INSAN.NEWS || Sidrap—Dalam lanskap politik yang kian bising, kita menyaksikan satu fenomena klasik yang dibungkus dengan kemasan modern: menumpang tenar di atas nama besar.
Dan kali ini, nama yang dijadikan panggung itu adalah Jusuf Kalla tokoh yang bahkan tanpa perlu berteriak, tetap didengar.
Ironisnya, mereka yang paling lantang justru bukan mereka yang punya rekam jejak sebanding, melainkan mereka yang baru menemukan mikrofon.
Dengan penuh percaya diri atau mungkin justru defisit refleksi mereka memotong ucapan, meracik ulang makna, lalu menjualnya sebagai komoditas kemarahan publik.
Sebuah praktik yang, dalam istilah akademik yang lebih sopan, bisa disebut sebagai parasitisme simbolik.
Di sini, kita tidak sedang menyaksikan perdebatan substansial. Tidak ada pertarungan gagasan. Yang ada hanyalah upaya menunggangi legitimasi.
Nama besar seperti JK diperlakukan bukan sebagai sumber pemikiran, melainkan sebagai alat produksi atensi. Ini bukan diskursus tapi ini strategi.
Lebih menarik lagi, kegaduhan ini mengabaikan satu fakta yang terlalu merepotkan untuk diakui: di wilayah seperti Ambon dan Poso, nama JK justru dikenang sebagai arsitek perdamaian.
Artinya, ketika ada pihak lain yang merasa tersinggung, persoalannya bukan semata pada ucapan, melainkan pada ketimpangan pengalaman historis.
Tapi tentu saja, mengakui kompleksitas semacam ini tidak pernah laku di pasar sensasi.
Kita akhirnya sampai pada satu ironi besar: mereka yang mengaku membela moral publik justru sedang mereduksi ruang publik itu sendiri.
Alih-alih memperkaya deliberasi, mereka justru mempraktikkan apa yang bisa disebut sebagai deliberasi yang gagal sebuah proses yang tampak demokratis di permukaan, tetapi miskin kedalaman, data, dan itikad intelektual.
Dalam situasi seperti ini, kritik bukan lagi alat pencarian kebenaran, melainkan instrumen produksi popularitas.
Dan publik? Ia dijadikan penonton yang dipaksa memilih antara potongan narasi, bukan memahami keseluruhan realitas.
Maka benar kiranya: ini bukan sekadar “mencari panggung”. Ini adalah seni memanfaatkan gema berteriak di bawah bayang-bayang tokoh besar, lalu mengira suaranya sendiri yang bergema paling keras.
Sidenreng Rappang—19 April 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


