Oleh: Baharuddin Hafid—Akademisi Universitas Megarezky Makassar
INSAN.NEWS || Makassar—Gagasan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diperkenalkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia dan disampaikan oleh Amin Suyitno dalam kuliah tamu di Universitas Megarezky bukan sekadar slogan pedagogik yang romantik.
Ia adalah kritik mendasar terhadap arah pendidikan modern yang semakin teknokratis, kompetitif, dan kehilangan dimensi kemanusiaan.
Dalam konteks pembukaan Fakultas Agama Islam Universitas Megarezky yang sedang menanti izin dari Kementerian Agama Republik Indonesia, gagasan ini memiliki makna simbolik sekaligus strategis: pendidikan Islam harus kembali menjadi ruang pembentukan manusia utuh, bukan sekadar mesin produksi tenaga kerja.
Di tengah era digital dan kapitalisme pendidikan, manusia semakin diukur melalui angka-angka: nilai akademik, indeks prestasi, akreditasi, hingga ranking institusi.
Pendidikan lalu berubah menjadi arena kompetisi yang sering kali menyingkirkan empati, solidaritas, dan kesadaran moral.
Dalam situasi inilah Kurikulum Berbasis Cinta hadir sebagai upaya mengembalikan ruh pendidikan kepada hakikat dasarnya: memanusiakan manusia.
Secara filosofis, konsep cinta dalam pendidikan bukanlah gagasan baru. Dalam tradisi Islam, cinta merupakan inti dari relasi antara manusia, ilmu, dan Tuhan. Imam Al-Ghazali menempatkan ilmu sebagai jalan penyucian jiwa, bukan alat dominasi sosial.
Sementara Jalaluddin Rumi melihat cinta sebagai energi spiritual yang menghubungkan manusia dengan kebenaran.
Pendidikan tanpa cinta hanya melahirkan kecerdasan yang dingin; pengetahuan tanpa empati hanya menghasilkan kekuasaan tanpa moralitas.
Dalam perspektif filsafat pendidikan modern, Paulo Freire juga menegaskan bahwa pendidikan sejati hanya mungkin lahir melalui cinta kepada manusia.
Bagi Freire, pendidikan yang membebaskan harus dibangun di atas dialog, penghargaan terhadap martabat manusia, dan keberpihakan kepada kelompok yang tertindas.
Karena itu, cinta dalam pendidikan bukan kelembutan pasif, melainkan keberanian etis untuk membangun keadilan sosial.
Kurikulum Berbasis Cinta sesungguhnya dapat dibaca sebagai kritik terhadap model pendidikan neoliberal yang menjadikan sekolah dan kampus sebagai pasar kompetensi.
Dalam logika neoliberal, peserta didik diposisikan sebagai “modal manusia” (human capital) yang harus siap bersaing dalam pasar kerja global. Akibatnya, orientasi pendidikan bergeser dari pembentukan karakter menuju sekadar efisiensi ekonomi.
Di sinilah relevansi pemikiran Michel Foucault menjadi penting. Foucault menjelaskan bahwa institusi pendidikan sering kali bekerja sebagai alat disiplin sosial yang membentuk manusia patuh terhadap sistem kekuasaan.
Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang reproduksi kontrol sosial. Kurikulum kemudian menjadi instrumen untuk menentukan manusia seperti apa yang dianggap “normal”, “produktif”, dan “layak”.
Kurikulum Berbasis Cinta berpotensi menjadi antitesis terhadap model pendidikan semacam itu. Ia berusaha menggeser paradigma pendidikan dari kontrol menuju kepedulian, dari kompetisi menuju kolaborasi, serta dari dominasi menuju dialog kemanusiaan.
Dalam kerangka ini, guru bukan lagi aparat pengendali kelas, tetapi pendamping spiritual dan intelektual peserta didik.
Namun demikian, tantangan terbesar KBC bukan pada konsepnya, melainkan implementasinya. Sebab cinta dalam pendidikan tidak cukup diwujudkan melalui slogan atau mata kuliah tambahan.
Ia harus hadir dalam keseluruhan ekosistem pendidikan: cara dosen mengajar, cara institusi memperlakukan mahasiswa, hingga cara negara merumuskan kebijakan pendidikan.
Pendidikan berbasis cinta berarti menciptakan ruang belajar yang bebas dari kekerasan simbolik, diskriminasi, dan ketakutan. Ia menuntut pendekatan pedagogik yang menghargai keragaman kemampuan peserta didik.
Dalam konteks pendidikan Islam, hal ini juga berarti membangun keberagamaan yang inklusif, moderat, dan berorientasi pada kemaslahatan sosial.
Karena itu, momentum kuliah tamu yang menghadirkan Dirjen Pendidikan Islam di Universitas Megarezky memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar agenda akademik formal.
Ia menjadi penanda bahwa Fakultas Agama Islam yang akan dibangun tidak boleh hanya menjadi institusi administratif, tetapi harus menjadi pusat peradaban moral yang melahirkan intelektual Islam progresif, humanis, dan transformatif.
Di tengah meningkatnya polarisasi sosial, intoleransi, dan krisis etika publik, bangsa ini membutuhkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga melembutkan hati.
Sebab peradaban tidak runtuh karena kekurangan teknologi, melainkan karena hilangnya kasih sayang dalam kehidupan sosial.
Kurikulum Berbasis Cinta pada akhirnya adalah ikhtiar untuk mengembalikan pendidikan kepada misi profetiknya: membentuk manusia yang berilmu sekaligus berakhlak, kritis sekaligus welas asih, modern sekaligus spiritual.
Pendidikan yang berhasil bukanlah pendidikan yang hanya melahirkan sarjana, tetapi pendidikan yang melahirkan manusia yang mampu mencintai sesama dan menghadirkan keadilan dalam kehidupan bersama.
Makassar—08 Mei 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


