News

LPP ATLANTARA Dorong Bosowa School Makassar Jadi Rujukan Pendidikan Karakter

LPP ATLANATARA
Miss Tika, Kepala Sekolah Bosowa School Makassar, menjadi perhatian LPP ATLANTARA atas pendekatan kepemimpinan dan penyelesaian masalah yang memadukan ketegasan aturan dengan pembinaan karakter siswa, Selasa (27/10). Foto Ist

INSAN.NEWS || Makassar—Lembaga Pemantau dan Pemerhati Pendidikan ATLANTARA (LPP ATLANTARA) mengapresiasi pendekatan kepemimpinan dan penyelesaian masalah (problem solving) yang diterapkan Miss Tika, Kepala Sekolah Bosowa School Makassar.

Pendekatan yang memadukan ketegasan terhadap aturan dengan pembinaan siswa itu dinilai berpotensi menjadi referensi bagi lembaga pendidikan lain.

Ketua Umum LPP ATLANTARA, Fadel Sofyan, menilai kedisiplinan di lingkungan sekolah tidak cukup dibangun melalui aturan tertulis.

Sekolah juga perlu memastikan setiap prosedur operasional standar (SOP) diterapkan secara konsisten, adil, dan berorientasi pada pembentukan karakter.

Menurut dia, SOP semestinya tidak berhenti sebagai dokumen administratif, melainkan menjadi pedoman dalam membangun budaya organisasi dan perilaku positif di lingkungan pendidikan.

Fadel Sofyan Perkenalkan Appi sebagai Falsafah di Kejari Makassar, Panca (Kajari) : Jangan Hanya Menganggap Ini Beban Kepala Sekolah, Kita Harus Terlibat. Kami Dukung!

“Menjadi pendidik itu tidak mudah, tetapi kita harus tetap melakukan yang terbaik untuk anak. Disiplin bukan untuk menghukum, melainkan mendidik. Pendidik juga harus menjadi teladan bagi anak: tegas dalam aturan, adil dalam proses, dan konsisten dalam pembinaan,” Selasa (27/10).

Pendekatan tersebut menempatkan konsekuensi atas pelanggaran sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan semata-mata instrumen untuk memberikan hukuman.

Dalam praktiknya, sekolah perlu memastikan bahwa konsekuensi yang diberikan sesuai dengan tingkat pelanggaran dan tetap mempertimbangkan kondisi serta penjelasan siswa.

Dalam materi yang disampaikan, Miss Tika menekankan tiga prinsip dalam penerapan kedisiplinan, yakni mendidik, adil, dan proporsional.

Konsekuensi harus membantu siswa memahami kesalahan, bukan sekadar menimbulkan rasa takut.

PENYADAPAN PRESIDEN, BAYANG-BAYANG MAKAR, DAN TANGAN TERSEMBUNYI KEKUASAAN

Aturan juga harus berlaku bagi seluruh siswa, dengan tetap memberi ruang bagi mereka untuk menyampaikan penjelasan sebelum keputusan diambil.

Selain itu, penanganan pelanggaran perlu mempertimbangkan tingkat keseriusannya. Pelanggaran ringan, sedang, dan berat tidak semestinya ditangani dengan pendekatan yang seragam.

“Setiap pelanggaran tetap ada konsekuensi yang tegas, tetapi setelah itu kami duduk bersama, kami dengarkan alasan anak, dan kami bina. Setiap anak punya peluang melakukan kesalahan, tetapi setiap anak juga punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik”.

Bagi LPP ATLANTARA, keseimbangan antara ketegasan dan pendekatan humanis menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan kedisiplinan di sekolah.

Aturan yang konsisten diperlukan untuk membangun tanggung jawab, sedangkan pembinaan memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami dampak perbuatannya dan memperbaiki perilaku.

LPP ATLANTARA HADIR MENGAWAL MARWAH PERADABAN DAN HARGA DIRI PENDIDIKAN KOTA MAKASSAR

Direktur Hubungan Antar Lembaga LPP ATLANTARA, Muh. Rusdi, juga memberikan apresiasi terhadap pendekatan pembinaan kedisiplinan di Bosowa School Makassar.

Ia menilai konsistensi penerapan aturan perlu disertai tujuan pendidikan yang jelas agar konsekuensi tidak berhenti pada pemberian sanksi.

LPP ATLANTARA selanjutnya merekomendasikan Bosowa School Makassar sebagai salah satu kandidat lokasi benchmarking atau kunjungan pembelajaran bagi lembaga pendidikan yang ingin mendalami kepemimpinan sekolah, penerapan SOP, pengelolaan kedisiplinan, serta penyelesaian masalah berbasis pembinaan karakter.

Rekomendasi itu diharapkan membuka ruang pertukaran pengalaman antarlembaga pendidikan.

Namun, penetapan praktik tersebut sebagai model yang dapat direplikasi secara luas tetap memerlukan penelaahan terhadap prosedur, konsistensi pelaksanaan, serta dampaknya terhadap perilaku dan perkembangan siswa.

Bagi LPP ATLANTARA, pendidikan karakter tidak cukup diukur dari kepatuhan siswa terhadap aturan.

Lebih jauh, pendidikan perlu membantu mereka memahami alasan di balik aturan, bertanggung jawab atas tindakan, dan memiliki kemampuan memperbaiki diri.

Ketegasan tanpa pembinaan berisiko menjadikan disiplin sekadar kepatuhan. Sebaliknya, pendekatan humanis tanpa konsistensi dapat membuat aturan kehilangan makna.

Tantangan sekolah adalah menjaga keduanya tetap berjalan agar kedisiplinan menjadi bagian dari proses belajar, bukan sekadar urusan pemberian sanksi.

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda

‎Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement