Catatan Kritis HMI, 5 Februari 2026
Oleh: Buhari Fakkah – Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidenreng – Rappang,- 05 Februari 2026 – Setiap 5 Februari, HMI kembali dirayakan. Spanduk dikibarkan, pidato dilantunkan, dan sejarah diulang dengan nada heroik.
Namun Milad ke-79 HMI, 5 Februari 2026, semestinya bukan sekadar perayaan usia, melainkan sidang batin:
”Sejauh mana HMI masih setia pada alasan keberadaannya”.
Sebab organisasi yang lahir dari kegelisahan tidak pantas merayakan ulang tahun tanpa kejujuran reflektif.
NDP di Usia 79: Dari Manifesto Perlawanan ke Teks Seremonial
Nilai Dasar Perjuangan (NDP) dirumuskan sebagai fondasi epistemik dan etik, alat baca realitas, bukan dekorasi pidato. Namun di usia 79, NDP lebih sering terdengar dalam seremoni Milad ketimbang dalam sikap politik kader.
Ia dihafal, tetapi jarang mengganggu kenyamanan.
Ia dikutip, tetapi jarang menimbulkan risiko.
Di titik ini, NDP mengalami nasib yang oleh Arkoun disebut sebagai pembekuan makna:
“Nilai hidup direduksi menjadi teks aman bagi status quo”.
Gramsci dan Krisis Intelektual Organik
Gramsci mengingatkan, organisasi kader hanya bermakna sejauh ia mampu melahirkan intelektual organik, mereka yang berpihak pada yang tertindas dan berani melawan hegemoni. Tetapi Milad ke-79 justru dirayakan di tengah kelangkaan kader yang bersedia tidak aman.
Banyak yang cerdas, sedikit yang berani. Banyak yang vokal, sedikit yang konsisten.
Alih-alih mengganggu hegemoni, sebagian kader memilih beradaptasi secara elegan. Kritik dilunakkan, posisi dinegosiasikan. Intelektualisme menjelma keterampilan bertahan hidup, bukan senjata pembebasan.
Bourdieu: Milad dan Pamer Modal Simbolik
Dalam kacamata Pierre Bourdieu, Milad HMI kerap menjadi arena pertunjukan modal simbolik. Atribut kader, jejaring alumni, dan nostalgia perjuangan dipertontonkan bukan untuk dipertaruhkan, melainkan dipamerkan.
Identitas HMI berfungsi sebagai mata uang sosial:
“Memperlancar akses, membuka pintu kekuasaan”.
Jarang ada yang berani mempertaruhkan modal itu untuk menentang ketidakadilan yang nyata. Modal simbolik menumpuk, tetapi keberanian menipis.
Arkoun: Islam yang Aman, Bukan Islam yang Membebaskan
Arkoun mengkritik keras Islam yang dibekukan, agama yang dirawat hanya sejauh tidak mengganggu tatanan. Dalam banyak perayaan Milad, Islam tampil rapi, sopan, dan aman. Tetapi jarang tampil sebagai kekuatan kritik historis.
Kesalehan menjadi simbol, bukan praksis pembebasan. Spirit keislaman hadir dalam doa penutup, tetapi absen dalam sikap terhadap ketimpangan struktural.
Milad sebagai Titik Uji, Bukan Titik Nyaman
Milad ke-79 HMI seharusnya menjadi titik uji raison d’être:
Apakah HMI masih mencetak insan cita, atau sekadar menyiapkan kader yang siap menyesuaikan diri?
Apakah HMI masih rumah intelektual, atau telah berubah menjadi ruang tunggu kekuasaan?
Jika Milad hanya diisi dengan pujian diri dan foto bersama, maka usia hanyalah angka. Dan organisasi yang hidup dari nostalgia, sesungguhnya telah berhenti bertumbuh.
Penutup
Pada 5 Februari 2026, HMI tidak sedang bertambah tua, tapi HMI sedang diminta memilih tetap menjadi gerakan kesadaran yang gelisah, atau berubah menjadi monumen yang sopan, sunyi, dan tak lagi ditakuti oleh ketidakadilan.
Sebab raison d’être sejati tidak dirayakan, tapi ia dipertanggungjawabkan.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New


