Opinions

Rektor, UIN Kendari, dan Ikhtiar Melahirkan Genre Pemikiran Islam

Rektor UIN
Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag., Dosen Sejarah Pemikiran Islam Pascasarjana UIN Kendari, menulis tentang arah baru UIN Kendari setelah transformasi kelembagaan dari IAIN menjadi UIN, Rabu (16/9/2026). Foto Ist

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.

(Dosen Sejarah Pemikiran Islam Pascasarjana UIN Kendari)

Dari Transformasi Kelembagaan Menuju Identitas Intelektual

INSAN.NEWS || Kendari—Ada peristiwa yang tampak administratif, tetapi sesungguhnya mengandung makna filosofis.

Perubahan nama dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Kendari adalah salah satunya.

Muhajir Tantang MKKS dan Kepala SMP Makassar: Jangan Cuma Bicara Peduli, Buktikan Aksi!

Sejak 28 Juli 2026, IAIN Kendari memasuki babak baru sebagai UIN Kendari. Transformasi tersebut bukan sekadar perubahan huruf “I” menjadi “U”.

Ia membawa konsekuensi yang jauh lebih besar: perubahan horizon keilmuan, perluasan mandat akademik, penguatan kelembagaan, dan—yang paling penting—pertanyaan tentang identitas dan ekosistem intelektual apa yang hendak dibangun oleh sebuah universitas Islam negeri yang lahir dari tanah Sulawesi Tenggara.

Di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Dr. H. Husain Insawan, M.Ag., ikhtiar transformasi tersebut harus dibaca sebagai pekerjaan yang belum selesai. ”Ibarat bait-bait azan, UIN Kendari dan ekosistem intelektual yang ditawarkan tidak hadir untuk menyudahi, tapi justru baru memulai”.

Keputusan administratif hanyalah pintu masuk.

UIN baru benar-benar lahir apabila transformasi nomenklatur berubah menjadi transformasi paradigmatik.

HIPMI PT Dibentuk di Bulukumba, Tiga Kampus Siapkan Kader Pengusaha Muda

Sebab universitas tidak dibedakan terutama oleh gedungnya.

Universitas dibedakan oleh cara berpikirnya.

Dari IAIN ke UIN: Bukan Sekadar Menambah Fakultas

Selama ini perubahan IAIN menjadi UIN sering dipahami secara sederhana: IAIN mengembangkan fakultas-fakultas baru di luar rumpun studi keislaman, seperti sains, teknologi, ekonomi, kesehatan, atau ilmu sosial.

Itu penting.

Appi Instruksikan Pembagian Masker Gratis, Sekolah di Makassar Batasi Aktivitas Luar Ruangan

Tetapi belum cukup.

Jika transformasi hanya berarti menambah program studi, maka UIN berisiko menjadi sekadar perguruan tinggi yang lebih besar dengan nama baru.

Padahal universitas dari kata “universum” bermakna semesta, seharusnya merupakan semesta ruang perjumpaan berbagai disiplin ilmu baik dalam paras interdisipliner, transdisipliner, maupun multidisipliner. Kesemestaan gagasan dan ilmu yang yang terjalin harmoni dalam interconnective link, adalah paradigma yang musti dimekarkan dalam universitas.

Di sinilah makna transformasi sesungguhnya berada.

UIN Kendari perlu bergerak dari paradigma:

“perguruan tinggi agama yang membuka ilmu umum”

menuju:

“universitas Islam yang mengembangkan ilmu secara integratif, transdisipliner, interdisipliner, dan multidisipliner yang kontekstual, dan berakar pada realitas Indonesia Timur dan Indonesia secara luas bahkan hingga ke kawasan Asia Tenggara.”

Perubahan tersebut membutuhkan keberanian epistemologis.

Islam tidak cukup ditempatkan sebagai objek kajian.

Islam harus menjadi sumber inspirasi etik dan intelektual untuk membaca realitas.

Sebaliknya, ilmu-ilmu sosial, humaniora, filsafat, sains, teknologi, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan juga tidak boleh diposisikan sebagai wilayah yang terpisah dari studi Islam.

Di sinilah universitas menemukan maknanya.

Prof. Husain dan Ujian Transformasi

Kepemimpinan Prof. Husain Insawan berada pada sebuah persimpangan sejarah.

Di satu sisi, terdapat tuntutan administratif: menyelesaikan perangkat kelembagaan, tata kelola, sumber daya manusia, program studi, akreditasi, infrastruktur, sistem akademik, dan jejaring kemitraan.

Di sisi lain, terdapat tuntutan yang jauh lebih berat: menentukan arah intelektual UIN Kendari.

Yang pertama dapat diukur melalui dokumen.

Yang kedua akan diukur oleh sejarah.

Rektor dapat meninggalkan gedung.

Dapat meninggalkan program.

Dapat meninggalkan sejumlah kebijakan.

Tetapi warisan terbesar seorang rektor adalah mazhab berpikir yang berhasil ditanamkan dalam ekosistem akademik.

Karena itu, tantangan Prof. Husain bukan hanya membuat UIN Kendari menjadi besar secara kelembagaan.

Tantangan sesungguhnya adalah membuatnya dikenal karena gagasan.

Pertanyaan strategisnya kemudian:

Apa yang kelak membuat seorang akademisi di Jakarta, Makassar, Yogyakarta, atau bahkan Kuala Lumpur berkata:

“Kalau ingin memahami Islam di kawasan kepulauan dan Indonesia Timur, bacalah karya-karya dari UIN Kendari.”

Jika pertanyaan itu dapat dijawab, maka UIN Kendari telah menemukan sebagian identitasnya.

Jangan Menjadi UIN yang Seragam

Indonesia memiliki banyak UIN.

Masing-masing memiliki sejarah, lingkungan sosial, tradisi intelektual, dan ekosistem budaya yang berbeda.

Karena itu, UIN Kendari tidak harus meniru UIN lain.

Justru tantangannya adalah menemukan distingsi.

Jakarta mempunyai sejarah pemikiran dan dinamika masyarakat urban.

Yogyakarta memiliki tradisi intelektual Islam yang kuat dan panjang.

Makassar memiliki sejarah Islam yang terkait erat dengan jaringan ulama, kerajaan, perdagangan, dan dunia maritim.

Kendari memiliki kekayaan lain.

Ia berada di jantung Sulawesi Tenggara.

Ia berhadapan langsung dengan realitas masyarakat kepulauan.

Ia hidup bersama masyarakat Tolaki, Buton, Muna, Moronene, Bajo, dan berbagai komunitas lainnya.

Ia berada dalam ruang perjumpaan Islam, adat, kebudayaan, ekologi, pertambangan, maritim, migrasi, dan perubahan sosial.

Inilah laboratorium intelektual yang luar biasa.

Mengapa harus mencari tema dari jauh jika Nusantara Timur sendiri menyediakan pertanyaan-pertanyaan besar tentang Islam dan peradaban?

Studi Kawasan Islam sebagai Distingsi

Salah satu genre yang sangat potensial dikembangkan adalah Studi Kawasan Islam.

Studi kawasan bukan sekadar mempelajari “Islam di Timur Tengah”, “Islam di Afrika”, “Islam di Eropa”, atau “Islam di Asia Tenggara”.

Lebih jauh, studi kawasan mengajarkan bahwa Islam selalu hadir dalam konteks sejarah, geografis, budaya, politik, ekonomi, dan peradaban tertentu.

Islam yang hidup di Kairo tidak persis sama dengan Islam yang tumbuh di Istanbul.

Islam di Delhi tidak identik dengan Islam di Aceh.

Islam di Jawa tidak identik dengan Islam di Sulawesi.

Dan Islam di Sulawesi Tenggara memiliki pengalaman sejarahnya sendiri.

Di sinilah UIN Kendari memiliki peluang yang sangat besar.

Islam kawasan Indonesia Timur menuju kawasan Asia Tenggara dapat menjadi laboratorium epistemologis UIN Kendari.

Bukan untuk mengurung Islam dalam batas lokal.

Justru sebaliknya.

Dari lokal menuju nasional.

Dari nasional menuju regional.

Dari regional menuju global.

Dari Kendari Membaca Islam Dunia

Bayangkan apabila UIN Kendari kelak memiliki pusat unggulan:

Center for Eastern Indonesian Islamic Studies (CEIIS)Menuju Center for Southeast Asia Islamic Studiea (CSAIS)

Pusat kajian yang secara serius meneliti:

  • Islam kepulauan;
  • Islam dan masyarakat pesisir;
  • Islam dan kerajaan-kerajaan Nusantara Timur;
  • Islam dan perdagangan maritim;
  • Islam dan jaringan ulama;
  • Islam dan masyarakat adat;
  • Islam dan bahasa lokal;
  • Islam dan ekologi;
  • Islam dan pertambangan;
  • Islam dan konflik sosial;
  • Islam dan migrasi;
  • Islam dan moderasi beragama;
  • Islam dan kebudayaan lokal;
  • Islam digital;

hingga Islam dalam perubahan geopolitik kawasan Indo-Pasifik dan Asia Tenggara.

Maka Kendari tidak lagi hanya menjadi tempat belajar tentang pemikiran Islam.

Kendari menjadi produsen pengetahuan tentang Islam.

Inilah perbedaan antara kampus yang hanya mengonsumsi teori dan kampus yang memproduksi teori.

Dari Objek Menjadi Subjek Pengetahuan

Selama bertahun-tahun, banyak kawasan di Indonesia Timur lebih sering menjadi objek penelitian.

Peneliti datang.

Mengambil data.

Menulis artikel.

Kemudian kembali ke pusat-pusat akademik.

Kawasan Timur menjadi bahan penelitian, tetapi teori tetap diproduksi di pusat.

UIN Kendari dapat memutus pola tersebut.

Kendari harus menjadi subjek produksi pengetahuan.

Masyarakat Tolaki tidak hanya menjadi objek penelitian tentang adat.

Mereka dapat menjadi sumber epistemologi kebudayaan.

Masyarakat pesisir tidak hanya menjadi objek penelitian kemiskinan.

Mereka dapat menjadi sumber pengetahuan tentang ekologi maritim.

Pesantren tidak hanya menjadi objek penelitian pendidikan.

Ia dapat menjadi sumber teori tentang transmisi pengetahuan Islam.

Kerajaan-kerajaan Islam di Sulawesi Tenggara tidak hanya menjadi catatan sejarah.

Ia dapat menjadi sumber rekonstruksi tentang politik, hukum, ekonomi, dan jaringan intelektual Islam Nusantara.

Dengan demikian, Studi Kawasan Islam berubah dari sekadar mata kuliah menjadi proyek intelektual.

Genre Pemikiran Islam “Mazhab” Kendari

Di sinilah gagasan tentang “genre pemikiran Islam UIN Kendari” menjadi menarik.

Genre tidak berarti membuat Islam versi Kendari.

Bukan.

Islam tetap memiliki sumber normatif universal.

Tetapi cara manusia memahami dan mengaktualisasikan Islam selalu berada dalam konteks.

Karena itu, mungkin suatu hari kita dapat berbicara tentang:

“Pemikiran Islam Kepulauan.”

Atau:

“Islam Kawasan Timur Indonesia.”

Atau lebih luas:

“Islam Maritim-Nusantara.” dan berujung pada Studi Kawasan Islam Asia Tenggara” yang punya karakteristik kajian Archipelago dan maritim yang kuat.

Sebuah pemikiran Islam yang mempertemukan:

  • wahyu,
  • sejarah,
  • kebudayaan,
  • kearifan lokal,
  • ekologi,
  • kemaritiman,
  • pluralitas,
  • dan teknologi.

Ini bukan Islam yang dikurangi universalitasnya.

Justru universalitas Islam diuji melalui kemampuannya berdialog dengan kenyataan.

Dari Islam Tekstual ke Islam Kontekstual dan Transformatif

Genre tersebut dapat dikembangkan melalui pendekatan yang tidak mempertentangkan teks dan konteks.

Al-Qur’an tetap menjadi sumber normatif.

Hadis tetap menjadi sumber penting.

Tradisi keilmuan klasik tetap dihormati.

Tetapi semuanya dibawa ke dalam dialog dengan realitas.

Misalnya, ketika UIN Kendari berbicara tentang lingkungan, ia tidak cukup hanya mengutip ayat-ayat ekologis.

Ia harus membaca problem pertambangan.

Membaca deforestasi.

Membaca masyarakat pesisir.

Membaca perubahan iklim.

Membaca krisis air.

Membaca ekonomi ekstraktif.

Kemudian mempertemukannya dengan tafsir, fikih, maqāṣid al-syarī‘ah, filsafat Islam, etika lingkungan, dan ilmu ekologis.

Di situlah pendekatan transdisipliner memperoleh relevansinya.

Islam tidak hanya dibaca dengan ilmu; Islam juga diajak berbicara dengan ilmu.

Dari Lokalitas Menuju Kosmopolitanisme

Ada kekhawatiran bahwa terlalu menekankan lokalitas akan membuat universitas menjadi lokalistik.

Justru sebaliknya.

Universitas yang tidak mengenal akar biasanya sulit memiliki identitas ketika memasuki dunia global.

Kita tidak perlu menjadi global dengan meninggalkan lokalitas.

Kita dapat menjadi global dengan membawa lokalitas ke dalam percakapan dunia.

Kearifan Tolaki dapat didialogkan dengan indigenous knowledge.

Islam kepulauan dapat diperbandingkan dengan Islam di Maladewa, Zanzibar, Filipina Selatan, Malaysia, atau Pasifik.

Sejarah perdagangan Muslim Sulawesi dapat dibaca bersama sejarah Samudra Hindia.

Ekoteologi masyarakat pesisir Sulawesi Tenggara dapat diperbandingkan dengan etika lingkungan masyarakat Muslim di Asia Selatan.

Dengan demikian, Kendari dapat menjadi jendela untuk membaca dunia.

Dan dunia dapat membaca Islam melalui Kendari.

Rektor sebagai Arsitek Peradaban

Di sinilah kepemimpinan rektor memperoleh makna yang lebih dalam.

Rektor bukan hanya administrator.

Ia adalah arsitek ekosistem pengetahuan.

Ia harus memastikan dosen memiliki ruang untuk berpikir.

Mahasiswa memiliki ruang untuk bertanya.

Pusat studi memiliki ruang untuk bereksperimen.

Jurnal memiliki ruang untuk menerbitkan gagasan.

Laboratorium memiliki ruang untuk penelitian.

Dan kritik akademik memiliki ruang untuk hidup.

Universitas yang sehat bukan universitas yang semua orangnya berpikir sama.

Universitas yang sehat adalah universitas yang memungkinkan perbedaan pemikiran bertemu dalam tradisi ilmiah.

Karena itu, transformasi IAIN menjadi UIN harus sekaligus menjadi transformasi budaya akademik:

  • dari birokrasi menuju akademia;
  • dari rutinitas menuju kreativitas;
  • dari pengajaran menuju riset;
  • dari konsumsi pengetahuan menuju produksi pengetahuan;
  • dari monodisipliner menuju transdisipliner;
  • dari lokalitas tertutup menuju lokalitas yang kosmopolitan.

UIN Kendari dan Masa Depan Pemikiran Islam

Pada akhirnya, keberhasilan UIN Kendari tidak akan ditentukan oleh seberapa megah gedungnya.

Bukan pula hanya oleh banyaknya fakultas.

Bukan semata-mata oleh jumlah mahasiswa.

Dan bukan hanya oleh banyaknya kerja sama internasional.

Ukuran yang lebih penting adalah:

apa yang dipikirkan UIN Kendari yang belum dipikirkan kampus lain?

Apa pertanyaan ilmiah yang lahir dari Kendari?

Apa teori yang tumbuh dari Sulawesi Tenggara?

Apa karya monumental yang membuat dunia akademik menoleh ke Timur?

Apa kontribusi UIN Kendari terhadap pemikiran Islam Indonesia?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus menjadi agenda intelektual pascatransformasi.

Sebab menjadi UIN bukan garis akhir.

Ia adalah awal dari ujian yang sesungguhnya.

IAIN Kendari telah melewati fase panjang untuk mendapatkan nama baru.

Kini UIN Kendari harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan nama dalam sejarah pemikiran Islam.

Prof. Husain Insawan dan seluruh sivitas akademika memiliki kesempatan untuk meletakkan fondasi itu.

Transformasi kelembagaan harus disusul transformasi epistemologis.

Transformasi epistemologis harus melahirkan produktivitas ilmiah.

Produktivitas ilmiah harus melahirkan genre pemikiran.

Dan genre pemikiran harus memberi manfaat bagi masyarakat.

Jika rantai itu berhasil dibangun, maka UIN Kendari tidak sekadar menjadi universitas Islam negeri yang baru.

Ia dapat menjadi rumah intelektual Islam Indonesia Timur.

Rumah yang akarnya menghunjam ke tanah Sulawesi Tenggara, tetapi cakrawalanya menembus Nusantara dan dunia.

Pada akhirnya, universitas yang besar bukanlah universitas yang paling banyak berbicara tentang dirinya.

Universitas yang besar adalah universitas yang membuat dunia mulai berbicara tentang gagasan yang lahir darinya.

Dan mungkin, di situlah cita-cita terbesar transformasi IAIN menjadi UIN Kendari menemukan maknanya:

bukan sekadar mengubah nama lembaga, tetapi mengubah posisi Kendari dari konsumen pengetahuan menjadi produsen pengetahuan; dari pinggiran menjadi salah satu simpul intelektual; dari kampus yang mengajarkan pemikiran Islam menjadi kampus yang ikut melahirkan pemikiran Islam.

Itulah pekerjaan besar setelah transformasi.

Dan sejarah akan menilai kepemimpinan Prof. Husain Insawan bukan hanya dari berhasil atau tidaknya sebuah lembaga berubah menjadi universitas.

Sejarah akan bertanya lebih jauh:

genre pemikiran Islam apa yang lahir dari rahim UIN Kendari?

Jika jawabannya adalah pemikiran Islam yang berakar pada lokalitas, terbuka pada dunia, kuat secara tradisi, kritis secara akademik, transdisipliner dalam pendekatan, dan berpihak pada kemanusiaan serta kelestarian alam, maka transformasi itu telah melampaui administrasi.

Ia telah menjadi transformasi peradaban.

Sulawesi Tenggara—16 September 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda

‎Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement