INSAN.NEWS || Maros—Penutupan Intermediate Training (LK II) Tingkat Nasional Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Butta Salewangang Maros berlangsung penuh refleksi ideologis di Ruang Pola Kantor Bupati Maros, Jalan Asoka, Senin (25/5) malam.
Momentum tersebut tidak hanya menjadi akhir dari proses kaderisasi, tetapi juga ruang peneguhan nilai perjuangan dan keyakinan kader terhadap cita-cita besar HMI.
Ketua Panitia LK II Nasional, Hasruli, dalam penyampaiannya menegaskan bahwa semangat kaderisasi HMI tidak dapat dilepaskan dari filosofi keyakinan dan ikhtiar yang selama ini hidup di tengah kultur organisasi.
Menurutnya, slogan senior “ada-ada jhe itu” bukan sekadar ungkapan spontan, melainkan representasi optimisme kader dalam menghadapi tantangan perjuangan.
“Kalimat ‘ada-ada jhe itu’ mengajarkan kepada kita bahwa setiap kerja-kerja kebaikan akan selalu dibukakan jalan. Sebagai kader HMI, tugas kita adalah terus berikhtiar, menjaga konsistensi, dan percaya bahwa perjuangan tidak pernah mengkhianati proses,” ujar Hasruli di hadapan peserta dan tamu undangan.
Ia menjelaskan bahwa spirit tersebut memiliki keterkaitan erat dengan konsep YAKUSA yang selama ini menjadi karakter mental kader HMI.
Dalam kultur perkaderan, YAKUSA dipahami sebagai keyakinan ideologis yang tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam tindakan, pengorbanan, dan keberanian menjalankan amanah organisasi.
“YAKUSA bukan sekadar slogan. Tetapi keyakinan standar (bukan standar keyakinan) kader HMI. Ada nilai spiritual dan moral di dalamnya yang terkadang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tetapi tampak dalam sikap, disiplin, loyalitas, dan pengabdian kader di medan perjuangan,” katanya.
Pandangan tersebut dinilai sejalan dengan spirit Islam yang menempatkan ikhtiar dan keyakinan sebagai fondasi perjuangan hidup manusia.
Dalam Al-Qur’an Surah At-Talaq ayat 3 disebutkan, “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”
Sementara dalam perspektif intelektual Islam, konsep optimisme perjuangan juga sejalan dengan pemikiran Kuntowijoyo yang menyebut bahwa gerakan Islam harus dibangun di atas kesadaran transendental sekaligus praksis sosial yang imanental.
Intermediate Training LK II Nasional HMI Maros sendiri menjadi sorotan karena HMI Cabang Butta Salewangang Maros tercatat sebagai satu-satunya cabang di wilayah BADKO HMI Sulawesi Selatan yang mampu melaksanakan dua kali LK II dalam satu periode kepengurusan.
Forum tersebut diikuti kader dari berbagai cabang HMI di Indonesia dan menghadirkan sejumlah akademisi, aktivis, serta tokoh nasional sebagai narasumber.
Penutupan forum berlangsung khidmat dengan peneguhan komitmen kader untuk terus menjaga semangat intelektual, ideologis, dan pengabdian sosial sebagaimana cita perjuangan HMI dalam membangun masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


