Opinions

Membaca Langit, Menemukan Tuhan:Tafsir QS.13:12

Membaca Langit
‎Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag., Akademisi UIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI, Rabu (23/9/2026). Foto Ist

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.

(Dosen Sejarah Peradaban dan Pemikiran Islam UIN Kendari) 

INSAN.NEWS || Kendari—Teks Ayat هُوَ الَّذِي يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ

Latin:

Huwal-ladzī yurīkumul-barqa khaufaw wa ṭama‘aw wa yunsyi’us-saḥābaṡ-ṡiqāl.

Muhajir Tantang MKKS dan Kepala SMP Makassar: Jangan Cuma Bicara Peduli, Buktikan Aksi!

Terjemah:

“Dialah yang memperlihatkan kilat kepadamu, yang menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menjadikan awan mendung.”

Terjemahan Kemenag juga menjelaskan bahwa kilat dapat menimbulkan ketakutan akan petir bagi orang yang berada di luar atau dalam perjalanan, sekaligus menumbuhkan harapan bagi mereka yang mengharapkan hujan untuk pertanian; awan yang berat mengandung air yang kemudian turun sebagai hujan.

Ayat ini pendek, tetapi mengandung tiga gambaran kosmis:

الْبَرْقُ — al-barq — kilat

HIPMI PT Dibentuk di Bulukumba, Tiga Kampus Siapkan Kader Pengusaha Muda

خَوْفًا — khaufan — takut

وَطَمَعًا –wa ṭama‘a harap

السَّحَابُ الثِّقَالُ — as-saḥāb ats-tsiqāl — awan yang berat

Seakan-akan Al-Qur’an sedang mengajarkan bahwa manusia hidup di antara kilatan kenyataan, ketakutan terhadap kemungkinan, dan harapan terhadap masa depan.

Munāsabah dengan Ayat 11–13

Appi Instruksikan Pembagian Masker Gratis, Sekolah di Makassar Batasi Aktivitas Luar Ruangan

Ayat ini semakin indah jika dibaca bersama ayat sebelum dan sesudahnya.

QS. Ar-Ra‘d [13]:11 berbicara tentang Allah yang mengetahui manusia dan para malaikat yang menjaganya.

Kemudian ayat 12 menghadirkan fenomena alam: kilat dan awan

Lalu ayat 13 berbicara tentang: guruh yang bertasbih memuji Allah dan para malaikat yang takut kepada-Nya.

Dengan demikian, rangkaian ayat ini bergerak dari:

manusia → alam → malaikat → Allah.

Pesannya sangat dalam: Alam bukan benda mati yang kehilangan makna spiritual; alam adalah ayat yang mengantarkan manusia kepada kesadaran tentang Allah.

  • “هُوَ” — Dialah

Ayat dimulai dengan:

  • هُوَ الَّذِي
  • Huwal-ladzī
  • “Dialah yang…”

Sebelum berbicara tentang kilat, Al-Qur’an terlebih dahulu mengarahkan perhatian kepada Allah.

Bukan: “Kilat terjadi, kemudian hujan turun.”

Tetapi: “Dialah yang memperlihatkan kilat…”

Al-Ṭabarī menjelaskan bahwa *“huwa”* menunjuk kepada Allah sebagai Rabb yang memperlihatkan kilat kepada hamba-hamba-Nya. Artinya, Al-Qur’an mengajarkan dua cara melihat alam.

Pandangan pertama:

  • Alam hanya dilihat sebagai objek fisik.
  • Kilat adalah fenomena listrik atmosfer.
  • Awan adalah kumpulan partikel air.
  • Hujan adalah bagian dari siklus hidrologis.
  • Semua benar secara ilmiah.

Pandangan kedua:

  • Selain menjelaskan bagaimana fenomena terjadi, manusia juga bertanya:
  • Apa makna keberadaan fenomena itu bagi kehidupan dan kesadaran manusia?
  • Di sinilah ilmu dan iman dapat bertemu.
  • Sains menjelaskan mekanisme kilat.
  • Al-Qur’an mengajak manusia membaca tanda kebesaran Allah di balik fenomena tersebut.

Makna “الْبَرْقَ” — Kilat

  • Al-barq adalah cahaya yang tampak di antara awan.
  • Ibn Kathīr menjelaskan kilat sebagai cahaya yang menyala dari celah-celah awan. Ia juga mengutip pendapat yang mengaitkan kilat dengan air/hujan.

Kilat memiliki karakter yang menarik:

  • muncul cepat, terang, lalu menghilang.
  • Secara filosofis, ia dapat menjadi metafora kehidupan manusia.
  • Popularitas bisa seperti kilat.
  • Kekuasaan bisa seperti kilat.
  • Kekayaan bisa seperti kilat.
  • Viralitas digital juga seperti kilat.
  • Hari ini seseorang menjadi pusat perhatian.
  • Besok mungkin tidak lagi dikenal.
  • Hari ini sebuah video memiliki jutaan penonton.
  • Beberapa hari kemudian tenggelam dalam arus informasi.

Kilat mengajarkan:

  • Tidak semua yang terang itu lama
  • Dan tidak semua yang viral itu bernilai abadi.
  • “خَوْفًا وَطَمَعًا” — Antara Takut dan Harap
  • Inilah inti spiritual ayat.

Allah memperlihatkan kilat:

  • خَوْفًا وَطَمَعًا
  • takut dan harap.
  • Mengapa satu fenomena menghasilkan dua respons yang berbeda?
  • Karena manusia memiliki posisi dan kebutuhan yang berbeda.
  • Seorang musafir dapat takut terhadap petir dan hujan deras.
  • Petani justru berharap hujan datang.

Ibn Kathīr, melalui penjelasan Qatādah, menyebut ketakutan bagi musafir karena bahaya dan kesulitan, sementara orang yang tinggal di suatu tempat berharap manfaat dan rezeki dari hujan.

Ini memberikan pelajaran penting:

  • Realitas yang sama dapat melahirkan pengalaman berbeda tergantung posisi manusia terhadapnya.
  • Hujan bagi petani adalah harapan.
  • Bagi orang yang rumahnya kebanjiran, ia dapat menjadi kecemasan.
  • Teknologi bagi seorang guru dapat menjadi alat pembelajaran.
  • Bagi pihak lain, teknologi dapat menjadi sumber ancaman baru.
  • AI dapat membuka peluang besar sekaligus menghadirkan persoalan etis.
  • Karena itu, manusia membutuhkan hikmah, bukan sekadar informasi.

Khauf dan Rajā’: Dua Sayap Jiwa

  • Dalam tradisi spiritual Islam, khauf dan rajā’ merupakan dua keadaan penting.
  • Khauf adalah rasa takut kepada Allah dan konsekuensi penyimpangan dari jalan-Nya.
  • Rajā’ adalah harapan terhadap rahmat, ampunan, dan kebaikan Allah.
  • Keduanya harus seimbang.
  • Jika hanya memiliki khauf,manusia dapat jatuh kepada keputusasaan.
  • Jika hanya memiliki raja’, manusia dapat terjebak dalam rasa aman palsu.

Maka manusia beriman hidup di antara:

  • takut yang menjaga langkah
  • dan
  • harapan yang menjaga hati

Quraish Shihab dalam pembahasan kosakata Al-Qur’an mengenai ṭama‘ menjelaskan bahwa konsep takut dan harap memiliki fungsi penting dalam perjalanan spiritual manusia; ia mengutip pandangan ulama bahwa keduanya seperti dua sayap yang membawa manusia menuju jalan istiqamah.

  • Mengapa Harapan Disebut “طَمَعًا”?
  • Kata ṭama‘bukan sekadar optimisme psikologis.
  • Dalam konteks ayat, ia berhubungan dengan harapan manusia terhadap manfaat yang datang bersama hujan.

Secara spiritual, manusia belajar:

  • Harapan tidak boleh dilepaskan dari Tuhan sebagai sumber rahmat.
  • Kita berusaha, tetapi hasil tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.
  • Kita merencanakan, tetapi masa depan tidak seluruhnya dapat kita kuasai.
  • Kita bekerja, tetapi rezeki tidak dapat direduksi menjadi kalkulasi manusia.

Karena itu, seorang mukmin tidak hidup dalam dua ekstrem:

  • fatalisme “semuanya sudah ditentukan, jadi saya tidak perlu berusaha”
  • atau
  • kesombongan rasionalistik—“semuanya dapat saya kendalikan.”

Islam menawarkan:

ikhtiar + doa + tawakkal.

  • وَيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ” — Awan yang Berat

Allah berfirman:

  • وَيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ
  • “Dan Dia menjadikan awan yang berat.”
  • Al-Ṭabarī menjelaskan _as-saḥāb ats-tsiqāl_ sebagai awan yang mengandung air.
  • Mujāhid juga menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah awan yang di dalamnya terdapat air.
  • Awan tersebut terlihat berat.
  • Namun justru dari “beratnya” itu lahir hujan.

Di sini terdapat pelajaran sufistik yang sangat indah:

  • Tidak semua beban adalah kehancuran. Sebagian beban justru membawa kehidupan.
  • Awan membawa air.
  • Air menghidupkan tanah.
  • Tanah menghasilkan tanaman.
  • Tanaman memberi makanan.
  • Makanan menopang kehidupan.
  • Maka sesuatu yang tampak berat dari satu sisi dapat membawa rahmat dari sisi lain.

Beban Kehidupan dan Awan Rahmat

Ada manusia yang sedang mengalami:

  • kegagalan,
  • penantian,
  • kesulitan ekonomi,
  • persoalan keluarga,
  • tekanan pekerjaan,
  • kegelisahan masa depan.

Ia mungkin bertanya:

  • “Mengapa hidup saya begitu berat?”

Ayat ini tidak memberikan jawaban sederhana bahwa semua kesulitan pasti langsung berubah menjadi keberhasilan.

Tetapi ia memberikan sebuah perspektif:

  • Jangan terlalu cepat menilai awan sebelum hujan turun
  • Awan yang berat bukan selalu pertanda kehancuran.
  • Kadang ia membawa air yang diperlukan bumi.

Begitu pula dalam kehidupan:

  • penantian dapat mendewasakan, kegagalan dapat mengoreksi, keterbatasan dapat mengajarkan tawakkal, dan kesulitan dapat membuka kesadaran baru.
  • Namun ini bukan berarti semua penderitaan harus dianggap baik atau romantisasi terhadap penderitaan.
  • Pesannya adalah bahwa manusia tidak selalu mengetahui seluruh hikmah dari suatu peristiwa pada saat peristiwa itu terjadi.

Pandangan Al-Qurṭubī

Al-Qurṭubī memberi perhatian pada hubungan kilat, hujan, dan awan dalam ayat ini. Tafsirnya menjelaskan bahwa al-barq berkaitan dengan fenomena hujan dan bahwa as-saḥāb adalah bentuk jamak dari saḥābah.

Yang penting dari pendekatan Al-Qurṭubī adalah bahwa fenomena alam dibaca sebagai bagian dari ayat-ayat kekuasaan Allah.

  • Alam bukan Tuhan.
  • Tetapi alam menunjuk kepada Tuhan.

Inilah prinsip penting tauhid:

  • Jangan menyembah alam, tetapi bacalah alam sebagai tanda Sang Pencipta.

Pandangan Ibn Kathīr

  • Ibn Kathīr menempatkan ayat ini dalam rangkaian pembuktian kekuasaan Allah.
  • Kilat, awan, guruh, dan hujan menjadi tanda kekuasaan-Nya.
  • Ia juga menghubungkan ayat 12 dengan ayat 13, bahwa guruh bertasbih memuji Allah dan para malaikat pun takut kepada-Nya.
  • Jadi alam tidak pernah benar-benar “diam”.

Dalam bahasa Al-Qur’an:

  • وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ
  • “Dan guruh bertasbih memuji-Nya.” (QS. Ar-Ra‘d [13]:13)

Manusia yang memiliki kesadaran spiritual bukan hanya mendengar suara guruh.Ia belajar mendengar *pesan tauhid di baliknya.

Perspektif Buya Hamka

Dalam corak Tafsir Al-Azhar alam dipandang sebagai ruang pembuktian kebesaran Allah sekaligus ruang pendidikan bagi manusia.

Hamka menekankan hubungan manusia dengan sunnatullah dan kenyataan bahwa manusia hidup dalam ketergantungan kepada Allah.

Ayat ini dapat dibaca dalam semangat tersebut:

  • kilat memperlihatkan kebesaran Allah, awan membawa harapan, dan manusia diajak menyadari bahwa hidupnya berada dalam rahmat dan kekuasaan Tuhan
  • Kekuatan manusia bukan alasan untuk sombong.
  • Sebab satu fenomena alam saja sudah memperlihatkan betapa terbatasnya manusia.
  • Kita dapat memprediksi cuaca.
  • Kita dapat membuat satelit.
  • Kita dapat membangun radar.
  • Tetapi manusia tetap tidak menjadi penguasa mutlak alam.

Perspektif M. Quraish Shihab

Dalam pembahasan kosakata Al-Qur’an, Quraish Shihab menjelaskan bahwa _al-barq_ menggambarkan kilat sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan ketakutan dan harapan,sekaligus menjadi tanda keesaan dan kekuasaan Allah.

Pembacaan ini penting karena menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak mengajak manusia untuk melihat alam secara takhayul. Kilat dapat dikaji secara ilmiah. Tetapi pengetahuan ilmiah tidak harus menghilangkan rasa takjub.

Justru:

  • semakin manusia memahami mekanisme alam, semakin luas seharusnya kesadarannya terhadap keteraturan ciptaan.

Sains menjawab:

  • bagaimana?

Iman mengajukan pertanyaan:

  • untuk apa?

Dan filsafat bertanya:

  • apa makna semua ini bagi keberadaan manusia?
  • Ketiganya dapat berdialog tanpa harus saling meniadakan.

Perspektif Nurcholish Madjid

Dalam horizon pemikiran Cak Nur mengenai tauhid, rasionalitas, kebebasan manusia, dan pembacaan alam sebagai tanda-tanda kebesaran Allah, ayat ini dapat dikembangkan secara filosofis.

Tauhid membebaskan manusia dari memandang fenomena alam sebagai kekuatan-kekuatan ilahi yang berdiri sendiri.

  • Kilat bukan Tuhan.
  • Awan bukan Tuhan.
  • Hujan bukan Tuhan.
  • Teknologi bukan Tuhan.
  • Pasar bukan Tuhan.
  • Kekuasaan bukan Tuhan.

Semua itu adalah sarana dalam tata ciptaan Allah.

Dengan demikian, tauhid membebaskan manusia dari dua ekstrem:

  • takut secara takhayul kepada alam
  • dan
  • sombong seolah-olah manusia menguasai alam secara mutlak.

Perspektif Nasaruddin Umar

Dalam corak pemikiran Nasaruddin Umar yang memberi perhatian besar pada dimensi spiritual Al-Qur’an, ayat ini dapat dibaca sebagai pendidikan keseimbangan batin.

  • Manusia tidak boleh kehilangan khauf
  • Tetapi juga tidak boleh kehilangan rajā’
  • Ada saatnya kita harus takut.
  • Takut menyalahgunakan amanah.
  • Takut menyakiti orang lain.
  • Takut kepada dosa.
  • Tetapi ada saatnya kita harus berharap.
  • Berharap kepada rahmat Allah.
  • Berharap bahwa kesalahan dapat diampuni.
  • Berharap bahwa masa depan dapat menjadi lebih baik.
  • Maka kesehatan spiritual bukan hidup tanpa rasa takut.

Kesehatan spiritual adalah:

  • mampu mengubah ketakutan menjadi kewaspadaan dan harapan menjadi energi kebaikan

Perspektif Muhammad Sabri AR

Dalam pembacaan filosofis yang dapat dikembangkan dari perhatian Muhammad Sabri AR. terhadap relasi wahyu, akal, manusia, seni, dan spiritualitas, ayat ini mengajarkan bahwa alam dapat dibaca pada dua tingkat.

Tingkat pertama:

  • alam sebagai objek pengetahuan.

Kita mempelajari:

  • listrik,
  • atmosfer,
  • awan,
  • hujan,
  • siklus air.

Tingkat kedua:

  • alam sebagai ruang makna.

Kita bertanya:

  • Apa yang fenomena ini ajarkan tentang posisi manusia?
  • Kilat menunjukkan keterbatasan manusia.
  • Awan menunjukkan proses.
  • Hujan menunjukkan kehidupan.
  • Dan keteraturan alam mengundang manusia kepada kesadaran tentang Sang Pencipta.

