Oleh: Dr. Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidrap—Ali Syariati mengingatkan bahwa persoalan terbesar suatu bangsa bukanlah kekurangan orang berilmu, melainkan melimpahnya orang berilmu yang kehilangan keberanian.
Dalam Ideologi Kaum Intelektual, ia menegaskan bahwa intelektual bukan sekadar pemilik pengetahuan, tetapi pemikul tanggung jawab sejarah. Ilmu tidak berhenti sebagai penghias kepala, melainkan harus menjelma menjadi keberpihakan kepada kebenaran.
Di titik inilah lahir dua tipe intelektual. Pertama, intelektual yang hidup pada wilayah esensi. Ia bangga dengan gelar akademik, jabatan, publikasi ilmiah, dan reputasi profesional.
Keberhasilannya diukur dari pengakuan yang diterima, bukan dari perubahan yang dihadirkan. Pengetahuan menjadi identitas, tetapi tidak pernah menjadi kekuatan untuk menggugat ketidakadilan. Ia cerdas secara akademik, namun pasif secara moral.
Kedua, intelektual yang hidup pada wilayah eksistensi. Ia tidak hanya mengetahui, tetapi juga bersaksi. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga menyuarakan. Baginya, ilmu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat.
Ketika hukum dipermainkan, ia berbicara. Ketika kekuasaan menyimpang, ia mengkritik. Ketika rakyat dilemahkan, ia berdiri di pihak mereka. Eksistensi intelektual diukur dari keberanian menghidupkan nilai-nilai yang diyakininya.
Ironisnya, yang lebih banyak kita saksikan hari ini adalah intelektual yang memilih aman daripada benar. Mereka fasih menjelaskan teori keadilan, tetapi membisu ketika keadilan dipermainkan.
Mereka mengutip etika dalam ruang kuliah, tetapi melupakan etika ketika berhadapan dengan kekuasaan. Mereka memiliki kecerdasan, tetapi kehilangan daya gugat. Mereka mempunyai suara, tetapi memilih diam.
Diamnya kaum intelektual bukanlah sikap netral. Dalam banyak keadaan, diam justru menjadi bentuk persetujuan yang paling halus terhadap ketidakadilan. Ketika ilmu tidak lagi membela kebenaran, ia berubah menjadi aksesori kekuasaan. Kampus kehilangan fungsi moralnya, dan kaum cendekiawan berubah menjadi penonton sejarah.
Karena itu, pertanyaan Ali Syariati tetap menggema hingga kini: apakah kita ingin dikenang sebagai intelektual yang hanya memiliki esensi keilmuan, atau sebagai intelektual yang menghadirkan eksistensi melalui keberanian membela kebenaran?
Sejarah tidak selalu mengingat siapa yang paling banyak ilmunya. Sejarah lebih sering mengingat siapa yang berani mempertaruhkan ilmunya demi kebenaran.
Sidenreng Rappang—15 Juli 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


