Oleh: Dr. Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidrap—Ilmu pengetahuan sering dipahami sebagai puncak rasionalitas manusia: ia lahir dari observasi, pertanyaan, eksperimen, verifikasi, dan penalaran. Tetapi sebelum manusia bertanya bagaimana sesuatu terjadi, sesungguhnya ada pertanyaan yang lebih dalam: mengapa manusia ingin mengetahui?
Dari mana dorongan untuk mencari kebenaran itu muncul?
Mengapa manusia tidak puas hanya dengan hidup, tetapi terus berusaha memahami kehidupan, alam semesta, dirinya sendiri, bahkan sesuatu yang berada melampaui dirinya?
Pada titik inilah kita dapat melihat bahwa di balik epistemologi terdapat persoalan yang lebih tua dan lebih fundamental: spiritualitas.
Spiritualitas dalam pengertian ini tidak semata-mata identik dengan ritual agama, melainkan kesadaran manusia bahwa dirinya berada dalam suatu tatanan realitas yang lebih luas daripada dirinya sendiri.
Ia melahirkan rasa ingin tahu, kekaguman, kerendahan hati, pencarian makna, dan dorongan untuk menemukan kebenaran.
Albert Einstein memberikan ilustrasi yang sangat kuat mengenai hubungan antara pengetahuan dan rasa takjub. Dalam tulisannya Science and Religion, Einstein mendefinisikan ilmu sebagai usaha sistematis untuk memahami fenomena dunia melalui pemikiran konseptual.
Namun dalam refleksinya yang lebih luas, ia juga menempatkan pengalaman terhadap misteri sebagai salah satu sumber terdalam seni dan ilmu pengetahuan.
Bagi Einstein, kemampuan untuk merasa takjub merupakan bagian penting dari kehidupan intelektual manusia.
Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak semestinya dipahami sebagai proses mekanis yang hanya mengumpulkan fakta.
Di balik aktivitas ilmiah terdapat suatu sikap batin: wonder, rasa kagum terhadap kenyataan. Seorang ilmuwan yang sungguh-sungguh menyelami alam justru semakin menyadari betapa luas wilayah yang belum diketahuinya.
Karena itu, spiritualitas dapat ditempatkan sebagai etos epistemik, yakni sikap batin yang memungkinkan manusia mencari pengetahuan dengan kerendahan hati.
Pengetahuan tanpa kerendahan hati mudah berubah menjadi kesombongan intelektual. Ketika manusia menganggap apa yang dapat diukur sebagai keseluruhan realitas, ilmu dapat berubah menjadi scientism: keyakinan bahwa hanya apa yang dapat diverifikasi secara ilmiah yang memiliki makna atau kebenaran. Padahal, ilmu pengetahuan sendiri mempunyai batas metodologis.
Ia sangat kuat menjawab pertanyaan mengenai bagaimana suatu fenomena berlangsung, tetapi pertanyaan mengenai untuk apa, apa yang seharusnya, dan apa makna kehidupan tidak selalu dapat diselesaikan hanya melalui eksperimen empiris.
Di sinilah pemikiran Max Weber menjadi relevan. Dalam Science as a Vocation, Weber membedakan kerja ilmiah sebagai profesi dari persoalan nilai dan makna.
Kajian mutakhir terhadap pemikirannya menunjukkan bahwa Weber secara serius membicarakan hubungan antara ilmu, rasionalitas, nilai-nilai tertinggi, agama, dan apa yang disebutnya sebagai Entzauberung atau “pelenyapan pesona” dunia akibat rasionalisasi modern.
Dunia modern menjadi semakin dapat dihitung, diukur, diprediksi, dan dikendalikan; tetapi justru karena itu manusia menghadapi paradoks: semakin dunia dapat dijelaskan, belum tentu dunia semakin bermakna.
Maka, problem terbesar ilmu pengetahuan modern bukanlah kekurangan pengetahuan, melainkan kemungkinan kehilangan orientasi.
Manusia dapat mengetahui bagaimana membelah atom, tetapi pengetahuan itu tidak dengan sendirinya menjawab apakah atom tersebut seharusnya digunakan untuk energi atau penghancuran.
Manusia dapat mengembangkan kecerdasan buatan, rekayasa genetika, teknologi digital, dan senjata yang semakin canggih, tetapi kemampuan teknis tersebut tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan moral.
Dengan kata lain, knowledge is not yet wisdom. Pengetahuan memberi manusia kekuatan; spiritualitas dan etika mempertanyakan ke mana kekuatan itu harus diarahkan.
Dari sinilah hubungan antara spiritualitas dan kebudayaan menjadi penting. Kebudayaan pada hakikatnya bukan sekadar pakaian tradisional, tarian, bahasa, makanan, atau upacara adat.
Semua itu hanyalah manifestasi lahiriah. Pada lapisan yang lebih dalam, kebudayaan merupakan cara suatu masyarakat memberi makna terhadap kehidupan.
Ia merupakan kristalisasi nilai, keyakinan, cita-cita, pandangan tentang manusia, alam, Tuhan, sesama, keadilan, kematian, dan masa depan. Dengan demikian, kebudayaan dapat dibaca sebagai spiritualitas yang telah menjadi praksis sosial.
Dalam konteks Indonesia, gagasan ini memiliki resonansi kuat dengan pemikiran Bung Karno tentang bangsa dan kebudayaan. Bagi Soekarno, pembangunan bangsa tidak dapat dipisahkan dari pembentukan manusia Indonesia yang berkepribadian.
Indonesia bukan sekadar wilayah geografis atau konstruksi politik, melainkan suatu bangsa yang dibentuk oleh pengalaman sejarah, nilai, kebudayaan, dan cita-cita bersama.
Karena itu, modernisasi Indonesia seharusnya tidak berarti menanggalkan akar kebudayaannya. Modernitas yang kehilangan kepribadian hanya akan menghasilkan manusia yang secara teknologis maju tetapi secara spiritual dan kebudayaan mengalami keterasingan.
Dalam kerangka tersebut, kebudayaan adalah jembatan antara spiritualitas dan kehidupan sosial. Spiritualitas berada pada wilayah kesadaran nilai; kebudayaan menerjemahkan nilai itu menjadi pola hidup; sedangkan ilmu pengetahuan memberikan kemampuan untuk memahami dan mengolah realitas.
Ketiganya semestinya tidak dipertentangkan. Spiritualitas tanpa pengetahuan dapat jatuh menjadi dogmatisme; ilmu tanpa etika dapat berubah menjadi teknokratisme; sedangkan kebudayaan tanpa kemampuan reflektif dapat membeku menjadi romantisme masa lalu.
Karena itu, hubungan ketiganya dapat dirumuskan secara filosofis: spiritualitas memberikan orientasi, ilmu pengetahuan memberikan penjelasan, dan kebudayaan memberikan bentuk kehidupan.
Spiritualitas bertanya, apa yang bernilai? Ilmu bertanya, bagaimana kenyataan bekerja?
Kebudayaan menjawabnya dalam bentuk praksis: bagaimana manusia seharusnya hidup bersama berdasarkan nilai yang diyakininya?
Pandangan seperti ini juga membuat kita memahami mengapa pencarian ilmu pada hakikatnya merupakan aktivitas yang sangat manusiawi.
Manusia tidak hanya ingin mengetahui fakta; manusia ingin menemukan tempatnya di dalam kenyataan. Ilmu astronomi tidak hanya memberi kita data tentang galaksi, tetapi juga memperbesar kesadaran mengenai kecilnya posisi manusia di alam semesta.
Biologi tidak hanya menjelaskan mekanisme kehidupan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang keajaiban kehidupan itu sendiri.
Fisika tidak hanya menghasilkan persamaan, tetapi membuka misteri tentang struktur realitas. Bahkan semakin ilmu berkembang, semakin panjang pula daftar pertanyaan yang belum terjawab.
Max Planck, salah satu pendiri fisika kuantum, pernah menekankan bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan seluruh misteri terakhir alam karena manusia sendiri merupakan bagian dari misteri yang sedang ia coba pahami.
Pernyataan ini mengandung pelajaran epistemologis yang penting: ilmu pengetahuan yang matang bukan ilmu yang mengklaim telah mengetahui segalanya, melainkan ilmu yang semakin sadar terhadap batas-batas pengetahuannya.
Kesadaran terhadap batas itulah yang mempertemukan ilmu dengan spiritualitas. Spiritualitas bukan musuh rasionalitas. Sebaliknya, dalam pengertian yang filosofis, spiritualitas dapat menjadi kesadaran bahwa rasionalitas manusia memiliki horizon.
Ia mengajarkan kerendahan hati di hadapan realitas, sementara ilmu mengajarkan disiplin dalam memahami realitas. Keduanya bertemu dalam satu sikap: mencari kebenaran tanpa kesombongan.
Karena itu, jika kita mengatakan bahwa “akar ilmu pengetahuan adalah spiritualitas,” pernyataan tersebut tidak harus dimaknai bahwa setiap teori ilmiah berasal dari agama atau bahwa metode ilmiah harus digantikan oleh keyakinan spiritual.
Maknanya jauh lebih filosofis: bahwa dorongan terdalam manusia untuk mencari kebenaran berakar pada kesadaran bahwa kehidupan memiliki sesuatu yang layak dipahami.
Rasa takjub melahirkan pertanyaan; pertanyaan melahirkan pencarian; pencarian melahirkan pengetahuan; pengetahuan yang diberi nilai melahirkan kebijaksanaan; dan kebijaksanaan yang diwujudkan bersama akhirnya menjadi kebudayaan.
Dengan demikian, sebuah bangsa tidak cukup hanya membangun universitas, laboratorium, pusat riset, dan teknologi.
Ia juga harus membangun jiwa yang mampu menentukan untuk apa semua pengetahuan itu digunakan. Bangsa yang memiliki teknologi tetapi kehilangan nilai dapat menjadi kuat secara material namun rapuh secara moral.
Sebaliknya, bangsa yang memiliki spiritualitas tetapi menolak pengetahuan dapat terjebak dalam romantisme dan ketertinggalan.
Indonesia membutuhkan sintesis: ilmu yang berakar pada nilai, teknologi yang berpijak pada kemanusiaan, dan kebudayaan yang terbuka terhadap kemajuan tanpa kehilangan jati diri.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang ilmu pengetahuan bukan hanya pertanyaan tentang apa yang kita ketahui, tetapi juga manusia seperti apa yang dibentuk oleh pengetahuan itu.
Sebab ilmu dapat membuat manusia lebih berkuasa atas alam, tetapi hanya kebijaksanaan yang dapat mengajarkan manusia bagaimana menggunakan kekuasaan tersebut.
Di sinilah spiritualitas menemukan relevansinya: bukan untuk menggantikan ilmu, melainkan untuk mengingatkan ilmu bahwa manusia bukan sekadar makhluk yang mengetahui, tetapi makhluk yang mencari makna.
Maka, dapatlah dirumuskan sebuah tesis sederhana: spiritualitas adalah akar pencarian makna, ilmu pengetahuan adalah jalan pencarian kebenaran, dan kebudayaan adalah jejak historis dari bagaimana manusia mengubah kebenaran dan makna itu menjadi cara hidup.
Dalam perspektif inilah gagasan tentang Indonesia yang berbudaya memperoleh kedalaman filosofis: kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan manifestasi dari dunia batin suatu bangsa. Dan ketika dunia batin itu kehilangan orientasi, kemajuan ilmu pun dapat kehilangan arah.
Ilmu membuat manusia mampu menaklukkan jarak; spiritualitas mengajarkan ke mana ia harus berjalan. Ilmu memperbesar kekuasaan manusia; spiritualitas menguji apakah kekuasaan itu layak digunakan. Dan kebudayaan adalah ruang tempat keduanya bertemu dalam kehidupan nyata.
Sidenreng Rappang—21 Agustus 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda
Follow Berita InsanNews di Google News


