INSAN.NEWS || Maros—Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkep sekaligus mantan Ketua Umum HMI Cabang Gowa Raya, Samsir Salam, S.Ag., M.H., menegaskan pentingnya memahami teologi sebagai fondasi utama dalam membaca Nilai Dasar Perjuangan (NDP) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Hal tersebut disampaikan dalam forum Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Butta Salewangang Maros yang berlangsung di Wisma Afiat, Jalan Poros Daya–Maros, Rabu (20/5).
Dalam materi bertajuk “Teologi dalam Tafsir NDP HMI”, Samsir Salam menjelaskan bahwa NDP bukan sekadar dokumen ideologis organisasi, melainkan panduan spiritual dan intelektual kader dalam memahami hubungan manusia dengan Tuhan, ilmu pengetahuan, dan realitas sosial.
Menurutnya, teologi dalam NDP harus melahirkan kader yang tidak hanya kuat secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran moral dan spiritual.
“Teologi dalam NDP HMI bukan hanya bicara tentang keyakinan, tetapi bagaimana iman itu melahirkan ilmu dan diwujudkan dalam amal sosial,” ujar Samsir Salam di hadapan peserta LK II tingkat nasional.
Ia menjelaskan bahwa salah satu pembahasan penting dalam teologi adalah konsep ketuhanan dalam dimensi eksistensi dan esensi.
Dalam perspektif monoteisme Islam, Tuhan dipahami sebagai satu-satunya sumber kehidupan dan pengatur alam semesta, berbeda dengan politeisme yang memandang kekuatan ilahi tersebar pada banyak dewa.
Meski demikian, Samsir menilai perkembangan konsep ketuhanan dalam sejarah turut membentuk budaya, tradisi, dan pola pikir manusia.
“Monoteisme menempatkan Tuhan sebagai pusat kesadaran moral manusia. Dari sinilah lahir tanggung jawab sosial, keadilan, dan orientasi kemanusiaan dalam perjuangan,” katanya.
Selain membahas konsep ketuhanan, Samsir Salam juga menyoroti tafsir beriman, berilmu, dan beramal sebagai inti gerakan kader HMI.
Menurutnya, kaderisasi tidak boleh berhenti pada penguasaan teori atau diskusi intelektual semata, tetapi harus mampu melahirkan tindakan nyata yang berpihak pada umat dan masyarakat.
“Iman tanpa ilmu akan melahirkan fanatisme sempit. Ilmu tanpa amal hanya akan menjadi kesombongan intelektual. Karena itu, NDP mengajarkan keseimbangan antara keyakinan, pengetahuan, dan pengabdian,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kader HMI harus mampu membaca tantangan zaman dengan tetap menjaga nilai-nilai tauhid dan integritas moral.
Menurutnya, perkembangan modernitas dan arus teknologi tidak boleh menjauhkan kader dari kesadaran spiritual dan tanggung jawab sosial.
“Tujuan akhir kaderisasi bukan hanya mencetak intelektual, tetapi melahirkan manusia yang memiliki kesadaran ketuhanan, keberpihakan sosial, dan tanggung jawab terhadap peradaban,” tutup Samsir Salam.
INSAN.NEWS — Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


