News

HMI Ditantang Lahirkan Intelektual Transformatif: Membaca Zaman, Menggerakkan Peradaban Indonesia

HMI Cabang Maros
Narasumber sekaligus Master Of Training (MoT) LK II HMI Cabang Butta Salewangang Maros, Sabaruddin, saat menyampaikan materi bertajuk "Gerakan Intelektual HMI: Membaca Zaman, Menggerakkan Peradaban Indonesia" dalam forum kaderisasi tingkat nasional HMI. Senin (18/5/2026). Foto Ist

INSAN.NEWS || Maros—Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dinilai memiliki tanggung jawab strategis dalam melahirkan kader intelektual yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjawab tantangan perubahan sosial dan krisis peradaban yang dihadapi bangsa saat ini.

‎Hal tersebut disampaikan narasumber sekaligus Master of Training (MoT) dalam kegiatan Latihan Kader II (LK II) HMI Cabang Butta Salewangang Maros, Sabaruddin atau yang akrab disapa Bangbarsa, yang juga merupakan fungsionaris Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota (PA) HMI Badko Sulawesi Selatan.

‎Kegiatan LK II tersebut berlangsung di Wisma Afiat, Jalan Poros Daya–Maros, dan diikuti kader HMI dari berbagai cabang di seluruh Indonesia, Senin (18/5/2026).

‎Dalam pemaparannya bertajuk “Gerakan Intelektual HMI: Membaca Zaman, Menggerakkan Peradaban Indonesia,” Bangbarsa menegaskan bahwa perubahan sosial merupakan keniscayaan dalam perjalanan sejarah manusia.

‎Menurutnya, perkembangan teknologi, dinamika politik global, serta pergeseran nilai sosial menuntut hadirnya kader intelektual yang mampu membaca arah zaman secara kritis dan komprehensif.

Makassar Menuju Transportasi Modern, Munafri Tawarkan Skema BTS dan Subsidi APBD

‎“Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang bukan hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga memiliki kapasitas transformatif untuk mengarahkan perubahan menuju tatanan yang lebih adil dan berkeadaban,” ujarnya.

‎Ia menjelaskan, gerakan intelektual HMI tidak dapat dipahami sebatas aktivitas akademik atau diskusi wacana semata.

‎Lebih dari itu, gerakan intelektual harus menjadi proses dialektis antara pengetahuan, kesadaran kritis, dan tindakan sosial yang berpihak kepada kepentingan rakyat.

‎Menurutnya, prinsip tersebut sejalan dengan Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI yang menekankan integrasi antara iman, ilmu, dan amal sebagai fondasi perjuangan organisasi.

‎Bangbarsa juga menyoroti pentingnya keberpihakan kader terhadap kelompok masyarakat lemah atau mustadh’afin. Ia menilai, intelektual HMI harus hadir sebagai bagian dari solusi sosial, bukan sekadar pengamat realitas.

LK II HMI Maros Bedah Teori Perubahan Sosial, Peserta Soroti Ketimpangan hingga Kapitalisme

‎“Gerakan intelektual kader harus mampu membongkar ketimpangan sosial, membaca struktur kekuasaan, dan melahirkan gagasan strategis yang berpihak pada keadilan sosial,” katanya.

‎Dalam perspektif pemikiran kritis, lanjutnya, kader HMI dituntut memiliki keberanian moral serta kesadaran reflektif untuk menghubungkan dunia ide dengan realitas sosial masyarakat.

‎‎Karena itu, kader tidak cukup hanya menjadi produsen gagasan, tetapi juga harus menjadi aktor perubahan di tengah masyarakat.

‎Melalui tema LK II “Gerakan Intelektual HMI: Membaca Zaman, Menggerakkan Peradaban Indonesia,” kegiatan tersebut diarahkan menjadi ruang strategis dalam memperkuat kapasitas kader untuk memahami dinamika perubahan sosial sekaligus merumuskan gagasan-gagasan strategis dalam membangun peradaban bangsa.

‎“LK II harus menjadi medium pembentukan kader intelektual transformatif yang mampu mengintegrasikan nilai ketauhidan, keadilan sosial, dan keberpihakan kepada rakyat dalam setiap praksis gerakannya,” tegasnya.

Ketua KPU Maros Sebut LK II HMI Jadi Ruang Strategis Cetak Kader Politik dan Demokrasi

‎Ia berharap, HMI terus konsisten melahirkan generasi intelektual yang mampu membaca arah perubahan zaman sekaligus menjadi penggerak utama dalam membangun Indonesia yang lebih adil, demokratis, dan berkeadaban.

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement