ
- “Dan Engkau mengeluarkan yang mati dari yang hidup.”
- Ada kehidupan yang melahirkan sesuatu yang tampak mati.
Ibn Kathir memberi contoh telur dari ayam dan biji dari tanaman.
Secara filosofis, ayat ini menunjukkan bahwa Allah mengatur transformasi dan siklus.
- Tidak ada sesuatu yang berdiri sendiri.
- Ada proses.
- Ada hubungan.
- Ada sebab.
- Ada akibat.
- Tetapi di atas semua sebab itu terdapat kehendak dan hikmah Allah.
Hidup dan Mati: Makna Fisik dan Spiritual
Al-Qur’an tidak menggunakan “hidup” dan “mati” hanya dalam pengertian biologis.
Allah berfirman dalam ayat lain:
أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ
“Apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan…”
(QS. Al-An‘ām [6]:122)
Konteks ayat tersebut berkaitan dengan iman dan cahaya petunjuk.
Karena itu seseorang bisa:
- hidup secara biologis tetapi mati secara spiritual.
- Ia memiliki tubuh yang bergerak, tetapi hatinya kehilangan orientasi.
- Ia memiliki banyak informasi, tetapi kehilangan hikmah.
- Ia memiliki ribuan pengikut, tetapi kehilangan hubungan dengan Tuhan.
- Ia sangat aktif di dunia digital, tetapi sangat jauh dari kehidupan batinnya.
- Inilah salah satu problem manusia modern.
Kehidupan Digital: “Hidup” Tidak Sama dengan “Online”
Kita perlu membedakan:
online dan alive.
Seseorang bisa selalu online tetapi tidak benar-benar hidup secara spiritual.
Ia:
- membaca ribuan komentar;
- melihat ribuan video;
- mengikuti banyak akun;
- mengetahui banyak berita;
tetapi mungkin tidak pernah bertanya:
- Bagaimana keadaan hatiku?
- Teknologi memperbesar akses manusia terhadap informasi.
- Tetapi informasi tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan.
Karena itu, QS. Āli ‘Imrān [3]:27 dapat dibaca sebagai panggilan untuk mencari kehidupan batin di tengah kelimpahan informasi.
“وَتَرْزُقُ مَن تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ”
Bagian terakhir adalah:
وَتَرْزُقُ مَن تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Dan Engkau memberikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.”
- Inilah puncak ayat.
- Allah bukan hanya mengatur waktu.
- Allah bukan hanya mengatur kehidupan.
- Allah juga mengatur rezeki.
Tetapi apa maksudnya:
بِغَيْرِ حِسَابٍ — tanpa perhitungan?
Para mufasir menjelaskannya dengan makna keluasan dan ketakterbatasan karunia Allah.
Ibn Kathir menjelaskan bahwa Allah memberikan kepada sebagian manusia rezeki yang tidak dapat dihitung atau diukur, sementara Dia membatasi sebagian yang lain berdasarkan hikmah, kehendak, dan keadilan-Nya.
Kemenag juga menegaskan bahwa Allah memberikan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, baik kepada orang yang taat maupun tidak, sesuai kehendak dan hikmah-Nya.
Ini penting:
- rezeki bukan ukuran sederhana tentang siapa yang paling dicintai Allah.
Kaya Bukan Selalu Tanda Kemuliaan
Jika kekayaan otomatis berarti Allah paling mencintai seseorang, maka semua orang kaya pasti paling mulia.
Tetapi Al-Qur’an tidak mengajarkan demikian.
Demikian pula kemiskinan bukan otomatis tanda bahwa Allah membenci seseorang.
Rezeki adalah bagian dari ujian.
- Yang kaya diuji:
- Apakah ia bersyukur?
- Yang miskin diuji:
- Apakah ia tetap menjaga kehormatan dan kesabaran?
- Yang berkuasa diuji:
- Apakah ia adil?
- Yang berilmu diuji:
- Apakah ilmunya menjadi manfaat?
- Yang memiliki teknologi diuji:
- Untuk apa teknologi itu digunakan?
Quraish Shihab: Rezeki dalam Kerangka Hukum Sebab-Akibat
Dalam penjelasan Quraish Shihab yang terhimpun pada _Tafsir Al-Mishbah_, ayat ini tidak berarti bahwa perubahan alam berlangsung secara acak.
Allah memasukkan malam dan siang *dengan hukum sebab-akibat yang Dia tetapkan*, dan pemberian rezeki pun berlangsung sejalan dengan kebijaksanaan-Nya.
Ini penting untuk memahami hubungan:
- tawakal ≠ pasrah tanpa usaha.
- Allah adalah pemberi rezeki.
- Tetapi manusia diperintahkan menempuh sebab.
Karena itu, seorang muslim tidak boleh berkata:
“Allah sudah menentukan rezeki, jadi saya tidak perlu bekerja.”
Justru karena Allah menciptakan sunnatullah, manusia diperintahkan berikhtiar melalui sebab-sebab yang tersedia.
Buya Hamka: “Tidak Berkira”
Hamka menerjemahkan bagian akhir ayat:
وَتَرْزُقُ مَن تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
dengan nuansa:
“Engkau memberi rezeki siapa yang Engkau kehendaki dengan tidak berkira.”
Ungkapan “tidak berkira” mengandung rasa spiritual yang menarik.
Manusia sering berpikir dengan kalkulator:
“Kalau saya memberi, apa yang saya dapat?”
Allah mengajarkan manusia keluar dari kalkulasi sempit itu.
Sebab kehidupan sendiri adalah pemberian yang tidak pernah mampu kita bayar.
Kita tidak membeli:
- udara;
- detak jantung;
- kemampuan berpikir;
- kasih sayang;
- kesempatan hidup;
- waktu.
- Semuanya datang sebagai karunia.
Quraish Shihab dan Makna “Tanpa Batas”
Quraish Shihab menerjemahkan:
- بِغَيْرِ حِسَابٍ
dengan nuansa:
- “tanpa batas.”
Ini membuka pemahaman bahwa rezeki Allah tidak selalu dapat dimasukkan ke dalam kalkulasi manusia.
- Manusia menghitung uang.
- Allah memberi kesempatan.
- Manusia menghitung keuntungan.
- Allah memberi kesehatan.
- Manusia menghitung aset.
- Allah memberi waktu.
- Manusia menghitung penghasilan.
- Allah memberi kemampuan untuk menikmati kehidupan.
- Maka rezeki jauh lebih luas daripada uang.
Rezeki Bukan Hanya Materi
Dalam perspektif Qur’ani, rezeki dapat berupa:
- harta;
- ilmu;
- kesehatan;
- keluarga;
- sahabat;
- kesempatan;
- keamanan;
- ketenangan;
- kemampuan berkarya;
- iman;
- waktu;
- bahkan kemampuan untuk kembali kepada Allah setelah tersesat.
Karena itu, seseorang bisa memiliki banyak uang tetapi miskin ketenangan.
Sebaliknya, seseorang dapat memiliki harta yang sederhana tetapi kaya dalam syukur.
Inilah perbedaan:
- jumlah rezeki dan keberkahan rezeki.
Perspektif Sufistik: Rezeki adalah Surat Cinta yang Tidak Selalu Berbentuk Harta
Secara sufistik, rezeki dapat dipandang sebagai tajallī al-raḥmah—manifestasi rahmat Allah—yang hadir melalui berbagai bentuk kehidupan.
- Tidak semua rezeki terasa seperti rezeki ketika pertama kali datang.
- Sakit bisa mengajarkan kesadaran.
- Kegagalan bisa mengajarkan kerendahan hati.
- Kehilangan bisa mengajarkan keikhlasan.
- Keterlambatan bisa mengajarkan kesabaran.
- Pertemuan bisa membuka jalan.
- Perpisahan bisa menyelamatkan.
Karena itu:
Jangan terlalu cepat menyebut sesuatu sebagai musibah sebelum mengetahui apa yang sedang Allah tumbuhkan melalui peristiwa itu.
