Opinions

Titik Temu Metode Hisab dan Metode Rukyat pada Lebaran Idul Adha 1447 H

Idul Adha
Baharuddin Hafid - Dosen tetap Universitaz Megatezky Makassar Dan Instruktur NDPers Nasional. Selasa (26/5/2026). Foto Ist

“Menyatukan Sains, Tradisi, dan Etika Keummatan.”

Baharuddin Hafid (Akademisi Universitas Megarezky Makassar)

INSAN.NEWS || Makassar—Perdebatan mengenai metode hisab dan rukyat dalam penentuan awal bulan Hijriah sesungguhnya bukan sekadar persoalan teknis astronomi, melainkan juga menyangkut cara umat Islam memahami hubungan antara wahyu, ilmu pengetahuan, otoritas keagamaan, dan realitas sosial.

Dalam konteks Idul Adha 1447 H, munculnya kemungkinan titik temu antara metode hisab dan rukyat menghadirkan momentum penting untuk membangun kesadaran baru bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan ruang dialog epistemologis dalam Islam.

Secara historis, metode rukyat berangkat dari pendekatan empiris yang berakar pada hadis Nabi Muhammad SAW: “Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal.”

Konsep Deliberatif dalam Demokrasi Pancasila: Kritik atas Liberalisme Demokrasi Vox Populi, Vox Dei

Pendekatan ini menempatkan observasi langsung terhadap bulan sebagai dasar penetapan awal bulan Hijriah.

Sementara itu, metode hisab berkembang sebagai konsekuensi dari kemajuan ilmu falak dan astronomi Islam yang sejak masa klasik telah menjadi salah satu pilar kejayaan intelektual Muslim. Dengan demikian, hisab bukanlah “lawan” dari rukyat, melainkan perkembangan rasional dari tradisi ilmiah Islam itu sendiri.

Dalam perspektif filsafat ilmu, hisab dan rukyat sebenarnya berada dalam dua ranah epistemologi yang saling melengkapi.

Rukyat merepresentasikan epistemologi empirisme—pengetahuan diperoleh melalui pengamatan inderawi—sedangkan hisab merepresentasikan rasionalisme matematis—pengetahuan diperoleh melalui kalkulasi logis dan keteraturan kosmik.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan secara dikotomis karena keduanya sama-sama berupaya membaca tanda-tanda Tuhan di alam semesta.

Khazanah Perkaderan Insan Cita

Al-Qur’an sendiri memberi legitimasi terhadap keteraturan astronomis. Allah SWT berfirman bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan (bi husban).

Ayat ini menunjukkan bahwa semesta bekerja dalam hukum-hukum matematis yang dapat dihitung dan dipelajari manusia.

Dalam konteks ini, hisab merupakan bentuk ikhtiar intelektual untuk memahami sunnatullah, sedangkan rukyat adalah bentuk kehati-hatian spiritual dalam memastikan realitas empiris.

Momentum Idul Adha 1447 H menjadi menarik karena semakin terbukanya peluang integrasi antara dua pendekatan tersebut. Kemajuan teknologi teleskopik, astronomi digital, serta standarisasi kriteria visibilitas hilal menunjukkan bahwa hisab modern justru membantu proses rukyat menjadi lebih akurat.

Dengan kata lain, hisab kini bukan sekadar alat prediksi, tetapi juga instrumen verifikasi ilmiah terhadap kemungkinan terlihatnya hilal.

Kontroversi Peraturan BPOM No. 5 Tahun 2026: Analisis Perbedaan Regulasi dan Dampaknya terhadap Profesi serta Keselamatan Masyarakat

Di sinilah titik temu keduanya dapat ditemukan: hisab memberi kepastian saintifik, sementara rukyat memberi legitimasi empiris dan psikologis bagi umat.

Relasi keduanya bukan relasi oposisi, melainkan relasi konfirmasi. Hisab tanpa rukyat berisiko menjadi terlalu elitis dan teknokratis, sedangkan rukyat tanpa hisab berpotensi mengalami keterbatasan akurasi ilmiah.

Integrasi keduanya mencerminkan watak Islam sebagai agama yang menghargai akal sekaligus pengalaman empiris.

Namun demikian, persoalan penentuan Idul Adha tidak pernah murni astronomis. Ia juga bersentuhan dengan dimensi sosiologi agama dan politik otoritas.

Perbedaan penetapan hari raya sering kali mencerminkan adanya fragmentasi otoritas keagamaan di dunia Islam.

Dalam konteks Indonesia, perbedaan itu kadang melahirkan polarisasi simbolik antara “Islam tradisional” dan “Islam modernis,” padahal keduanya sama-sama berangkat dari semangat mencari kebenaran syariat.

Karena itu, titik temu hisab dan rukyat sejatinya harus dibangun di atas etika keummatan. Persatuan tidak selalu berarti keseragaman mutlak, tetapi kemampuan mengelola perbedaan secara dewasa.

Dalam filsafat sosial Islam, ukhuwah lebih penting daripada kemenangan metodologis. Sebab substansi Idul Adha bukan terletak pada siapa yang paling benar menentukan tanggal, melainkan sejauh mana spirit pengorbanan, solidaritas sosial, dan ketundukan kepada Tuhan dapat diwujudkan dalam kehidupan bersama.

Di tengah masyarakat digital yang mudah terbelah oleh perdebatan identitas, pendekatan dialogis antara hisab dan rukyat menjadi kebutuhan peradaban.

Islam tidak boleh terjebak dalam romantisme tradisi tanpa sains, tetapi juga tidak boleh tercerabut dari akar spiritualitas demi modernitas teknologis.

Keduanya harus dipertemukan dalam paradigma integratif: sains yang religius dan agama yang rasionalul Adha 1447 H dapat dibaca bukan sekadar momentum ibadah tahunan, tetapi juga simbol penting rekonsiliasi epistemologis umat Islam.

Ketika hisab dan rukyat menemukan ruang dialog, sesungguhnya umat sedang belajar bahwa kebenaran tidak selalu lahir dari penyeragaman, melainkan dari kemampuan menyatukan akal, iman, dan kemanusiaan dalam satu horizon peradaban Islam yang matang.

Allahu lam Bishshawab

Makassar—26 Mei 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement