Opinions

Metaforis dan Sarkastik dalam Majas Sastra 

Majas
‎Dr. Buhari Fakkah, M.Pd---Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng---Rappang, Pemerhati Demokrasi, Dan Etika Publik. Aktif menulis Opini Reflektif Tentang Filsafat, Demokrasi dan Politik di Berbagai Media. Jum'at (15/05/2026). Foto Ist

Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang

INSAN.NEWS || Sidrap—Ada kata-kata tertentu yang tidak lagi bekerja sebagai bahasa, melainkan sebagai alat kekuasaan yang menyamar menjadi keakraban. Salah satunya adalah kata: “solid.”

Kata itu terdengar sederhana. Hangat. Seolah mengandung aroma persaudaraan dan kesetiaan. Namun dalam banyak ruang sosial, “solid” sering menjelma seperti dupa: makin banyak dibakar, makin pekat kabut yang ditinggalkannya.

Awalnya semua tampak biasa. Sekelompok orang berkumpul untuk mengusir sunyi. Ada tawa, kopi, candaan, dan rutinitas malam yang perlahan berubah menjadi tradisi. Tetapi sejarah komunitas kecil hampir selalu memiliki pola yang sama yaitu ketika kebersamaan terlalu lama dipelihara tanpa kesadaran kritis, ia mulai melahirkan rasa paling memiliki.

Dan rasa memiliki yang berlebihan selalu diam-diam ingin menjadikan panggung kecil itu jadi ruang perebutan pengaruh dan kekuasaan.

Menakar Kebenaran di Butta Gowa: Menjaga Nalar di Tengah Badai Isu

Di titik itu, solidaritas tidak lagi tumbuh seperti akar yang menguatkan tanah bersama, melainkan seperti pagar yang menentukan siapa “kita” dan siapa “mereka”. Orang-orang mulai merasa bahwa kedekatan harus dibuktikan melalui keberpihakan.

Bahwa loyalitas lebih penting daripada kejujuran. Bahwa menjaga suasana lebih mulia daripada menjaga kewarasan berpikir.

Maka lahirlah komunitas – komunitas kecil yang tampak seperti kerajaan santai tanpa mahkota, tetapi memiliki pengaruh; tidak punya jabatan resmi, tetapi ingin dihormati seperti pemilik wilayah psikologis.

Di sana, kursi plastik bisa berubah menjadi singgasana sosial. Tongkrongan menjelma parlemen informal. Dan obrolan receh perlahan diperlakukan seperti fatwa moral lingkungan.

Ironisnya, semakin kecil ruang kekuasaan seseorang, kadang semakin besar kebutuhan mereka untuk tampak penting di dalamnya.

Islam “Yes”, Partai Islam “No” ala Cak Nur: Masihkah Relevan dalam Politik Kekinian?

Mereka menyebutnya “solid”.

Padahal sering kali itu hanyalah ketakutan kolektif untuk berbeda pendapat.

George Orwell dalam Animal Farm pernah menulis “All animals are equal, but some animals are more equal than others.”

Begitulah solidaritas bekerja dalam banyak komunitas kecil. Semua dipanggil saudara, tetapi ada lingkaran inti yang diam-diam merasa lebih menentukan arah matahari sosial.

Ada kasta emosional yang tidak pernah ditulis, tetapi dapat dirasakan lewat siapa yang paling sering didengar dan siapa yang hanya dijadikan pelengkap keramaian.

Soft Provocative dan Revolusi Perut: Ketika Ruang Komunal Menjadi Panggung “Pesta Babi” Sosial

Friedrich Nietzsche, Friedrich Nietzsche, pernah mengingatkan “Madness is rare in individuals, but in groups, parties, nations, and ages it is the rule.”

Karena manusia yang sendirian masih memiliki kesempatan berdialog dengan nuraninya. Tetapi manusia yang terlalu lama bergerombol sering kehilangan keberanian untuk meragukan kelompoknya sendiri.

Di sinilah “solid” mulai berubah menjadi candu sosial.

Semua harus seirama. Semua harus menjaga perasaan kelompok. Semua harus tahu kapan tertawa dan kapan membenci bersama.

Kritik dianggap ancaman. Perbedaan dianggap gangguan suasana. Dan orang yang tidak ikut larut dipandang seperti penonton asing di tengah rumahnya sendiri.

Padahal solidaritas sejati tidak membutuhkan slogan berlebihan. Ia bekerja tenang seperti udara yang tidak sibuk dipamerkan, tetapi terasa manfaatnya. Hanya solidaritas rapuh yang membutuhkan simbol terus-menerus untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia kuat.

Pramoedya Ananta Toer pernah berkata “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran.”

Namun dalam banyak lingkaran sosial, keadilan sering kalah oleh loyalitas emosional. Orang lebih takut dikucilkan komunitas daripada kehilangan integritas berpikirnya sendiri.

Dan dari situlah satire menemukan rumahnya.

Sebab kadang manusia tidak benar-benar ingin membangun persaudaraan, mereka hanya ingin memiliki panggung kecil tempat egonya bisa dipanggil penting oleh orang lain.

Maka lahirlah ironi paling sunyi yaitu semakin keras sebuah kelompok meneriakkan kata “solid”, kadang semakin tampak rapuh kemampuan mereka menerima kritik.

Mereka tampak kuat selama duduk melingkar. Tetapi goyah ketika berhadapan dengan perbedaan.

Mereka tampak kompak dalam tawa. Tetapi sensitif terhadap suara yang tidak sefrekuensi.

Mereka tampak seperti keluarga. Tetapi diam-diam membangun pagar emosional yang membuat ruang bersama terasa sempit bagi yang tidak seragam.

Pada akhirnya, “solid” menjadi paradoks sosial yaitu sebuah kata yang terdengar seperti persatuan, tetapi kadang melahirkan sekat paling halus.

Dan mungkin, problem terbesar sebuah komunitas dimulai ketika mereka terlalu sibuk menjaga kekompakan, sampai lupa menjaga kejernihan berpikir.

Kutipan Satire dan Kritik

“Tidak semua yang kompak itu dewasa; kadang hanya sekumpulan orang yang takut sendirian.”

“Soliditas yang anti-kritik hanyalah fanatisme yang sedang mencari nama sopan.”

“Ada orang yang gagal menjadi penting di ruang publik, lalu mendirikan kerajaan kecil di ruang tongkrongan.”

“Ketika loyalitas kelompok lebih dihormati daripada kejujuran, solidaritas sedang berubah menjadi tirani emosional.”

“Persaudaraan yang sehat melahirkan dialog. Persaudaraan yang rapuh melahirkan kubu.”

Sidenreng—Rappang 15 Mei 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement