Oleh: Waode Asmar Khalifa Sasabila Sr—Asal HMI Cabang Makassar
Peserta Latihan Khusus Kohati (LKK) Tingkat Nasional HMI Cabang Bulukumba
Keluarga sebagai Ruang Kesadaran, Pendidikan, dan Fondasi Peradaban
INSAN.NEWS || Bulukumba—Keluarga sering kali dipahami secara sederhana sebagai tempat berkumpulnya laki-laki, perempuan, dan anak-anak dalam ikatan perkawinan. Padahal, keluarga jauh lebih kompleks daripada sekadar institusi biologis dan legal.
Keluarga merupakan ruang pertama manusia belajar mengenal cinta, nilai, tanggung jawab, otoritas, keadilan, bahkan cara memandang dunia.
Karena itu, membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah tidak cukup dimaknai sebagai upaya menciptakan rumah tangga yang harmonis secara emosional, tetapi juga sebagai proyek pembentukan manusia dan peradaban.
QS. Ar-Rum ayat 21 menyebut sakinah, mawaddah, dan rahmah sebagai karakter relasi yang dikehendaki dalam perkawinan.
Ketiganya bukan sekadar keadaan yang ditunggu setelah menikah, melainkan nilai yang harus terus diproduksi melalui kesadaran, komunikasi, tanggung jawab, dan penghormatan antarpasangan.
Dalam kerangka Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI, keluarga dapat ditempatkan dalam cakrawala yang lebih luas tentang manusia sebagai makhluk yang memiliki hubungan dengan Tuhan, dirinya sendiri, dan lingkungan sosialnya.
Manusia tidak diciptakan untuk hidup tanpa orientasi nilai; keberadaannya mengandung tanggung jawab moral.
Karena itu, keluarga idealnya tidak hanya melahirkan ketenteraman privat, tetapi juga manusia yang memiliki kesadaran ketuhanan dan kepedulian sosial.
Rumah menjadi ruang pertama tempat nilai tauhid, keadilan, kasih sayang, kejujuran, dan tanggung jawab dipraktikkan.
Dengan demikian, keluarga sakinah bukan keluarga yang steril dari konflik, melainkan keluarga yang memiliki kemampuan mengelola konflik melalui nilai dan kesadaran, sehingga perbedaan tidak berubah menjadi kekerasan dan cinta tidak berubah menjadi kepemilikan.
Jika ditarik ke dalam psikologi humanistik Carl Rogers, hubungan keluarga yang sehat membutuhkan penerimaan, empati, keterbukaan, dan keselarasan antara pengalaman batin dengan kehidupan yang dijalani.
Konsep congruence Rogers menjadi relevan karena manusia membutuhkan ruang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa terus-menerus hidup di bawah tekanan ekspektasi orang lain.
Dalam rumah tangga, suami dan istri bukan dua manusia yang harus saling membentuk sesuai kehendaknya masing-masing, melainkan dua subjek yang belajar memahami dan mengembangkan satu sama lain.
Keluarga akan sulit mencapai sakinah apabila relasi dibangun atas kontrol, ketakutan, manipulasi, atau tuntutan agar pasangan kehilangan identitas dirinya.
Cinta yang matang justru memberi ruang bagi pasangan untuk tumbuh, selama pertumbuhan tersebut tetap berada dalam koridor tanggung jawab dan nilai bersama.
Namun, manusia tidak pernah membentuk dirinya sendirian. Identitas seseorang turut dipengaruhi lingkungan tempat ia dibesarkan.
Peter L. Berger dan Thomas Luckmann melalui teori konstruksi sosial menjelaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses interaksi, kebiasaan, institusionalisasi, dan internalisasi.
Dalam konteks keluarga, banyak anggapan tentang “suami ideal”, “istri ideal”, “anak yang baik”, bahkan pembagian kerja domestik sebenarnya merupakan hasil konstruksi sosial yang diwariskan.
Persoalannya kemudian adalah ketika konstruksi budaya dianggap sebagai satu-satunya bentuk kebenaran agama.
Seorang kader HMI-Wati perlu memiliki kemampuan membedakan antara prinsip Islam dengan kebiasaan sosial yang kebetulan hidup dalam masyarakat Muslim.
Tidak semua tradisi keluarga adalah syariat, sebagaimana tidak semua perubahan sosial otomatis bertentangan dengan agama.
Di sinilah konsep conscientization Paulo Freire memperoleh relevansinya. Kesadaran tidak cukup berhenti pada kemampuan mengetahui bahwa sebuah persoalan ada; kesadaran kritis menuntut manusia memahami struktur yang membuat persoalan tersebut terus berlangsung.
Dalam kehidupan keluarga, kesadaran kritis dapat dimulai dari pertanyaan sederhana tetapi mendasar: mengapa pekerjaan domestik selalu dianggap tugas perempuan?
Mengapa pengambilan keputusan keluarga harus selalu berpusat pada laki-laki? Mengapa pendidikan anak sering dibebankan hampir sepenuhnya kepada ibu?
Dan mengapa kekerasan terkadang ditoleransi atas nama mempertahankan keutuhan rumah tangga?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk meruntuhkan institusi keluarga, tetapi justru untuk menyelamatkan keluarga dari praktik-praktik yang bertentangan dengan keadilan.
Pada titik ini, perspektif feminisme Islam dapat menjadi perangkat reflektif untuk membaca kembali relasi laki-laki dan perempuan.
Pemikiran Amina Wadud, misalnya, menempatkan prinsip tauhid dan keadilan sebagai basis dalam membaca relasi gender dalam Al-Qur’an.
Perspektif tersebut penting karena relasi suami-istri tidak semestinya dibangun berdasarkan hierarki kemanusiaan, melainkan berdasarkan tanggung jawab yang adil dan kemitraan.
Islam memang mengenal perbedaan peran dan tanggung jawab dalam konteks tertentu, tetapi perbedaan tersebut tidak identik dengan superioritas satu pihak atas pihak lainnya.
Maka, membangun keluarga mawaddah berarti membangun relasi yang memungkinkan suami dan istri saling mendukung untuk berkembang, bukan menjadikan salah satunya sebagai subordinat permanen.
Keluarga juga merupakan arena pertama pendidikan. Anak tidak pertama-tama belajar tentang kehidupan dari buku, sekolah, atau media sosial, melainkan dari cara orang tuanya memperlakukan satu sama lain.
Anak belajar tentang keadilan ketika melihat ayah dan ibunya berbagi tanggung jawab; belajar tentang penghormatan ketika perbedaan pendapat tidak diselesaikan dengan penghinaan; dan belajar tentang agama ketika nilai-nilai Islam hadir dalam perilaku sehari-hari, bukan hanya dalam nasihat.
Karena itu, keluarga merupakan institusi pendidikan paling awal sekaligus paling menentukan.
Dalam perspektif Freire, pendidikan yang membebaskan tidak menciptakan manusia yang hanya patuh, tetapi manusia yang mampu berpikir kritis.
Keluarga pun seharusnya menjadi ruang yang memungkinkan anak bertanya, berpikir, berdialog, dan berkembang menjadi manusia yang memiliki kesadaran.
Pada tahap inilah konsep intelektual organik Antonio Gramsci dapat ditarik ke dalam kehidupan keluarga.
Intelektual tidak semata-mata berarti orang yang memiliki gelar akademik, tetapi manusia yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan realitas sosial dan mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.
Keluarga yang baik seharusnya tidak menghasilkan manusia yang hanya cerdas untuk dirinya sendiri. Ia harus melahirkan manusia yang memiliki kepekaan terhadap persoalan di luar rumahnya.
Bagi kader HMI-Wati, keluarga bahkan dapat menjadi ruang awal untuk melahirkan intelektual organik: perempuan yang berilmu, memiliki kesadaran sosial, mampu mendidik generasi, dan tetap memiliki keberanian memasuki ruang publik untuk memperjuangkan kemaslahatan.
Perspektif tersebut membawa kita pada persoalan kemandirian perempuan dalam keluarga. Perempuan yang berkeluarga tidak semestinya kehilangan identitas intelektual, sosial, dan kemanusiaannya.
Menjadi istri dan ibu merupakan peran yang memiliki nilai luhur, tetapi tidak seharusnya dimaknai sebagai akhir dari perjalanan intelektual seorang perempuan.
Begitu pula laki-laki tidak semestinya memahami peran sebagai kepala keluarga sebagai legitimasi untuk mendominasi seluruh keputusan.
Keluarga yang sehat membutuhkan dua manusia dewasa yang mampu bekerja sama.
Kemandirian ekonomi, intelektual, emosional, dan spiritual masing-masing pasangan justru dapat memperkuat keluarga karena relasi dibangun atas kesadaran dan tanggung jawab, bukan ketergantungan yang melahirkan kontrol.
Gagasan Nurcholish Madjid mengenai pembaharuan pemikiran Islam memberikan horizon tambahan dalam memahami persoalan tersebut.
Cak Nur menempatkan keterbukaan intelektual, rasionalitas, dan kemampuan berdialog dengan perkembangan zaman sebagai bagian penting dari pembaharuan pemikiran Islam.
Dalam konteks keluarga, semangat pembaharuan berarti keberanian mengevaluasi praktik keluarga yang sudah tidak relevan atau bahkan bertentangan dengan prinsip keadilan, tanpa kehilangan substansi nilai Islam.
Keluarga Muslim tidak perlu memilih antara menjadi religius atau menjadi modern.
Tantangannya justru bagaimana nilai Islam dapat dihadirkan secara substantif dalam kehidupan modern: agama tidak berhenti pada simbol, tetapi hadir sebagai etika yang melahirkan keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Pada akhirnya, keluarga sakinah, mawaddah, warahmah bukanlah keluarga tanpa masalah. Ia adalah keluarga yang memiliki kesadaran untuk menghadapi masalah secara dewasa.
Sakinah membutuhkan ketenteraman yang lahir dari rasa aman; mawaddah membutuhkan cinta yang diwujudkan melalui tindakan; sedangkan rahmah membutuhkan kemampuan memahami kelemahan dan keterbatasan pasangan.
Ketiganya membutuhkan komunikasi dan kesadaran bahwa pasangan bukan objek yang harus ditaklukkan, melainkan subjek yang harus dihormati.
Dalam perspektif NDP HMI, orientasi tersebut dapat diarahkan pada pembentukan manusia yang bertanggung jawab kepada Allah dan kehidupan sosial; sementara Rogers, Freire, Berger-Luckmann, Gramsci, feminisme Islam, dan Nurcholish Madjid membantu memperluas cara kita memahami bagaimana keluarga dapat menjadi ruang pertumbuhan manusia.
Karena itu, membina keluarga bagi seorang kader HMI-Wati seharusnya tidak dipahami sebagai perjalanan meninggalkan perjuangan organisasi menuju kehidupan domestik.
Justru keluarga dapat menjadi perpanjangan dari nilai perjuangan itu sendiri.
Jika HMI berbicara tentang pembentukan insan yang beriman, berilmu, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat, maka nilai tersebut harus menemukan bentuk paling konkret di dalam rumah.
Keluarga adalah laboratorium pertama tempat keislaman diuji, intelektualitas dipraktikkan, kesetaraan dinegosiasikan, dan karakter generasi dibentuk.
Dari rumah yang mampu menghadirkan cinta sekaligus kesadaran kritis, lahirlah manusia yang tidak hanya baik untuk keluarganya, tetapi juga memiliki keberanian untuk memberi arti bagi masyarakat.
Sebab peradaban yang besar tidak hanya dibangun dari mimbar, kampus, dan ruang organisasi; ia pertama kali tumbuh dari rumah yang mengajarkan manusia bagaimana mencintai, berpikir, menghormati, dan bertanggung jawab.
Bumi Panrita Lopi—02 September 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda
Follow Berita InsanNews di Google News