Hubungan Ayat 26 dan 27: Kekuasaan dan Rezeki
Ayat 26:
“Allah memberi dan mencabut kekuasaan.”
Ayat 27:
“Allah mengatur malam dan siang, hidup dan mati, serta rezeki.”
Ini memberikan satu prinsip penting:
manusia tidak memiliki sesuatu secara mutlak.
- Jabatan adalah amanah.
- Kekayaan adalah amanah.
- Ilmu adalah amanah.
- Popularitas adalah amanah.
- Bahkan waktu adalah amanah.
Karena semuanya berada dalam lingkaran:
- أَنْتَ مَالِكُ الْمُلْكِ
- “Engkaulah Pemilik segala kerajaan.”
- Maka orang yang memiliki kekuasaan tidak boleh menjadi sombong.
- Orang yang kehilangan kekuasaan tidak boleh kehilangan martabat.
- Sebab keduanya berada dalam sunnatullah perubahan.
- Relevansi dengan Dunia Kerja dan Karier
- Ayat ini sangat relevan dengan dunia profesional.
- Karier seseorang tidak selalu bergerak naik.
Ada masa:
naik → stabil → turun → bangkit kembali.
- Seperti malam dan siang.
- Karena itu, kegagalan karier tidak harus dibaca sebagai akhir.
- Bisa jadi ia merupakan fase transformasi.
- Seseorang kehilangan pekerjaan lalu menemukan bidang baru.
- Seseorang gagal dalam bisnis lalu menemukan model bisnis yang lebih baik.
- Seseorang kehilangan jabatan lalu menemukan kebebasan untuk berkarya.
Yang penting adalah:
- jangan menganggap fase sementara sebagai identitas permanen.
- Malam bukan identitas siang.
- Begitu pula kegagalan bukan identitas manusia.
Relevansi dengan Ekonomi Digital
- Ekonomi digital memperlihatkan bagaimana cepatnya perubahan rezeki.
- Hari ini sebuah platform populer.
- Besok algoritmanya berubah.
- Hari ini sebuah konten viral.
- Besok dilupakan.
- Hari ini sebuah bisnis berkembang.
- Besok muncul teknologi baru yang mengubah pasar.
Di sinilah QS. Āli ‘Imrān [3]:27 mengajarkan kelenturan spiritual.
- Jangan menggantungkan harga diri pada satu sumber penghasilan.
- Jangan menggantungkan identitas pada satu jabatan.
- Jangan menggantungkan masa depan pada satu platform.
- Dan jangan menggantungkan ketenangan kepada angka.
- Sebab platform berubah, algoritma berubah, pasar berubah; tetapi Allah tidak berubah.
AI dan Rezeki
- Kehadiran AI juga mengubah struktur ekonomi dan pekerjaan.
- Sebagian pekerjaan akan berubah.
- Sebagian keterampilan menjadi kurang bernilai.
- Sebagian pekerjaan baru muncul.
Dalam situasi seperti ini, QS. Āli ‘Imrān [3]:27 mengajarkan dua sikap yang harus berjalan bersama:
Pertama: Tawakkal
- Percaya bahwa rezeki berasal dari Allah.
Kedua: Taḥarruk al-asbāb
- Bergerak mencari sebab-sebab rezeki.
Artinya:
- berdoa, tetapi belajar.
- bertawakal, tetapi beradaptasi.
- percaya kepada Allah, tetapi meningkatkan kompetensi.
- mengandalkan Allah, tetapi tidak meninggalkan ikhtiar.
- AI bukan sumber rezeki.
- AI hanyalah wasīlah.
- Rezeki tetap berada dalam kehendak Allah.
- Jangan Menyembah Algoritma
- Ini salah satu pelajaran paling relevan.
Algoritma menentukan:
- apa yang kita lihat;
- apa yang muncul di beranda;
- apa yang menjadi viral;
- apa yang direkomendasikan;
- bahkan sebagian keputusan ekonomi manusia.
Tetapi seorang muslim harus berhati-hati agar algoritma tidak berubah menjadi semacam *“tuhan kecil”* dalam hidupnya.
Jangan sampai manusia berkata:
- “Kalau algoritma tidak menyukai saya, berarti saya tidak berharga.”
- Tidak.
- Algoritma bukan Tuhan.
- Ia hanya sistem buatan manusia.
- Ia dapat berubah.
- Ia dapat salah.
- Ia dapat bias.
- Ia dapat dihentikan.
- Tetapi rezeki Allah tidak bergantung pada satu platform.
- “Bighairi Hisab” dan Mentalitas Kelangkaan
Manusia modern sering hidup dalam mentalitas kelangkaan:
- “Kesempatan terbatas.”
- “Rezeki orang lain mengurangi rezeki saya.”
- “Kalau orang lain sukses, saya gagal.”
- “Kalau orang lain viral, kesempatan saya hilang.”
QS. Āli ‘Imrān [3]:27 mengajarkan perspektif berbeda:
وَتَرْزُقُ مَن تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Allah memberi rezeki tanpa batas.
Kesuksesan orang lain tidak otomatis mengurangi kemungkinan kebaikan bagi kita.
Karena itu, seorang mukmin tidak perlu hidup dengan iri.
Ia dapat berkata:
- “Ya Allah, berkahilah rezekinya dan bukakan pula jalan rezeki yang baik untukku.”
Rezeki dan Etika
Namun “Allah memberi rezeki tanpa perhitungan” bukan alasan untuk mendapatkan harta dengan cara apa pun.
Rezeki harus ditempuh melalui jalan yang halal.
Maka dalam ekonomi digital:
- jangan mencuri data;
- jangan menipu;
- jangan memanipulasi informasi;
- jangan menggunakan AI untuk penipuan;
- jangan membuat konten palsu demi keuntungan;
- jangan mengeksploitasi kelemahan orang lain;
- jangan menghalalkan segala cara atas nama rezeki.
Sebab:
rezeki Allah tidak membutuhkan kemaksiatan manusia sebagai jalan untuk sampai kepadanya.
Dari Malam kepada Siang: Filosofi Harapan
- Ayat ini juga mengandung filsafat harapan.
- Ketika hidup berada dalam “malam”, jangan menganggap malam akan berlangsung selamanya.
- Allah memasukkan malam ke dalam siang.
- Ketika hidup berada dalam “siang”, jangan sombong seolah siang akan berlangsung selamanya.
- Allah memasukkan siang ke dalam malam.
Dengan kata lain:
- Tidak ada keadaan dunia yang abadi.
- Kesulitan berubah.
- Kesenangan berubah.
- Kekuasaan berubah.
- Popularitas berubah.
- Kekayaan berubah.
- Usia berubah.
- Tetapi perubahan itu berada dalam pengetahuan Allah.
Maka manusia belajar dua hal:
- bersabar ketika malam,
- dan
- bersyukur ketika siang.
Tiga Transformasi Besar dalam Ayat
Jika dibaca secara filosofis, QS. Āli ‘Imrān [3]:27 memperlihatkan tiga transformasi:
1. Transformasi waktu
- الليل ↔ النهار
- Malam ↔ siang.
2. Transformasi kehidupan
- الحي ↔ الميت
- Hidup ↔ mati.
3. Transformasi rezeki
- وترزق
- Allah terus memberikan rezeki.
Ketiganya menunjukkan satu hukum:
- Kehidupan adalah proses perubahan.
- Maka jangan terlalu melekat kepada keadaan sementara.
Pesan untuk Pendidikan
- Ayat ini juga sangat relevan dengan dunia pendidikan.
Pendidikan adalah proses:
- ketidaktahuan → pengetahuan.
- kebingungan → pemahaman.
- ketidakmampuan → kompetensi.
- kegelapan intelektual → pencerahan.
Guru pada hakikatnya bukan “pencipta ilmu” dalam arti mutlak.
Guru adalah wasīlah yang membantu manusia menemukan potensi yang Allah berikan.
