Opinions

Politik, Agama, dan Perempuan: Membaca Karakter Manusia dalam Perspektif Albert Camus

HMI
Baharuddin Hafid - Dosen tetap Universitaz Megatezky Makassar Dan Instruktur NDPers Nasional. Kamis (21/5/2026). Foto Ist

Oleh: Baharuddin Hafid (Akademisi Universitas Megarezky Makassar)

INSAN.NEWS || Makassar—Filsuf Prancis Albert Camus pernah melontarkan sebuah gagasan menarik: jika ingin mengetahui karakter seorang laki-laki, maka ajaklah ia berdiskusi tentang tiga hal—politik, agama, dan perempuan.

Meski kutipan ini sering beredar dalam bentuk populer dan tidak selalu dapat diverifikasi secara tekstual dalam karya asli Camus, substansinya memiliki kedalaman filosofis dan sosiologis yang penting untuk dibaca dalam konteks kehidupan modern.

Pernyataan tersebut sesungguhnya bukan sekadar ajakan untuk mengobrol mengenai isu sensitif, melainkan sebuah metode membaca watak manusia melalui cara ia memandang kekuasaan, keyakinan, dan relasi gender.

Tiga tema itu merupakan wilayah paling mendasar yang memperlihatkan bagaimana seseorang berpikir, merasakan, sekaligus memosisikan dirinya di hadapan orang lain dan dunia sosial.

MHR Shikka Songge di LK II Nasional HMI: NDP Harus Menjadi Pedoman Moral dan Spirit Perjuangan Kader ‎

Dalam perspektif sosiologi politik, pembicaraan mengenai politik akan memperlihatkan orientasi moral seseorang terhadap kekuasaan.

Politik bukan hanya soal partai atau pemilu, tetapi tentang bagaimana seseorang memahami keadilan, otoritas, kebebasan, dan kepentingan publik.

Dari cara seseorang berbicara tentang politik, kita dapat melihat apakah ia memiliki kecenderungan demokratis, otoriter, oportunistik, atau justru humanistik.

Pemikiran Michel Foucault relevan untuk menjelaskan hal ini. Foucault melihat bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui negara, tetapi juga melalui bahasa, pengetahuan, dan relasi sosial sehari-hari.

Karena itu, ketika seseorang berdiskusi tentang politik, sesungguhnya ia sedang membuka cara berpikir terdalamnya mengenai siapa yang pantas memimpin, siapa yang harus tunduk, dan bagaimana masyarakat seharusnya diatur. Di titik inilah karakter moral seseorang mulai tampak.

NDP sebagai Keniscayaan Ideologis, MHR Shikkah Songge Tekankan Reformasi Visi Teologi Kader HMI ‎

Sementara itu, diskusi tentang agama memperlihatkan kualitas spiritual sekaligus kedewasaan intelektual seseorang.

Agama dapat melahirkan kasih sayang dan kemanusiaan, tetapi juga dapat berubah menjadi alat pembenaran kebencian ketika dipahami secara sempit.

Cara seseorang memahami agama sering kali mencerminkan apakah ia memiliki sikap terbuka terhadap perbedaan atau justru terjebak dalam fanatisme.

Dalam konteks ini, pemikiran Émile Durkheim penting dikemukakan. Durkheim melihat agama sebagai kekuatan sosial yang membentuk solidaritas kolektif.

Namun, di era modern, agama juga sering menjadi arena perebutan identitas dan legitimasi moral.

Kosmologi Dalam Tafsir NDP HMI: Baharuddin Hafid Ajak Kader Membaca Alam Semesta sebagai Ruang Perjuangan

Maka, ketika seseorang berdiskusi tentang agama, sesungguhnya ia sedang memperlihatkan bagaimana ia memandang kemanusiaan: apakah agama dijadikan jalan pembebasan atau instrumen penghakiman.

Adapun pembicaraan mengenai perempuan menjadi cermin paling jujur dari kualitas etika seseorang. Cara seorang laki-laki memandang perempuan akan menunjukkan bagaimana ia memahami relasi kuasa, penghormatan terhadap martabat manusia, dan konsep kesetaraan.

Banyak orang tampak bijak dalam politik dan religius dalam ibadah, tetapi sikapnya terhadap perempuan justru memperlihatkan watak dominatif dan patriarkal.

Pemikiran feminisme modern, terutama dari Simone de Beauvoir, menunjukkan bahwa perempuan kerap ditempatkan sebagai “the other”—yang lain, yang tidak utama. Dalam relasi sosial patriarkal, perempuan sering dipandang bukan sebagai subjek yang setara, melainkan objek yang dikendalikan.

Karena itu, ketika seorang laki-laki berbicara tentang perempuan, sebenarnya ia sedang membuka kualitas terdalam dari kesadaran etik dan kemanusiaannya.

Menariknya, tiga tema tersebut—politik, agama, dan perempuan—merupakan wilayah yang paling sering melahirkan konflik dalam masyarakat.

Mengapa? Karena ketiganya berkaitan langsung dengan identitas dan kekuasaan. Politik menyangkut kekuasaan negara, agama menyangkut legitimasi moral, dan perempuan menyangkut relasi sosial paling personal dalam kehidupan manusia.

Cara seseorang bersikap dalam tiga wilayah itu akan memperlihatkan apakah ia mampu berdialog secara dewasa atau justru mudah terjebak dalam kebencian dan superioritas.

Dalam masyarakat digital hari ini, relevansi gagasan Camus justru semakin terasa. Media sosial telah menjadi panggung besar tempat karakter manusia dipertontonkan tanpa filter.

Orang dapat terlihat santun dalam kehidupan nyata, tetapi agresif ketika berbicara tentang politik. Tampak religius di ruang publik, tetapi intoleran terhadap perbedaan.

Mengaku menghormati perempuan, tetapi tetap memelihara budaya misoginis dalam percakapan sehari-hari.

Karena itu, kutipan tersebut tidak seharusnya dibaca sebagai upaya menghakimi seseorang hanya dari pendapatnya, melainkan sebagai refleksi bahwa karakter manusia paling mudah terbaca ketika ia berbicara tentang hal-hal yang menyentuh keyakinan, hasrat, dan kepentingannya sekaligus.

Pada akhirnya, kedewasaan manusia tidak diuji ketika ia berbicara tentang hal-hal yang netral, tetapi ketika ia menghadapi perbedaan dalam politik, keberagaman dalam agama, dan kesetaraan dalam relasi gender.

Di situlah kualitas intelektual, moral, dan kemanusiaan seseorang benar-benar dipertaruhkan.

Allahu A’lam Bishshawab

Makassar—21 Mei 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda ‎Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement