Peserta Latihan Kader Kohati (LKK) Tingkat Nasional HMI Cabang Bulukumba
Asal HMI Cabang Gowa Raya
INSAN.NEWS || BULUKUMBA—KOHATI kerap disebut sebagai laboratorium kepemimpinan perempuan. Sebuah istilah yang terdengar ideal: perempuan ditempa, dididik, dan dipersiapkan untuk mengambil peran strategis di tengah masyarakat.
Namun, di balik kebanggaan atas istilah tersebut, ada pertanyaan yang semestinya tidak boleh dihindari: sejauh mana KOHATI benar-benar berhasil melahirkan pemimpin perempuan? Atau jangan-jangan, “laboratorium kepemimpinan” hanya menjadi jargon yang terus diwariskan tanpa pernah diuji melalui kenyataan?
Pertanyaan itu penting sebab kepemimpinan tidak lahir dari jabatan, sertifikat, atau sekadar pengalaman mengikuti forum organisasi. Kepemimpinan tumbuh melalui proses: keberanian berbicara, kemampuan mendengar, keteguhan mengambil keputusan, kesanggupan menghadapi konflik, serta kesiapan mempertanggungjawabkan pilihan.
Jika KOHATI ingin disebut sebagai laboratorium, maka ia harus menyediakan ruang eksperimen kepemimpinan bagi setiap kader perempuannya.
KOHATI semestinya menjadi ruang tempat kader belajar menyampaikan gagasan tanpa takut dianggap terlalu keras, belajar berbeda pendapat tanpa dicap sebagai pembangkang, dan belajar mengambil keputusan tanpa terus-menerus dibayangi keraguan.
Sebab perempuan tidak membutuhkan ruang yang hanya mengatakan bahwa mereka mampu memimpin. Mereka membutuhkan ruang yang benar-benar memberi kesempatan untuk memimpin.
Di sinilah persoalan mulai menjadi lebih kompleks. Apakah semua kader perempuan memperoleh kesempatan yang sama? Apakah kader yang vokal selalu diberi ruang, sementara kader yang pendiam dibiarkan berada di belakang layar? Apakah kepemimpinan perempuan hanya dipahami sebagai kemampuan mengurus administrasi, kepanitiaan, atau kegiatan internal organisasi, sementara keputusan-keputusan strategis masih didominasi oleh segelintir orang?
Jika kondisi semacam itu masih ditemukan, maka KOHATI perlu melakukan evaluasi secara jujur. Laboratorium tidak boleh hanya menghasilkan orang-orang yang mampu mengikuti prosedur. Laboratorium harus melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis, menguji gagasan, membaca persoalan, kemudian menawarkan jalan keluar. Dalam konteks KOHATI, kader perempuan harus didorong bukan hanya menjadi “pelaksana kegiatan”, tetapi menjadi pengambil keputusan dan produsen gagasan.
Dalam perspektif tersebut, kaderisasi menjadi titik paling menentukan. Kaderisasi tidak cukup berhenti pada transfer materi atau rutinitas forum. Ia harus menjadi proses pembentukan watak intelektual dan keberanian moral. Kader perempuan perlu dibiasakan berhadapan dengan persoalan nyata: ketimpangan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, kekerasan terhadap perempuan, hingga tantangan teknologi dan kecerdasan buatan. Sebab pemimpin tidak diuji ketika keadaan mudah, melainkan ketika harus menentukan sikap di tengah persoalan yang rumit.
Narasumber dalam Forum LK II HMI Cabang Bulukumba menekankan pentingnya menjadikan KOHATI sebagai ruang pembentukan kapasitas dan keberanian kader perempuan.
KOHATI tidak boleh berhenti sebagai ruang berkumpulnya perempuan. Ia harus menjadi ruang pembentukan karakter, intelektualitas, dan keberanian untuk mengambil peran kepemimpinan di tengah masyarakat.
Pernyataan tersebut membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar: pemimpin perempuan seperti apa yang hendak dilahirkan KOHATI? Apakah perempuan yang sekadar mampu menduduki posisi struktural, atau perempuan yang memiliki keberanian untuk mengubah keadaan? Sebab ukuran keberhasilan organisasi perempuan tidak semestinya hanya dilihat dari berapa banyak kader yang menjadi ketua, sekretaris, atau menduduki jabatan tertentu.
Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana kader mampu membawa nilai-nilai perjuangan ketika berada di luar organisasi.
KOHATI juga perlu berhati-hati terhadap jebakan simbolisme. Perempuan bisa saja hadir dalam banyak forum, tetapi tetap tidak memiliki pengaruh dalam menentukan arah keputusan. Perempuan bisa saja diberikan panggung, tetapi gagasannya belum tentu didengar.
Karena itu, representasi perempuan harus bergerak dari sekadar kehadiran menuju pengaruh. Dari sekadar menjadi peserta menuju pengambil keputusan. Dari sekadar menjadi objek kaderisasi menuju subjek perubahan.
Pada akhirnya, menyebut KOHATI sebagai laboratorium kepemimpinan perempuan bukanlah sebuah penghargaan yang selesai ketika kalimat itu diucapkan. Ia adalah tanggung jawab yang harus dibuktikan.
Jika KOHATI mampu menciptakan ruang belajar yang terbuka, kritis, egaliter, dan memberi kesempatan kader untuk memimpin, maka istilah laboratorium itu memiliki makna. Tetapi jika kader hanya diajarkan untuk patuh, mengikuti kebiasaan lama, dan takut menguji otoritas, maka “laboratorium kepemimpinan perempuan” berisiko menjadi sekadar ilusi.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah KOHATI pantas disebut laboratorium kepemimpinan perempuan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah KOHATI berani menguji dirinya sendiri melalui kualitas pemimpin perempuan yang dilahirkannya? Sebab organisasi yang serius membangun kepemimpinan tidak takut pada kritik.
Justru dari kritik itulah ia mengetahui apakah proses kaderisasinya benar-benar menghasilkan pemimpin—atau hanya melahirkan pemegang jabatan.
Bumi Butta Panrita Lopi—04 September 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda
Follow Berita InsanNews di Google News


