Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidrap—Di negeri yang katanya merdeka ini, kritik kadang diperlakukan seperti virus. Bukan untuk diuji dan dipelajari, melainkan segera dikarantina kalau perlu disterilkan.
Anehnya, yang sibuk memegang termometer bukan dokter demokrasi, melainkan para relawan dadakan yang alergi pada cermin.
Setiap kalimat yang tidak mengandung pujian dianggap gejala. Setiap pertanyaan yang tidak menyenangkan dicurigai sebagai rencana besar.
Dan setiap kegelisahan publik, jika tidak segera dipeluk sebagai aspirasi, akan dituduh sebagai upaya menggoyang stabilitas sebuah kata yang sering lebih sakral daripada kebenaran itu sendiri.
Di titik ini, kritik kehilangan tempatnya sebagai vitamin demokrasi. Ia diperlakukan seperti racun.
Padahal, tanpa kritik, kekuasaan tumbuh seperti tanaman hias di ruang tertutup: hijau dari jauh, tetapi rapuh saat disentuh kenyataan.
Para penjaga citra sering berkata, “Ini demi ketertiban.” Tentu saja. Ketertiban yang dimaksud adalah ketertiban narasi di mana semua suara harus rapi, seirama, dan tidak sumbang.
Sebab suara sumbang, dalam kamus mereka, bukanlah perbedaan; itu ancaman. Dan ancaman, betapapun kecilnya, lebih mudah ditangani dengan label daripada dengan dialog.
Label adalah jalan pintas paling efisien. Mengapa harus membantah argumen jika bisa menempelkan stigma? Mengapa harus membuka ruang diskusi jika cukup menutupnya dengan tuduhan? Dalam ekonomi wacana yang serba cepat, label adalah mata uang yang paling laku.
Akibatnya, kita hidup dalam paradoks: semua orang bebas bicara, selama yang dibicarakan tidak terlalu penting.
Semua orang boleh berpendapat, selama pendapatnya tidak menyentuh saraf kekuasaan. Dan semua orang dipersilakan mengkritik selama kritiknya terasa seperti pujian yang salah ketik.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa kemajuan tidak lahir dari tepuk tangan yang seragam, melainkan dari keberanian untuk tidak sepakat.
Kritik yang jujur bukanlah upaya merobohkan rumah bersama, melainkan memperbaiki fondasinya.
Menolak kritik sama saja dengan menolak inspeksi bangunan terlihat kokoh, sampai suatu hari runtuh tanpa aba-aba.
Tentu, kritik juga punya batas. Ia membutuhkan data, nalar, dan tanggung jawab. Tetapi menyamakan kritik dengan ancaman hanyalah cara halus untuk menghindari pekerjaan yang lebih sulit: mendengarkan.
Dan mendengarkan, bagi sebagian orang, memang jauh lebih menakutkan daripada sekadar menuduh.
Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak pembela yang siap menangkis setiap kritik, melainkan lebih banyak warga yang berani bertanya tanpa segera dicurigai.
Sebab demokrasi yang sehat tidak diukur dari seberapa nyaring pujian, tetapi dari seberapa tahan ia terhadap pertanyaan.
Pada akhirnya, sebuah pemerintahan yang kuat bukanlah yang kebal kritik, melainkan yang mampu hidup berdampingan dengannya.
Karena jika setiap cermin dianggap ancaman, maka yang tersisa hanyalah bayangan yang dipoles indah, tetapi tak pernah jujur.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


