Ketika Menara Akademik Runtuh oleh Uang dan Kekuasaan
Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Akademisi dan Direktur Pusat Studi Pancasila dan Konstitusi UIN Kendari)
INSAN.NEWS || Kendari—Dunia pendidikan tinggi kembali memperoleh “mata kuliah” yang tidak pernah tercantum dalam kurikulum: Operasi Tangkap Tangan (OTT). Bukan tentang kecerdasan buatan, world-class university atau transformasi digital, melainkan tentang uang, kekuasaan, suap, dan korupsi.
Satire Prof. Ganjar Kurnia dalam catatan “OTT Rektor” menyentuh persoalan yang jauh lebih dalam daripada sekadar tertangkapnya seorang pejabat.
Ia mempertanyakan ironi ketika institusi yang seharusnya mendidik manusia justru diuji oleh kegagalan moral pemimpinnya.
Rektor adalah simbol universitas. Ia berdiri di podium wisuda, berbicara tentang integritas, kejujuran, moralitas, dan masa depan bangsa.
Namun integritas sesungguhnya tidak diuji ketika mikrofon menyala. Ia diuji ketika tidak ada kamera, ketika kekuasaan berada di tangan, dan ketika kesempatan untuk menyimpang terbuka.
Integritas bukan pidato. Integritas adalah pilihan.
Jangan Hanya Mengejar Ranking
Perguruan tinggi hari ini berlomba mengejar akreditasi, publikasi, sitasi, reputasi internasional, dan world ranking. Semua itu penting. Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar:
Untuk apa menjadi universitas kelas dunia jika integritasnya kelas bawah?
Universitas bukan hanya pabrik pengetahuan. Ia adalah ruang pembentukan manusia. Mahasiswa belajar bukan hanya dari buku dan ruang kuliah, tetapi juga dari perilaku para pemimpinnya.
Jika mahasiswa diminta jujur dalam ujian, sementara pejabat kampus melakukan korupsi, maka kampus sedang mengajarkan dua standar moral.
Jika mahasiswa dihukum karena menyontek, tetapi penyalahgunaan kekuasaan dianggap sekadar “persoalan personal”, maka pesan moral yang diterima mahasiswa menjadi sangat berbahaya.
Sebab *kurikulum tersembunyi sering kali lebih kuat daripada kurikulum tertulis*.
OTT Harus Menjadi Cermin
Kasus OTT semestinya tidak berhenti sebagai berita kriminal tentang seorang rektor. Ia harus menjadi cermin bagi tata kelola perguruan tinggi.
Benar, secara hukum setiap orang harus diperlakukan berdasarkan asas praduga tak bersalah dan kesalahannya harus dibuktikan melalui proses hukum. Tetapi secara kelembagaan, universitas juga wajib melakukan otokritik:
Bagaimana pengawasan berjalan?
Di mana celah sistemnya?
Apakah budaya kekuasaan terlalu permisif?
Mengapa penyimpangan tidak terdeteksi lebih awal?
Karena itu, perguruan tinggi membutuhkan bukan hanya Operasi Tangkap Tangan, tetapi juga Operasi Tangkap Diri. kemampuan institusi mengenali konflik kepentingan, penyalahgunaan jabatan, budaya transaksional, dan tanda-tanda penyimpangan sebelum semuanya menjadi perkara hukum.
Rektor: Jabatan atau Amanah?
Dalam tradisi Islam, kepemimpinan adalah amanah:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”_
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Jabatan bukan _privilage_, melainkan pertanggungjawaban.
Semakin tinggi jabatan, semakin berat amanahnya.
Karena itu, seorang rektor tidak cukup bertanya:
“Apa yang dapat saya lakukan dengan kekuasaan ini?”
Tetapi harus bertanya:
“Apa yang akan saya pertanggungjawabkan karena kekuasaan ini?”
Di situlah etika kepemimpinan bermula.
Peringkat Nurani
Universitas boleh mengejar world ranking. Boleh mengejar reputasi internasional. Boleh membangun gedung megah, laboratorium canggih, dan menghasilkan ribuan publikasi.
Tetapi jangan lupa membangun sesuatu yang tidak pernah tercantum dalam tabel pemeringkatan:
peringkat nurani
Universitas yang besar bukan hanya universitas yang menghasilkan profesor, doktor, dan publikasi. Ia adalah universitas yang menghasilkan manusia berilmu sekaligus berintegritas.
Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya bertanya:
“Seberapa tinggi peringkat universitas itu?”
Mereka juga bertanya:
“Seberapa dapat dipercaya orang-orang yang mengelolanya?”
Jika OTT menjadi pelajaran bagi perguruan tinggi, maka pelajaran terpentingnya sederhana:
jangan sampai kampus mengajarkan integritas melalui kata-kata, tetapi menghancurkannya melalui teladan yang buruk.
Sebab universitas mungkin tidak runtuh karena satu orang melakukan kesalahan.
Universitas mulai runtuh ketika sistem kehilangan keberanian untuk mengoreksi kesalahan, dan ketika jabatan lebih dihormati daripada integritas.
Dan di atas semua gelar, akreditasi, reputasi, serta ranking, ada satu ukuran yang paling menentukan:
Integritas.
Itulah peringkat universitas yang sesungguhnya.
Sulawesi Tenggara—23 Agustus 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda
Follow Berita InsanNews di Google News


