INSAN.NEWS || Maros—Isu perubahan iklim dan ancaman kerusakan lingkungan menjadi sorotan utama dalam forum Intermediate Training (LK II) Tingkat Nasional Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Butta Salewangang Maros yang berlangsung di Hotel Afiat, Jumat (22/5/2026).
Diskusi tersebut menghadirkan Abdul Syukur Ahmad, auditor karbon Sulawesi Cipta Forum sekaligus mantan Sekretaris Umum Badko HMI Sulselbar, sebagai narasumber utama.
Dalam materi bertajuk “Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Kearifan Lokal”, Abdul Syukur Ahmad menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar isu global yang jauh dari kehidupan masyarakat.
Menurutnya, dampak krisis iklim telah dirasakan secara nyata melalui cuaca ekstrem, krisis air bersih, rusaknya ekosistem, ancaman terhadap ketahanan pangan, hingga meningkatnya kerentanan masyarakat pesisir dan petani.
“Perubahan iklim bukan ancaman masa depan, tetapi realitas yang sedang kita hadapi hari ini. Karena itu, kesadaran ekologis harus menjadi bagian dari gerakan sosial dan gerakan intelektual kader,” ujar Abdul Syukur Ahmad di hadapan peserta LK II Nasional.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan pembangunan modern selama ini kerap mengabaikan keseimbangan antara manusia dan alam.
Padahal, masyarakat lokal di berbagai daerah Indonesia memiliki pengetahuan ekologis yang diwariskan secara turun-temurun, mulai dari tata kelola hutan, pola pertanian tradisional, konservasi air, hingga sistem ruang hidup yang menjaga harmoni lingkungan.
“Kearifan lokal sesungguhnya mengajarkan bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam tanpa merusak keseimbangannya. Nilai-nilai itu harus dihidupkan kembali dalam kebijakan publik dan gerakan masyarakat,” katanya.
Diskusi berlangsung dinamis ketika peserta mempertanyakan relasi antara eksploitasi sumber daya alam, krisis iklim global, dan arah pembangunan nasional.
Abdul Syukur Ahmad menilai kader HMI harus mengambil posisi strategis dalam mengawal kebijakan lingkungan serta mendorong pembangunan berkelanjutan yang berpihak pada kepentingan rakyat dan kelestarian alam.
“Mahasiswa dan kader organisasi tidak boleh menjadi penonton dalam isu lingkungan. Krisis ekologis berkaitan langsung dengan keadilan sosial, kemiskinan, dan masa depan generasi mendatang,” tegasnya.
Forum tersebut menjadi ruang refleksi intelektual bagi kader HMI mengenai pentingnya membangun perspektif ekologis dalam gerakan keumatan dan kebangsaan.
Melalui pembahasan itu, peserta diharapkan mampu memahami bahwa perjuangan sosial dan pembangunan nasional tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


