Oleh: Baharuddin Hafid (Akademisi Universitas Megarezky Makassar)
INSAN.NEWS || Makassar—Apakah benar Rasulullah pernah “meramalkan” bahwa bangsa Persia akan membela Islam? Pertanyaan ini bukan sekadar teologis.
Ia telah menjadi amunisi ideologis. Di tengah polarisasi dunia Islam, sebagian kalangan mengutip hadis tentang Persia untuk mengukuhkan legitimasi politik modern, khususnya kepemimpinan Islam di Iran.
Tetapi benarkah demikian?
Riwayat yang sering dikutip berasal dari tafsir QS. Muhammad; 38. Ketika ayat turun—“Jika kamu berpaling, Allah akan mengganti kamu dengan kaum yang lain”—Nabi menepuk pundak Salman al-Farisi dan memberi isyarat bahwa jika iman berada di bintang Tsurayya, orang dari kaum itu akan meraihnya.
Riwayat ini tercatat dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Secara sanad, hadis ini kuat. Tetapi persoalannya bukan pada kesahihan teks. Persoalannya adalah pada cara membacanya.
Antara Nubuat dan Nafsu Politik
Hadis tersebut tidak berbicara tentang negara. Ia tidak menyebut republik, revolusi, atau sistem pemerintahan. Ia berbicara tentang iman. Tentang kapasitas intelektual. Tentang daya juang spiritual.
Sejarah membuktikan bahwa kawasan Persia memang melahirkan raksasa-raksasa peradaban; Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Abu Hanifa, hingga Al-Ghazali.
Mereka membela Islam bukan dengan tank dan rudal, tetapi dengan metodologi, disiplin ilmu, dan integritas epistemik.
Di titik ini kita perlu jujur; membela Islam secara iman dan ilmu adalah satu hal; mengklaim pembelaan Islam melalui dominasi geopolitik adalah hal lain.
Sejak Revolusi Islam 1979 yang dipimpin Ruhollah Khomeini, Iran tampil sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni Barat. Narasi anti-imperialisme, dukungan terhadap Palestina, dan konsep Wilayat al-Faqih membentuk wajah politiknya.
Sebagian umat melihat ini sebagai “pembuktian hadis”. Namun pembacaan seperti itu problematik. Mengapa? Karena ia melompat dari simbol iman ke legitimasi kekuasaan.
Islam Tidak Pernah Bernasionalitas Tunggal
Nabi tidak pernah mengislamkan etnisitas. Islam melampaui Arab dan Persia. Ia juga melampaui batas Syiah dan Sunni.
Jika hadis itu dipahami secara etnis, maka kita sedang mereduksi universalitas Islam menjadi proyek kultural tertentu. Padahal pesan mendasarnya justru sebaliknya;
- Ketika satu komunitas melemah, Allah menghadirkan yang lain.
- Itu hukum sosiologis sejarah Islam.
- Dulu Arab memulai.
- Lalu Persia menguatkan.
- Kemudian Turki mengorganisasi.
Lanjut penjelasan Bahar, Senin (02/03/2026), dan hari ini, Asia Tenggara—termasuk Indonesia—menjadi laboratorium demografi Islam terbesar di dunia.
Apakah kita akan menunggu “nubuat” lain untuk merasa sah sebagai pembela Islam?
Iran; Realitas Politik, Bukan Takdir Teologis
Iran adalah negara-bangsa modern dengan kepentingan strategis, kalkulasi keamanan, dan ambisi regional. Ia bukan sekadar representasi iman, melainkan aktor geopolitik rasional seperti negara lain.
Membaca hadis sebagai legitimasi absolut bagi negara modern berbahaya karena;
- Ia mengaburkan kritik terhadap kekuasaan.
- Ia menjadikan teks suci sebagai tameng politik.
- Ia memindahkan iman dari ruang etika ke ruang propaganda.
- Islam selalu lebih besar dari negara mana pun.
Jika suatu saat Iran berubah arah politiknya, apakah hadis itu juga berubah makna? Tentu tidak. Karena teksnya berbicara tentang kualitas spiritual, bukan konstitusi negara.
Tantangan Bagi Dunia Islam
Justru pertanyaan pentingnya bukan; “Apakah Iran sedang menggenapi hadis?”
Tetapi;
Apakah kita—umat Islam hari ini—masih layak disebut kaum yang menjaga iman hingga ke “bintang Tsurayya”?
Jika iman berarti integritas, maka pembela Islam adalah mereka yang jujur.
Jika iman berarti ilmu, maka pembela Islam adalah mereka yang serius membangun tradisi intelektual.
Jika iman berarti keberanian moral, maka pembela Islam adalah mereka yang melawan ketidakadilan—bahkan jika pelakunya sesama Muslim.
Hadis tentang Persia bukan sertifikat keunggulan etnis. Ia adalah peringatan keras; umat bisa diganti.
Dan sejarah menunjukkan, pengganti itu selalu datang dari mereka yang bekerja, bukan yang sekadar mengklaim.
Maka sebelum menunjuk ke Teheran, mungkin kita perlu bercermin di Jakarta, Makassar, dan seluruh Nusantara.
Karena bisa jadi, yang ditunggu bukan Persia berikutnya. Tetapi kebangkitan etika yang lama kita abaikan.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