Dengan demikian:

  • ilmu membuat kita memahami alam; hikmah membuat kita memahami diri di hadapan alam.

Dimensi Sufistik: Khauf dan Rajā’ sebagai Jalan Tengah

Dalam tasawuf, manusia tidak diarahkan untuk hidup dalam ketakutan mutlak atau harapan mutlak.

  • Ada keseimbangan.
  • Khauf mencegah kesombongan.
  • “Aku bisa melakukan apa saja.”
  • Tidak.
  • Ada batas moral.
  • Rajā’ mencegah keputusasaan.
  • “Tidak ada lagi harapan.”
  • Tidak.
  • Rahmat Allah luas.

Maka:

  • Khauf menjaga kaki agar tidak tersesat.
  • Rajā’ menjaga hati agar tidak berhenti berjalan.
  • Inilah spiritualitas yang sehat.

Relevansi dengan Kehidupan Modern

  • Kita hidup dalam zaman yang penuh “kilat”.
  • Informasi datang seperti kilatan.
  • Berita muncul dalam hitungan detik.
  • Pasar berubah cepat.
  • Teknologi berkembang cepat.
  • Karier berubah.
  • Tren berubah.
  • Popularitas berubah.
  • Satu unggahan dapat membuat seseorang terkenal.
  • Satu unggahan pula dapat membuat seseorang menghadapi konsekuensi sosial yang besar.
  • Semua bergerak seperti kilat.

Tetapi Al-Qur’an mengingatkan:

  • Jangan tertipu oleh kilatan.
  • Sebab kilat bukan hujan.
  • Ia hanya tanda bahwa sesuatu sedang terjadi.

Dunia Digital: Kilat Informasi dan Awan Data

  • Di era digital, manusia hidup di bawah “kilat informasi”.
  • Notifikasi muncul.
  • Layar menyala.
  • Berita beredar.
  • Video viral.
  • AI menghasilkan teks dalam hitungan detik.
  • Informasi menjadi sangat cepat.
  • Tetapi kecepatan informasi tidak sama dengan kedalaman pengetahuan.
  • Dan pengetahuan tidak selalu sama dengan kebijaksanaan.
  • Kita dapat mengetahui sesuatu dalam lima detik tetapi membutuhkan bertahun-tahun untuk memahami maknanya.

Karena itu:

  • Jangan biarkan kecepatan algoritma mengalahkan kedalaman refleksi.
  • Algoritma Juga Menghasilkan “Khauf dan Ṭama‘ ”
  • Media sosial bekerja dengan perhatian manusia.

Notifikasi menimbulkan harapan:

  • “Siapa yang menyukai postinganku?”

Kemudian kecemasan:

  • “Mengapa tidak ada yang menyukai?”
  • Satu komentar positif menghasilkan kesenangan.
  • Satu komentar negatif menghasilkan kegelisahan.

Manusia akhirnya hidup di antara:

  • harap terhadap validasi
  • dan
  • takut terhadap penolakan.
  • Dalam konteks ini, QS. Ar-Ra‘d [13]:12 mengajak kita memindahkan pusat harapan.

Jangan menjadikan:

  • like, view, follower, trending, atau viralitas
  • sebagai sumber utama harga diri.

Sebab semua itu seperti kilat:

  • terang, cepat, tetapi sementara.
  • AI: Antara Harapan dan Ketakutan.
  • AI juga menghadirkan dua sisi yang mirip dengan ayat ini.

Ada harapan:

AI dapat membantu pendidikan, penelitian, kesehatan, administrasi, dan berbagai pekerjaan manusia.

Ada ketakutan:

  • AI juga dapat digunakan untuk:
  • manipulasi informasi,
  • deepfake,
  • penipuan,
  • pelanggaran privasi,
  • otomatisasi yang mengubah pekerjaan,
  • produksi konten palsu.

Maka sikap Islam bukan:

  • takut kepada teknologi

dan bukan pula:

  • menyembah teknologi

Sikap yang diperlukan adalah:

  • menguasai teknologi dengan etika.
  • Teknologi adalah *wasīlah*, bukan ilah.
  • “Awan Berat” sebagai Metafora Peradaban
  • Awan yang berat mengandung air.
  • Secara filosofis, kita dapat membaca ini sebagai pelajaran tentang beban yang produktif.
  • Ilmu yang banyak adalah amanah.
  • Kekuasaan yang besar adalah amanah.
  • Teknologi yang canggih adalah amanah.
  • Semakin besar kapasitas manusia, semakin besar tanggung jawabnya.

Karena itu:

  • Tidak semua yang berat harus ditakuti. Ada beban yang justru membawa hujan bagi kehidupan.
  • Seorang guru membawa beban ilmu.
  • Seorang pemimpin membawa beban amanah.
  • Seorang akademisi membawa beban tanggung jawab intelektual.
  • Seorang pengguna AI membawa beban etika.

Pertanyaannya bukan:

  • “Seberapa berat amanahku?”

Tetapi:

  • “Apakah dari beratnya amanah itu akan turun hujan manfaat bagi orang lain?”
  • Dari Kilat Menuju Hujan

Ayat ini sebenarnya memberikan sebuah gerak spiritual:

kilat → takut dan harap → awan berat → hujan.

Dalam kehidupan manusia:

kejutan → kesadaran → penantian → rahmat.

  • Tidak semua kilat langsung menjadi hujan.
  • Tidak semua harapan langsung menjadi kenyataan.
  • Tidak semua kesulitan langsung memperlihatkan hikmahnya.

Tetapi seorang mukmin belajar menunggu dengan:

  • ikhtiar, doa, sabar, dan tawakkal.
  • Pelajaran Utama

QS. Ar-Ra‘d [13]:12 mengajarkan setidaknya delapan hal:

  1. Alam adalah tanda kebesaran Allah.
  2. Manusia hidup antara khauf dan rajā’.
  3. Harapan harus berjalan bersama kewaspadaan.
  4. Keterbatasan manusia seharusnya melahirkan kerendahan hati.
  5. Tidak semua sesuatu yang menakutkan membawa keburukan.
  6. Tidak semua sesuatu yang menyenangkan membawa kebaikan.
  7. Teknologi harus diperlakukan sebagai sarana, bukan pusat makna kehidupan.
  8. Kedalaman spiritual diperlukan agar manusia tidak diperbudak oleh kecepatan dunia digital.

Penutup: Jangan Takut kepada Kilat, Jangan Terlena oleh Cahayanya

  • Kilat hanya muncul sesaat.
  • Tetapi ia membuat manusia menoleh ke langit.
  • Begitu pula berbagai “kilatan” dalam kehidupan.
  • Kesuksesan dapat datang tiba-tiba.
  • Kegagalan dapat datang tiba-tiba.
  • Popularitas dapat datang tiba-tiba.
  • Krisis dapat datang tiba-tiba.
  • Teknologi baru dapat mengubah kehidupan dalam waktu singkat.

Namun QS. Ar-Ra‘d [13]:12 mengajarkan kita untuk tidak sekadar melihat cahaya, tetapi membaca pesan di balik cahaya.

  • Jangan hanya takut.
  • Jangan hanya berharap.
  • Belajarlah hidup di antara keduanya.
  • Khauf membuat kita berhati-hati.
  • Rajā’ membuat kita terus berjalan.
  • Tawakkal membuat kita menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan ikhtiar.
  • Dan tauhid membuat kita tidak tertipu oleh sebab-sebab dunia.
  • Kilat boleh menyilaukan.
  • Awan boleh menggelap.

Tetapi seorang mukmin tahu:

  • di balik kilat ada kekuasaan,
  • di balik awan ada rahmat,
  • di balik hujan ada kehidupan,
  • dan di balik seluruh keteraturan alam ada Sang Pencipta,.
  • Maka jangan hanya membaca langit dengan mata.

Bacalah ia dengan hati

Karena bisa jadi, ketika kita melihat kilat di langit, sesungguhnya Allah sedang mengajarkan sesuatu tentang kilat yang ada di dalam jiwa kita sendiri: antara takut kehilangan dunia dan berharap menemukan Tuhan.

Sulawesi Tenggara—23 September 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda

‎Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement