Opinions

Murka Tanpa Memori: Ketika yang Tak Terbakar Sibuk Mengajari Api

Video
‎Dr. Buhari Fakkah, M.Pd---Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng---Rappang, Pemerhati Demokrasi, Dan Etika Publik. Aktif menulis Opini Reflektif Tentang Filsafat, Demokrasi dan Politik di Berbagai Media. Jum'at (17/04/2026). Foto Ist

Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang 

INSAN.NEWS || Sidrap—Ada satu jenis kemarahan yang paling berisik di negeri ini yaitu kemarahan yang lahir bukan dari pengalaman, melainkan dari potongan video berdurasi 30 detik.

Ketika Yusuf Kalla berbicara, sebagian orang mendadak menjadi hakim moral. Mereka mengernyit, tersinggung, lalu dengan penuh percaya diri mengumumkan bahwa ucapan itu “berbahaya”, “melecehkan”, bahkan “memecah belah”.

Ironisnya, banyak dari mereka tidak pernah mencium bau mesiu, apalagi menyaksikan rumah terbakar karena nama Tuhan diperebutkan.

Sementara itu, dari Ambon dan Poso adalah dua tanah yang pernah menjadi laboratorium paling brutal bagi konflik identitas suara yang muncul justru berbeda. Tokoh agama di sana tidak marah. Mereka tidak sibuk melaporkan. Mereka justru memahami. Bahkan memuji.

Bodoh yang Dipelihara: Ketika Pelapor Menjadi Api dalam Sekam

Aneh? Tidak juga.

Yang aneh adalah mereka yang tidak pernah tenggelam, tetapi sibuk mengajari orang lain cara berenang di tengah badai.

Fragmen Lebih Berisik dari Fakta

Di era ini, kebenaran memang tidak perlu utuh. Cukup sepotong. Cukup dipelintir. Cukup diberi caption provokatif.

Maka lahirlah generasi baru yaitu para generasi pejuang keadilan berbasis klip pendek.

DEMOKRASI DELIBERATIF DAN KEADABAN TEOLOGIS

Mereka tidak butuh konteks. Konteks itu melelahkan. Membaca itu berat. Lebih mudah tersinggung daripada memahami.

Padahal, ucapan yang dipermasalahkan itu lahir dari rahim sejarah panjang, sejarah yang mencatat bagaimana Perjanjian Malino I dan Perjanjian Malino II bukan sekadar dokumen, tetapi penutup luka kolektif yang nyaris tak tersembuhkan.

Namun tentu saja, sejarah kalah cepat dari algoritma.

Moralitas Instan dan Aktivisme Tanpa Risiko

Kita sedang menyaksikan lahirnya moralitas instan reaktif, dangkal, dan gemar tampil.

Demokrasi: Kritik Kosmologis atas Ilusi Daulat Rakyat

Di satu sisi, ada orang yang pernah bernegosiasi dengan amarah massa, menenangkan konflik, bahkan mempertaruhkan reputasi demi damai. Di sisi lain, ada mereka yang mempertaruhkan yaitu komentar di media sosial.

Dan yang lebih lucu, kelompok kedua ini merasa lebih berhak menentukan mana ucapan yang “layak” dan mana yang “tidak”.

Sungguh paradoks yang menggelikan sebab mereka yang tidak pernah menyentuh bara, justru paling keras berteriak tentang panas.

Empati yang Terbalik

Tokoh agama di Ambon dan Poso tidak membaca ucapan itu sebagai penghinaan. Mereka membaca sebagai refleksi.

Karena mereka tahu konflik tidak lahir dari kata-kata saja, tapi dari realitas sosial yang lebih rumit dan seringkali pahit.

Mereka tidak alergi pada kejujuran, karena mereka pernah hidup di dalam konsekuensinya.

Sebaliknya, sebagian orang di luar sana menunjukkan empati yang aneh sebab lebih peduli pada perasaan yang belum tentu terluka, daripada pada pengalaman nyata yang sudah berdarah.

Ketika Sensitivitas Menjadi Komoditas

Di negeri ini, tersinggung adalah mata uang. Semakin cepat tersinggung, semakin tinggi nilai sosialnya. Tidak perlu memahami.

Cukup bereaksi. Tidak perlu berdialog. Cukup melaporkan. Dan tentu saja, tidak perlu menyelesaikan konflik. Cukup memastikan konflik itu tetap hidup setidaknya di linimasa.

Penutup: Belajar dari yang Pernah Terbakar

Barangkali sudah waktunya kita belajar satu hal sederhana:

Bahwa tidak semua ucapan harus diadili oleh mereka yang tidak memahami konteksnya.

Bahwa pengalaman adalah guru yang jauh lebih jujur daripada potongan video.

Dan bahwa suara dari Ambon dan Poso seharusnya cukup menjadi pengingat bahwa mereka yang pernah terbakar, biasanya lebih bijak dalam berbicara tentang api.

Sementara yang belum pernah tersentuh panas, sebaiknya tidak terlalu cepat mengklaim diri sebagai ahli kebakaran.

Karena dalam banyak kasus di negeri ini, yang paling bising bukanlah mereka yang paling tahu melainkan mereka yang paling tidak sabar untuk terlihat tahu.

Sidenreng Rappang—17 April 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda ‎Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement