Oleh: Baharuddin Hafid (Akademisi Universitas Megarezky Makassar)
INSAN.NEWS || Makassar—Nama Nurcholish Madjid kembali penting dibicarakan ketika politik identitas semakin menguat dalam demokrasi Indonesia.
Gagasan terkenalnya—“Islam yes, Partai Islam no”—bukanlah penolakan terhadap Islam dalam politik, melainkan kritik terhadap formalisasi agama yang menjadikan Islam sekadar alat perebutan kekuasaan.
Dalam perspektif sosiologi politik, tesis Cak Nur justru lahir dari kegelisahan bahwa agama yang terlalu larut dalam kepentingan partai akan kehilangan daya etik dan moralnya.
Pada era 1970-an, Cak Nur membaca bahwa partai-partai Islam gagal tampil sebagai kekuatan transformasi sosial. Islam direduksi menjadi simbol elektoral, bukan energi pembebasan.
Akibatnya, umat terjebak pada romantisme identitas, sementara substansi keadilan, kesejahteraan, dan kemanusiaan tertinggal.
Kritik itu relevan dengan teori sosiologi politik modern yang melihat bahwa agama dalam arena kekuasaan sering mengalami proses instrumentalisasi.
Dalam pendekatan Max Weber, agama sejatinya memiliki ethical calling—panggilan moral untuk membentuk masyarakat rasional dan berkeadaban.
Namun ketika agama dilembagakan secara kaku dalam partai politik, ia rawan berubah menjadi birokrasi simbolik yang kehilangan ruh etiknya.
Sementara dalam perspektif Antonio Gramsci, partai sering bekerja sebagai alat hegemoni yang membentuk kesadaran masyarakat melalui simbol dan identitas.
Dalam konteks ini, agama bisa menjadi instrumen legitimasi kekuasaan, bukan lagi sumber kritik terhadap ketidakadilan.
Fenomena politik Indonesia hari ini menunjukkan paradoks tersebut. Partai berbasis Islam belum tentu lebih Islami dalam praktik politiknya. Korupsi, oligarki, politik dinasti, hingga pragmatisme kekuasaan juga tumbuh di tubuh partai yang membawa simbol agama.
Di sinilah tesis Cak Nur menemukan relevansinya. Bahwa kesalehan politik tidak otomatis lahir dari label Islam, melainkan dari nilai-nilai keadilan, amanah, dan keberpihakan pada rakyat kecil.
Namun demikian, konteks politik kekinian juga berbeda dengan era Cak Nur. Setelah reformasi, demokrasi membuka ruang besar bagi ekspresi identitas keagamaan. Media sosial mempercepat mobilisasi politik berbasis sentimen agama.
Dalam situasi ini, partai Islam tidak lagi sekadar kendaraan ideologi, tetapi juga instrumen representasi identitas umat. Karena itu, tesis “Partai Islam no” tidak bisa dipahami secara literal sebagai penolakan total terhadap partai Islam, melainkan sebagai peringatan agar Islam tidak direduksi menjadi komoditas politik.
Yang justru semakin relevan dari pemikiran Cak Nur adalah gagasan tentang desakralisasi politik. Politik harus dipandang sebagai arena ijtihad manusia yang terbuka untuk kritik, bukan wilayah suci yang dibungkus legitimasi agama.
Ketika politik disakralkan, oposisi dianggap musuh agama, kritik dipersepsikan sebagai ancaman iman, dan demokrasi berubah menjadi fanatisme kolektif.
Dalam sosiologi politik kontemporer, kondisi ini disebut sebagai politicization of religion—yakni ketika agama digunakan untuk membangun loyalitas politik secara emosional. Dampaknya adalah polarisasi sosial yang tajam.
Masyarakat tidak lagi memilih berdasarkan kapasitas dan program, tetapi berdasarkan identitas primordial. Politik kehilangan rasionalitas publiknya.
Karena itu, relevansi terbesar gagasan Cak Nur hari ini bukan pada penolakan terhadap partai Islam, melainkan pada upaya memisahkan nilai Islam dari kepentingan pragmatis kekuasaan. Islam harus hadir sebagai etika publik, bukan sekadar atribut elektoral.
Sebab ketika agama terlalu dekat dengan kekuasaan, yang sering lahir bukan masyarakat religius, melainkan masyarakat yang mudah mempolitisasi kesucian.
Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan lagi “apakah partai Islam masih perlu?”, tetapi “apakah politik kita masih membawa nilai-nilai Islam yang membebaskan?” Di titik inilah, pemikiran Cak Nur tetap hidup—sebagai kritik moral terhadap politik yang gemar memakai nama Tuhan, tetapi sering abai terhadap nasib manusia.
Makassar—13 Mei 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


