INSAN.NEWS || Maros—Transformasi digital dinilai telah mengubah wajah gerakan Islam dari pola konvensional menuju jaringan virtual yang melintasi batas negara.
Media digital kini tidak hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga arena pertarungan ideologi, pembentukan opini publik, hingga mobilisasi gerakan sosial dan politik.
Hal tersebut disampaikan Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Mustari Mustafa, M.Ag, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Intermediate Training (LK II) Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Maros yang berlangsung di Wisma Afiat, Jalan Poros Daya–Maros, Selasa (19/5).
Menurut Prof Mustari, perkembangan teknologi informasi membuat gerakan Islam tidak lagi bergantung pada ruang fisik seperti masjid atau organisasi formal.
Media digital telah menjelma sebagai instrumen strategis dalam menyebarkan gagasan, membangun solidaritas, hingga memengaruhi arah politik global.
“Media digital memiliki kekuatan besar dalam membentuk identitas sosial dan gerakan politik. Namun di sisi lain, ruang digital juga rentan dipenuhi perang informasi, propaganda, dan penyebaran paham radikal,” ujarnya.
Ia mencontohkan dinamika konflik global, termasuk pergolakan di Irak dan kawasan Timur Tengah, sebagai bukti bagaimana teknologi informasi memainkan peran besar dalam membentuk persepsi masyarakat dunia terhadap isu sosial, politik, dan keagamaan.
Prof Mustari menegaskan bahwa media digital sejatinya dapat menjadi sarana dakwah dan solidaritas kemanusiaan.
Akan tetapi, tanpa literasi digital yang kuat, teknologi justru berpotensi memperluas polarisasi dan ekstremisme.
Karena itu, ia menilai peran pemerintah, tokoh agama, akademisi, dan masyarakat sipil sangat penting dalam menciptakan ruang digital yang damai, edukatif, dan bertanggung jawab.
Pertanyaan Peserta: Mengapa Iran Dinilai Lebih Kuat Melawan Ketertindasan?
Dalam sesi diskusi, peserta LK II asal Makassar, Muhammad Alisyirazi Ishak, menyinggung kondisi geopolitik dunia, khususnya keberanian Iran dalam menghadapi dominasi Amerika Serikat dan Israel.
Ia mempertanyakan mengapa Iran dianggap mampu bertahan melawan tekanan global, sementara Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan kesejahteraan meski lebih dahulu merdeka.
Menanggapi hal itu, Prof Mustari menjelaskan bahwa kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh usia kemerdekaan, tetapi juga oleh konsistensi ideologi, kemandirian politik, dan ketahanan nasional.
Menurutnya, Iran memiliki fondasi ideologis yang kuat serta keberanian membangun kemandirian di tengah tekanan geopolitik internasional.
Negara tersebut, kata dia, menjadikan identitas ideologi sebagai instrumen utama dalam menjaga persatuan nasional dan daya tahan politik.
Sementara Indonesia memiliki tantangan berbeda karena karakter masyarakatnya sangat plural, baik dari sisi budaya, agama, maupun kepentingan politik dan ekonomi.
“Indonesia memiliki potensi besar, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Tetapi tantangan kita adalah bagaimana membangun kepemimpinan yang berintegritas, memperkuat persatuan nasional, dan menghadirkan keadilan sosial secara merata,” kata Prof Mustari.
Ia juga mengingatkan bahwa perjuangan melawan ketertindasan tidak selalu diwujudkan melalui konflik terbuka, tetapi dapat dilakukan lewat pembangunan pendidikan, penguatan ekonomi rakyat, penguasaan teknologi, dan peningkatan kualitas demokrasi.
Bagi Prof Mustari, generasi muda Islam harus mampu membaca perkembangan geopolitik dunia secara kritis tanpa terjebak pada fanatisme sempit ataupun propaganda digital.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


