INSAN.NEWS || Makassar—Direktur Profetik Institute, Asratillah, menilai dinamika menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan menunjukkan pentingnya aspirasi akar rumput sebagai dasar utama dalam menentukan Ketua DPD I Golkar Sulsel ke depan.
Menurutnya, suara DPD II kabupaten/kota tidak boleh diabaikan karena selama ini kekuatan Partai Golkar lahir dari struktur daerah dan loyalitas kader di tingkat bawah.
Hal tersebut, kata dia, juga sejalan dengan arahan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang berulang kali menekankan pentingnya menjaga soliditas partai dan mendengar aspirasi kader daerah.
“Aspek paling penting dalam Musda Golkar Sulsel bukan hanya soal siapa yang menang, tetapi siapa yang benar-benar memiliki legitimasi di tingkat akar rumput. Karena kekuatan Golkar selama ini lahir dari struktur daerah dan kerja kader di bawah,” kata Asratillah di Makassar, Senin.18/5/2026
Ia menilai dorongan agar Musda Golkar Sulsel berlangsung secara aklamasi tidak boleh dipandang sebagai upaya membatasi demokrasi internal, melainkan langkah untuk menjaga persatuan partai di tengah meningkatnya rivalitas politik menjelang Musda.
Asratillah juga menyoroti langkah Plt Ketua Golkar Sulsel, Muhidin Mohamad Said, yang melakukan safari konsolidasi ke sejumlah daerah. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan keseriusan DPP dan DPD I dalam menyerap aspirasi para pemilik suara di tingkat kabupaten/kota.
“Kalau kita membaca pidato dan manuver konsolidasi Pak Muhidin, sebenarnya pesan utamanya jelas bahwa suara daerah harus didengar. Itu juga sejalan dengan semangat Pak Bahlil yang ingin Musda tidak melahirkan perpecahan,” ujarnya.
Dalam konteks itu, nama Munafri Arifuddin atau Appi dinilai menjadi salah satu figur yang paling diuntungkan secara politik. Pasalnya, Appi disebut telah mendapatkan dukungan luas dari banyak DPD II di Sulawesi Selatan dalam beberapa bulan terakhir.
“Dalam politik Golkar, dukungan elite memang penting, tetapi akar kekuatan partai tetap ada di DPD II. Kalau aspirasi bawah benar-benar dijadikan dasar pertimbangan, maka posisi Appi tentu menjadi sangat relevan,” jelasnya.
Meski demikian, Asratillah tetap mengapresiasi figur lain seperti Ilham Arief Sirajuddin dan Andi Ina Kartika Sari.
Menurutnya, kedua tokoh tersebut merupakan kader terbaik Golkar Sulsel yang memiliki pengalaman dan kapasitas besar dalam menjaga eksistensi partai.
“IAS punya pengalaman panjang dan kemampuan membaca peta politik yang sangat matang. Sementara Andi Ina membawa simbol regenerasi dan energi baru bagi Golkar Sulsel. Jadi ketiga figur ini sama-sama punya kekuatan masing-masing,” katanya.
Namun demikian, Asratillah menegaskan bahwa Golkar Sulsel saat ini membutuhkan figur yang tidak hanya kuat secara internal, tetapi juga mampu mengembalikan kepercayaan publik menjelang Pemilu 2029.
Ia menilai tren penurunan elektoral Golkar dalam dua pemilu terakhir harus menjadi evaluasi serius. Berdasarkan data KPU Sulsel 2024, Golkar berada di posisi ketiga dengan perolehan 770.454 suara, di bawah NasDem dan Gerindra.
“Karena itu, Golkar Sulsel membutuhkan pemimpin yang mampu menjadi titik temu antara elite dan akar rumput sekaligus menghadirkan citra pembaruan di mata masyarakat. Dan sejauh ini, Appi terlihat cukup dekat dengan kebutuhan politik itu,” tutup Asratillah.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