Karena itu, pendidikan yang baik tidak hanya menghasilkan manusia yang pintar.
Ia harus melahirkan manusia yang:
- bersyukur;
- rendah hati;
- adaptif;
- kreatif;
- bertanggung jawab;
- dan sadar bahwa ilmu adalah amanah.
Pesan untuk Kepemimpinan
Ayat ini juga memiliki pesan bagi pemimpin.
Jika Allah dapat memasukkan malam ke dalam siang dan siang ke dalam malam, maka kekuasaan manusia juga tidak permanen.
- Tidak ada jabatan yang abadi.
- Tidak ada penguasa yang selamanya berkuasa.
- Tidak ada organisasi yang selamanya berada di atas.
Karena itu pemimpin harus memandang kekuasaan sebagai:
- amanah, bukan milik pribadi.
- Ketika berkuasa, jangan lupa bahwa kekuasaan dapat dicabut.
- Ketika tidak berkuasa, jangan kehilangan kehormatan.
- Karena kemuliaan manusia tidak identik dengan jabatan.
Pesan Sufistik: Jangan Berlabuh pada yang Berubah
- Inilah mungkin pesan terdalam ayat ini.
- Malam berubah.
- Siang berubah.
- Hidup berubah.
- Mati datang.
- Rezeki berubah.
- Kekuasaan berubah.
- Lalu kepada apa hati manusia seharusnya berlabuh?
- Kepada Allah.
Dalam bahasa tasawuf:
Jangan menggantungkan hati kepada keadaan yang berubah. Gantungkan hati kepada Tuhan yang mengatur perubahan.
- Inilah makna tawakal.
- Tawakal bukan berarti tidak bergerak.
Tawakal berarti:
bergerak dengan seluruh kemampuan, tetapi hati tidak diperbudak oleh hasil.
Kesimpulan: Allah Mengatur Perubahan, Manusia Menjalani Amanah
- QS. Āli ‘Imrān [3]:27 mengajarkan bahwa alam semesta tidak berjalan secara kacau.
- Malam dan siang bergerak dalam keteraturan.
- Kehidupan muncul melalui proses.
- Kematian menjadi bagian dari siklus.
- Rezeki mengalir melalui jalan-jalan yang kadang diketahui dan kadang tidak diketahui manusia.
Semua itu menunjukkan rubūbiyyah Allah:
- Allah mengatur, memelihara, dan menata kehidupan.
Karena itu manusia tidak boleh:
- sombong ketika mendapatkan,
- atau
- putus asa ketika kehilangan.
- Ketika malam datang, bersabarlah.
- Ketika siang datang, bersyukurlah.
- Ketika rezeki datang, jangan sombong.
- Ketika rezeki terasa sempit, jangan berputus asa.
- Ketika teknologi berubah, belajarlah.
- Ketika algoritma berubah, beradaptasilah.
- Tetapi jangan pernah memindahkan pusat ketergantungan hati dari Allah kepada dunia.
- Sebab dunia terus berubah.
- Malam menjadi siang.
- Siang menjadi malam.
- Yang hidup menjadi mati.
- Yang mati melahirkan kehidupan.
- Kekuasaan berpindah.
- Rezeki datang melalui jalan yang tidak selalu kita duga.
Namun di balik seluruh perubahan itu terdapat satu Zat yang tidak berubah:
- Allah.
- Maka rahasia ketenangan hidup bukanlah membuat dunia berhenti berubah.
Rahasia ketenangan adalah menemukan Allah di tengah perubahan.
Dan mungkin inilah pesan sufistik terdalam QS. Āli ‘Imrān [3]:27:
Jangan takut kepada perubahan; takutlah jika hati berubah jauh dari Allah.
Sebab ketika hati tetap bersama-Nya, malam pun memiliki makna, siang pun memiliki hikmah, kehilangan pun menjadi pelajaran, dan rezeki pun menjadi jalan untuk mengenal Sang Pemberi.
Sulawesi Tenggara—03 Oktober 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda
Follow Berita InsanNews di Google News


