Opinions

Matahari, Malam, dan Mi’raj Ruhani

Matahari
Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag., Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama (KUB) MUI Sulawesi Tenggara dan Dosen Pascasarjana IAIN Kendari, Rabu (15/07/2026). Foto Ist

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.

(Akademisi IAIN Kendari dan Pengamat Masalah Sosial Keagamaan)

INSAN.NEWS || Kendari—Setiap pagi matahari terbit tanpa pernah terlambat. Setiap senja ia tenggelam tanpa pernah mengeluh. Alam semesta bergerak dalam keteraturan yang menakjubkan, seolah seluruh jagat raya sedang melantunkan tasbih kepada Sang Pencipta.

Di tengah harmoni kosmik itu, Allah memanggil manusia agar ikut memasuki irama semesta melalui salat.

Allah berfirman:

KETIKA FAKTA DITEMUKAN, TETAPI PUTUSAN TIDAK MENEMUKANNYA

“Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelap malam, dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh para malaikat).”_ (QS. Al-Isrā’: 78).

Ayat ini sering dipahami sebagai dasar penetapan waktu salat. Padahal, di balik dimensi fikihnya, tersimpan filsafat waktu yang sangat mendalam.

Salat bukan sekadar kewajiban yang dijadwalkan, melainkan cara Allah mendidik manusia agar hidup selaras dengan ritme penciptaan. Waktu bukan hanya sesuatu yang dihabiskan, tetapi ruang tempat manusia membangun hubungan dengan Tuhan.

Al-Ṭabari menjelaskan bahwa ayat ini mencakup seluruh salat wajib yang mengiringi perjalanan manusia sejak matahari tergelincir hingga fajar menyingsing.

Ibn Kathir melihat salat sebagai pengikat hubungan hamba dengan Allah sepanjang hari, sehingga tidak ada ruang kehidupan yang benar-benar terpisah dari kehadiran-Nya.

Ketika MK Memilih: Tidak Dapat Diterima

Sementara Al-Qurṭubi menekankan bahwa keteraturan waktu salat merupakan pendidikan Ilahi tentang disiplin dan keseimbangan hidup.

Di tangan para sufi, makna ayat ini menjadi lebih dalam. Al-Ghazali memandang setiap waktu salat sebagai tahapan perjalanan ruh.

Subuh adalah kelahiran kesadaran, Zuhur adalah puncak ikhtiar, Asar adalah saat muhasabah, Magrib adalah kepulangan menuju keheningan, sedangkan Isya merupakan penyerahan total kepada Allah.

Salat menjadi mi’raj harian yang mengangkat manusia dari kesibukan dunia menuju keluasan makna.

Lebih jauh lagi, Ibn ‘Arabi melihat perjalanan matahari sebagai simbol perjalanan jiwa. Terbit dan tenggelamnya matahari bukan sekadar fenomena astronomi, tetapi cermin tajalli atau penampakan kebesaran Allah di alam semesta.

Di Antara Malam dan Siang, Hati Mencari Tuhan: Tadabbur QS.3:27

Salat adalah upaya menyelaraskan denyut hati manusia dengan tasbih seluruh ciptaan.

Pandangan tersebut bergema dalam pemikiran para cendekiawan Indonesia. Buya Hamka dalam _Tafsir Al-Azhar_ menegaskan bahwa salat melatih manusia menjadi pribadi yang teratur dan berkarakter.

Ketepatan waktu dalam ibadah akan memancar menjadi ketepatan dalam bekerja, memimpin, dan bermasyarakat.

M. Quraish Shihab menyoroti keistimewaan salat Subuh yang disebut _masyhūd_ (disaksikan). Menurut beliau, waktu Subuh adalah saat jiwa berada dalam kejernihan sehingga lebih mudah menerima cahaya petunjuk Ilahi.

Karena itu, memulai hari dengan salat berarti memulai kehidupan dengan orientasi yang benar.

Nurcholish Madjid mengingatkan bahwa ritual tidak boleh berhenti pada simbol. Salat yang benar harus melahirkan etika sosial.

Ketika seseorang selesai salat tetapi masih mengabaikan keadilan, kejujuran, dan kemanusiaan, maka pesan moral salat belum sepenuhnya menjelma dalam kehidupannya.

Sementara itu, Nasaruddin Umar memandang salat sebagai proses reorientasi spiritual.

Di tengah kehidupan yang penuh tekanan, salat menjadi saat manusia menata ulang arah hidupnya agar tidak terseret oleh ambisi dunia yang tak pernah mengenal batas.

Dalam perspektif Muhammad Sabri AR., QS. Al-Isrā’ ayat 78 dapat dibaca sebagai *arsitektur peradaban berbasis waktu*.

Waktu salat bukan sekadar pembagian jam ibadah, melainkan desain Ilahi yang membentuk manusia agar mampu mengintegrasikan dimensi spiritual, intelektual, sosial, dan ekologis.

Salat menjadi pusat gravitasi yang menjaga agar ilmu tidak tercerabut dari hikmah, teknologi tidak kehilangan etika, dan kemajuan tidak tercerabut dari nilai-nilai ketuhanan.

Dengan demikian, ibadah bukan pelarian dari realitas, tetapi sumber energi untuk membangun peradaban yang berkeadaban.

Pesan ini terasa semakin relevan pada era digital. Kini manusia lebih sering mengikuti ritme algoritma daripada ritme langit. Notifikasi telepon genggam lebih cepat menggerakkan langkah daripada azan.

Kita mengetahui pembaruan media sosial setiap menit, tetapi sering terlambat menyadari bahwa hati telah lama kehilangan ketenangan.

Dalam situasi seperti ini, salat menjadi bentuk pembebasan. Ia mengajarkan keberanian untuk berhenti sejenak dari arus informasi yang tak berkesudahan. Salat adalah _digital detox_ yang paling tua sekaligus paling bermakna.

Ketika manusia berdiri menghadap kiblat, ia sedang memutus sejenak keterikatannya dengan dunia agar kembali terhubung dengan sumber segala makna.

Matahari terus bergerak. Malam terus berganti. Umur manusia terus berkurang. Namun salat mengajarkan bahwa perjalanan waktu tidak harus berakhir sebagai hitungan usia. Ia dapat berubah menjadi perjalanan menuju kedewasaan ruhani.

Mungkin itulah sebabnya para arif menyebut salat sebagai *mi’raj orang beriman*. Sebab setiap kali seorang hamba berdiri menghadap Allah dengan hati yang hadir, sesungguhnya ia sedang mendaki tangga cahaya. Ia meninggalkan kegaduhan dunia tanpa harus meninggalkan dunia itu sendiri.

Pada akhirnya, QS. Al-Isrā’ ayat 78 mengajarkan bahwa manusia yang paling kaya bukanlah yang memiliki waktu paling banyak, melainkan yang paling mampu menghadirkan Allah di setiap lintasan waktunya.

Ketika matahari mengajarkan ketekunan, malam mengajarkan keheningan, dan salat mengajarkan kedekatan kepada Allah, saat itulah perjalanan hidup berubah menjadi *mi’raj ruhani*—sebuah pendakian batin menuju cahaya yang tidak pernah padam.

Sulawesi Tenggara—15 Juli 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement