News

Saat Hati Retak, Rahmat Masuk: Membaca QS. al-Zumar:53

Hati retak
Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag., Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama (KUB) MUI Sulawesi Tenggara dan Dosen Pascasarjana IAIN Kendari, Kamis (11/06/2026). Foto Ist

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.

(Ketua Komisi KUB MUI Sulawesi Tenggara dan Dosen Pascasarjana IAIN Kendari) 

INSAN.NEWS || Kendari—Peradaban modern sedang mengalami paradoks yang sulit disangkal. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi ketenangan jiwa semakin langka.

Manusia semakin terkoneksi melalui internet, tetapi semakin terasing dari dirinya sendiri. Informasi tersedia tanpa batas, tetapi makna hidup terasa semakin sulit ditemukan.

Di tengah kemajuan digital, dunia justru menghadapi peningkatan kecemasan, depresi, kesepian, _burnout_, dan krisis identitas.

Merawat Air Mata Perkaderan Melalui Ice Breaking dan Public Speaking

Organisasi kesehatan dunia berkali-kali mengingatkan bahwa kesehatan mental telah menjadi salah satu tantangan utama abad ke-21. Namun persoalannya bukan sekadar medis atau psikologis.

Di balik gejala-gejala tersebut terdapat krisis yang lebih mendasar: krisis spiritualitas dan krisis makna.

Dalam konteks inilah QS. al-Zumar ayat 53 layak dibaca kembali, bukan hanya sebagai ayat tentang ampunan dosa, tetapi sebagai teks yang menawarkan paradigma penyembuhan eksistensial bagi manusia modern.

Allah Swt. berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Mutasi Inspektur Bantaeng Dipertanyakan, Muncul Dugaan Pergeseran Jabatan Tak Sesuai Prosedur

Qul yā ‘ibādiyallażīna asrafū ‘alā anfusihim lā taqnaṭū mir raḥmatillāh, innallāha yaghfiruż-żunūba jamī’ā, innahū huwal-ghafūrur-raḥīm.

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini sering dipahami sebagai seruan taubat bagi para pendosa. Namun jika dibaca melalui pendekatan hermeneutika kontemporer, maknanya jauh lebih luas. Frasa “asrafū ‘alā anfusihim” (melampaui batas terhadap diri mereka sendiri) dapat dibaca sebagai segala bentuk tindakan yang merusak integritas kemanusiaan.

Hari ini, melampaui batas terhadap diri sendiri tidak selalu berbentuk kemaksiatan dalam pengertian klasik. Ia dapat menjelma menjadi kecanduan digital, obsesi citra diri, budaya kerja yang eksploitatif, konsumsi informasi tanpa henti, hingga ketergantungan terhadap validasi sosial yang membuat manusia kehilangan pusat dirinya.

Dari Dosa Menuju Alienasi

Petani Sawit Kotim Protes Pembayaran TBS Tertahan, Massa Datangi Kantor BGA dan Ditjen Pajak

Dalam kerangka hermeneutika integratif yang dikembangkan oleh M. Amin Abdullah, teks Al-Qur’an tidak dibaca secara terisolasi dari realitas sosial dan ilmu pengetahuan. Teks, konteks, dan pengalaman manusia harus saling berdialog.

Melalui pendekatan ini, dosa tidak hanya dipahami sebagai pelanggaran hukum Tuhan, tetapi juga sebagai keterputusan relasi yang membentuk keutuhan manusia.

Seseorang mungkin tidak melakukan dosa besar secara formal, tetapi hidup dalam keadaan terasing dari dirinya sendiri. Ia kehilangan makna hidup, kehilangan rasa syukur, kehilangan kemampuan menikmati keberadaan, bahkan kehilangan kemampuan merasakan kehadiran Tuhan.

Inilah yang oleh para filsuf modern disebut alienasi.

Manusia digital sering mengalami apa yang dapat disebut sebagai spiritual _homelessness_—kehilangan rumah spiritualnya. Ia memiliki akun di berbagai platform, tetapi tidak lagi memiliki ruang sunyi untuk berdialog dengan dirinya sendiri.

Media sosial menciptakan budaya perbandingan tanpa akhir. Setiap hari manusia menyaksikan kesuksesan orang lain yang telah diedit secara visual dan naratif. Akibatnya lahirlah kecemasan, rendah diri, dan perasaan tidak cukup.

Dalam perspektif Al-Qur’an, keadaan ini dapat dibaca sebagai bentuk baru dari isrāf ‘alā al-nafs—kezaliman terhadap diri sendiri.

Rahmat sebagai Terapi Eksistensial

Salah satu kontribusi penting psikologi transpersonal adalah kesadarannya bahwa manusia bukan hanya makhluk biologis dan psikologis, tetapi juga makhluk spiritual.

Tokoh-tokoh seperti Abraham Maslow pada fase akhir pemikirannya menyimpulkan bahwa kebutuhan terdalam manusia bukan hanya keamanan atau penghargaan sosial, melainkan pengalaman transendensi.

Manusia membutuhkan sesuatu yang melampaui dirinya.

Dalam konteks ini, QS. al-Zumar:53 menghadirkan konsep rahmat sebagai terapi eksistensial.

Menarik bahwa Allah tidak memulai ayat ini dengan ancaman, melainkan dengan panggilan kasih:

Yā ‘Ibādī_” “Wahai hamba-hamba-Ku

Bahasa ini sangat penting secara psikologis. Banyak gangguan mental modern berakar pada perasaan tidak dicintai, tidak diterima, dan tidak berharga. Sementara ayat ini justru memulai proses penyembuhan dengan pengakuan identitas.

Manusia yang berdosa tetap dipanggil sebagai hamba-Nya.

Manusia yang jatuh tetap diakui keberadaannya.

Manusia yang gagal tetap memiliki tempat untuk kembali.

Di sini rahmat tidak sekadar berarti pengampunan, tetapi juga penerimaan eksistensial.

Allah menerima manusia bahkan sebelum manusia berhasil memperbaiki dirinya.

Pesan inilah yang sering hilang dalam masyarakat yang terlalu menekankan performa, pencapaian, dan kesempurnaan.

Tasawuf Kontemporer dan Rekonstruksi Kesadaran

Tasawuf kontemporer tidak lagi hanya berbicara tentang uzlah di sudut masjid atau khalwat di pegunungan. Tasawuf hari ini berbicara tentang bagaimana menjaga kejernihan hati di tengah banjir informasi dan kebisingan digital.

Dalam banyak refleksi pemikiran Muhammad Sabri AR, spiritualitas Islam harus dipahami sebagai kesadaran yang membebaskan manusia dari keterpecahan diri. Spiritualitas bukan pelarian dari dunia, melainkan kemampuan menghadirkan makna Ilahi dalam realitas kehidupan.

Dari perspektif ini, taubat dalam QS. al-Zumar:53 bukan sekadar penyesalan moral.

Taubat adalah rekonstruksi kesadaran.

Taubat adalah keberanian untuk kembali menjadi diri yang autentik.

Taubat adalah proses menemukan kembali fitrah yang tertutup oleh ego, ambisi, dan ilusi dunia digital.

Para sufi menyebut proses ini sebagai perjalanan dari _ghaflah_ (kelalaian) menuju _yaqzhah_ (kesadaran).

Manusia modern tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan kesadaran.

Ia mengetahui banyak hal tentang dunia, tetapi sedikit mengetahui dirinya sendiri.

Ia mengenal algoritma media sosial, tetapi tidak mengenal struktur batinnya.

Ia mampu membaca data, tetapi gagal membaca jiwanya.

Karena itu, persoalan terbesar manusia modern sesungguhnya bukan kebodohan, melainkan kehilangan kesadaran spiritual.

Ketika Hati Retak, Cahaya Menemukan Jalannya

Dalam tradisi tasawuf terdapat keyakinan bahwa kehancuran batin sering menjadi awal kebangkitan spiritual.

Kesombongan menutup pintu rahmat, tetapi kerendahan hati membukanya.

Luka sering kali menjadi ruang masuknya cahaya.

Karena itu, keputusasaan yang dilarang dalam QS. al-Zumar:53 bukan sekadar sikap negatif, melainkan penolakan terhadap kemungkinan transformasi yang telah Allah sediakan.

Seseorang yang masih berharap kepada rahmat Allah sesungguhnya masih memiliki masa depan spiritual.

Dan selama masa depan itu masih ada, tidak ada alasan untuk menyerah.

Penutup

QS. al-Zumar:53 bukan hanya ayat tentang dosa dan ampunan. Ia adalah deklarasi Qur’ani tentang harapan, kesehatan mental, dan pemulihan eksistensial.

Di tengah meningkatnya depresi, kesepian, dan alienasi digital, ayat ini menawarkan paradigma yang sangat relevan: bahwa manusia tidak dapat disembuhkan hanya dengan teknologi, informasi, atau hiburan. Ia juga membutuhkan rahmat, makna, dan hubungan dengan Yang Transenden.

Ketika dunia digital membuat manusia kehilangan dirinya, Al-Qur’an mengajaknya pulang.

Ketika budaya performatif membuat manusia lelah menjadi sempurna, Allah mengajaknya kembali apa adanya.

Dan ketika hati retak oleh kegagalan, dosa, atau kekecewaan, QS. al-Zumar:53 mengingatkan bahwa rahmat Allah selalu menemukan jalan untuk masuk.

Mungkin karena itu ayat ini tetap hidup sepanjang zaman. Sebab pada akhirnya, setiap manusia adalah musafir yang sedang mencari jalan pulang. Dan rahmat Allah adalah cahaya yang menerangi perjalanan itu.

Sulawesi Tenggara—11 Juni 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement