INSAN.NEWS || Maros—Instruktur NDPers Nasional, Baharuddin Hafid, mengajak kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) membaca kembali Nilai Dasar Perjuangan (NDP) tidak hanya sebagai dokumen ideologis organisasi, tetapi juga sebagai cara pandang kosmologis tentang manusia, alam semesta, dan hubungan ketuhanan.
Gagasan tersebut disampaikan dalam forum Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Butta Salewangang Maros di Wisma Afiat, Jalan Poros Daya–Maros, Rabu (20/5).
Dalam materi bertajuk “NDP HMI dalam Tafsir Kosmologi: Membaca Nilai Dasar Perjuangan dalam Perspektif Alam Semesta dan Kesadaran”, Baharuddin menegaskan bahwa NDP harus dipahami secara lebih mendalam sebagai fondasi kesadaran spiritual, sosial, dan peradaban kader HMI.
Menurutnya, manusia tidak berdiri sendiri dalam kehidupan, melainkan menjadi bagian dari keteraturan semesta yang tunduk pada hukum Tuhan.
“Tauhid bukan hanya keyakinan teologis, tetapi cara memandang seluruh realitas. Alam, manusia, dan sejarah bergerak dalam sunnatullah yang harus dijaga keseimbangannya,” ujar Baharuddin di hadapan peserta LK II tingkat nasional.
Ia menjelaskan bahwa NDP HMI memuat integrasi antara nilai keislaman, keindonesiaan, kemanusiaan, dan kemodernan.
Dalam perspektif kosmologi Islam, kata dia, manusia ditempatkan sebagai khalifah yang memiliki amanah menjaga harmoni sosial dan ekologis di tengah perkembangan peradaban modern.
Menurut Baharuddin, modernitas memang melahirkan kemajuan teknologi dan rasionalitas, tetapi pada saat bersamaan juga menghadirkan alienasi manusia, krisis spiritual, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan sosial.
Karena itu, NDP hadir sebagai kritik moral terhadap modernitas yang kehilangan orientasi kemanusiaan dan spiritualitas.
“Perjuangan kader HMI tidak boleh terjebak hanya pada pragmatisme politik atau perebutan kekuasaan. Kader harus memiliki kesadaran kosmik bahwa perjuangan adalah bagian dari amanah sejarah dan tanggung jawab kemanusiaan,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun etika ekologis dalam gerakan kader. Alam, menurutnya, bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan ayat kauniyah atau tanda-tanda kebesaran Tuhan yang harus dijaga keberlangsungannya.
“Merusak alam berarti merusak harmoni ciptaan Tuhan. Karena itu, kader HMI harus hadir sebagai agen perubahan yang mampu menjaga keseimbangan antara ilmu, iman, moralitas, dan tanggung jawab sosial,” tutup Baharuddin.
INSAN.NEWS — Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


