Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidrap—Setiap tahun, umat Islam menyambut Ramadan dengan kesadaran hukum; puasa adalah kewajiban. Ia tercantum jelas dalam Al-Qur’an sebagai perintah normatif yang mengikat setiap mukallaf.
Namun, apakah puasa berhenti pada level syariat? Ataukah ia memiliki kedalaman metafisik yang menyentuh struktur eksistensi manusia?
Melalui filsafat Hikmah Muta‘āliyah yang dirumuskan oleh Mulla Sadra, perintah puasa dapat dibaca bukan sekadar sebagai kewajiban ritual, tetapi sebagai proyek ontologis sebuah transformasi intensitas wujud manusia.
Al-Qur’an menegaskan:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Ayat ini lazim dipahami secara etis; puasa bertujuan membentuk takwa. Namun dalam horizon metafisika Sadra, takwa bukan hanya kategori moral, melainkan peningkatan kualitas keberadaan (intensifikasi wujūd). Di sinilah syariat bertemu metafisika.
Primasi Wujud: Fondasi Ontologis
Konsep paling mendasar dalam filsafat Mulla Sadra adalah Aṣālat al-Wujūd (primasi eksistensi). Ia menegaskan bahwa yang hakiki dalam realitas bukanlah esensi (mahiyyah), melainkan eksistensi itu sendiri. Esensi hanyalah batas konseptual; wujudlah yang nyata.
Manusia, dalam kerangka ini, bukan entitas statis dengan hakikat tetap. Ia adalah realitas dinamis yang bergerak dan mengalami intensifikasi keberadaan. Eksistensi manusia dapat melemah, dapat pula menguat.
Apa kaitannya dengan puasa?
Jika wujud bersifat dinamis dan bertingkat, maka setiap tindakan manusia berpotensi memodifikasi intensitas keberadaannya. Puasa menjadi salah satu tindakan yang paling radikal dalam memengaruhi struktur eksistensial manusia.
Ketika seseorang berpuasa, ia secara sadar menahan kebutuhan biologis yang paling mendasar. Tubuh yang merepresentasikan lapisan wujud terendah ditundukkan.
Pada saat yang sama, dimensi ruhani memperoleh ruang untuk menguat. Dengan demikian, puasa bukan sekadar perubahan perilaku, tetapi perubahan konfigurasi eksistensial.
Gradasi Wujud dan Kenaikan Derajat
Sadra mengembangkan teori Tasykīk al-Wujūd (gradasi eksistensi); wujud memiliki tingkatan kualitas. Ada wujud yang lemah, ada yang kuat; ada yang material, ada yang immaterial.
Manusia berada di antara dua kutub: materi dan intelek. Ia bisa terperosok dalam dominasi jasmani, atau naik menuju kesempurnaan akal dan ruh.
Dalam konteks ini, puasa berfungsi sebagai mekanisme kenaikan derajat eksistensial. Dengan mengendalikan syahwat, manusia mengurangi keterikatannya pada tingkat wujud yang rendah dan bergerak menuju intensitas yang lebih tinggi.
Takwa, yang menjadi tujuan puasa, dapat dipahami sebagai kondisi ketika eksistensi manusia semakin selaras dengan cahaya Wujud Mutlak. Ia bukan sekadar kepatuhan hukum, tetapi transformasi ontologis.
Gerak Substansial: Puasa sebagai Percepatan Evolusi Jiwa
Revolusi terbesar Mulla Sadra terletak pada konsep Al-Ḥarakah al-Jawhariyyah (gerak substansial). Berbeda dengan tradisi Aristotelian yang menganggap substansi tetap, Sadra menyatakan bahwa substansi itu sendiri bergerak.
Jiwa manusia tidak statis. Ia berevolusi dari potensi menuju aktualitas. Dari keberadaan yang lemah menuju keberadaan yang lebih sempurna.
Dalam kerangka ini, puasa bukan sekadar tindakan aksidental (perubahan perilaku luar), melainkan faktor yang memengaruhi gerak substansial jiwa. Ia mempercepat proses penyempurnaan eksistensial.
Setiap pengendalian diri, setiap kesabaran dalam lapar dan dahaga, merupakan momentum intensifikasi wujud. Jiwa menjadi lebih ringan dari beban material dan lebih siap menerima iluminasi intelektual dan spiritual.
Dengan demikian, Ramadan dapat dibaca sebagai bulan akselerasi ontologis.
Puasa dan Pengetahuan Presensial
Dimensi metafisik puasa juga berkaitan dengan epistemologi Sadra. Ia membedakan antara pengetahuan representasional (‘ilm ḥuṣūlī) dan pengetahuan presensial (‘ilm ḥuḍūrī).
Pengetahuan tertinggi bukanlah konsep dalam pikiran, melainkan kehadiran langsung realitas dalam diri subjek.
Puasa membuka kemungkinan pengalaman semacam ini. Saat tubuh dilemahkan dan kesunyian batin menguat, hijab material menipis. Kesadaran menjadi lebih reflektif dan lebih hadir.
Dalam pengalaman lapar, manusia menyadari ketergantungannya secara eksistensial. Ia tidak lagi merasa otonom sepenuhnya. Kesadaran akan keterbatasan ini menjadi pintu masuk bagi pengalaman kehadiran Ilahi.
Di sinilah puasa melampaui hukum lahiriah dan menjadi pengalaman metafisik.
Dari Kewajiban ke Transformasi
Membaca puasa dalam kerangka Hikmah Muta‘āliyah menggeser fokus dari “apa yang harus dilakukan” menuju “apa yang terjadi pada eksistensi manusia.”
Syariat bukan sekadar aturan eksternal, tetapi desain ilahi untuk memfasilitasi gerak naik manusia dalam hierarki wujud.
Puasa adalah latihan ontologis. Ia mengurangi dominasi materi, menguatkan ruh, mempercepat gerak substansial jiwa, dan membuka ruang pengetahuan presensial.
Dengan demikian, perintah puasa bukan hanya tuntutan moral, tetapi strategi metafisik untuk menyempurnakan eksistensi manusia.
Dalam dunia modern yang cenderung materialistik, pembacaan ini menjadi relevan. Manusia sering direduksi menjadi tubuh biologis dan makhluk konsumsi.
Puasa justru menegaskan bahwa manusia melampaui tubuhnya. Ia memiliki kapasitas untuk bergerak naik secara esensial.
Syariat, dalam perspektif ini, bukan pembatas kebebasan, melainkan jembatan menuju intensifikasi wujud.
Dan puasa, di bawah cahaya metafisika Mulla Sadra, adalah salah satu jembatan paling radikal menuju kesempurnaan eksistensial.
Sidenreng Rappang—05 Maret 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


