Opinions

Manifesto Kearifan Leluhur untuk Buka Jalan ke Zaman Baru Kesejahteraan Rakyat

Kareri
Faisal Warwey, Demisioner Kabid PTKP HMI Cabang Sorong 2006–2007, mengulas semangat Koreri sebagai jalan membangun kemandirian rakyat, ketahanan pangan, dan kedaulatan bangsa melalui perpaduan nilai-nilai luhur Papua dan Nusantara, Sabtu (06/06/2026). Foto Ist

Sinergi Nusantara deng Harapan Koreri: Tong Anyam Nagarakretagama, La Galigo, Mura Sata Patana, deng Janji Manarmakeri untuk Bangun Ketahanan Pangan deng Kedaulatan Bangsa

Oleh: Faisal Warwey ( Demisioner Kabid PTKP HMI Cabang Sorong Periode 2006-2007 )

INSAN.NEWS || Papua—Dari Cerita Harapan Menuju Kerja Nyata Sa pu saudara-saudari, tong sering dengar orang bilang rakyat Papua malas. Tapi kalau tong pikir deng akal sehat, itu bukan omongan yang berdiri di atas fakta.

Leluhur Papua, sama deng leluhur di seluruh Nusantara, dari dulu su kasih tunjuk bahwa hidup harus dijalani deng kerja, disiplin, harga diri, dan tanggung jawab.

Di Tanah Papua, harapan itu hidup dalam kisah Manarmakeri deng semangat Koreri. Koreri bukan sekadar cerita tunggu mujizat turun dari langit. Koreri adalah kerinduan mendalam terhadap hidup yang adil, sejahtera, aman, dan bermartabat.

Indonesia adalah Nation State Bukan United States: Merawat Satu Batin dalam Kepelbagaian

Manarmakeri datang bawa kabar tentang zaman baru, zaman ketika lapar berkurang, ketidakadilan hilang, dan manusia hidup dalam damai.

Tapi hari ini tong musti mengerti bahwa Koreri tidak lahir dari penantian semata. Koreri lahir waktu rakyat bergerak, bekerja, dan bangun masa depan bersama.

Tong tidak tunggu Manarmakeri turun dari awan. Tong sendiri yang harus jadi tangan dan kaki perubahan itu.

II. Nagarakretagama: Negara Hadir untuk Sejahterakan Rakyat

Leluhur Jawa dalam ajaran Nagarakretagama mengajarkan bahwa pemimpin bukan penguasa yang duduk di atas rakyat. Pemimpin adalah pelayan kesejahteraan rakyat.

Demokrasi Perut Kosong: Obituari Kedaulatan Rakyat di Bawah Kolonialisme Politik Liberal

Kalau jalan rusak, sawah tidak terairi, hasil kebun tidak bisa sampai pasar, maka negara belum jalankan tugasnya dengan baik.

Karena itu pembangunan jalan, pelabuhan, irigasi, gudang pangan, dan pasar rakyat bukan sekadar proyek fisik. Itu adalah wujud nyata negara melayani rakyat.

TNI menjaga stabilitas agar masyarakat bisa bekerja dengan tenang.

Polri memastikan distribusi hasil pertanian tidak dirusak mafia dan permainan harga.

Kementerian bekerja membuka akses ekonomi sampai ke kampung-kampung.

Jejak-Jejak Falah: Dari Sajadah Menuju Semesta

Sebab negara yang kuat bukan negara yang penuh gedung megah. Negara yang kuat adalah negara yang rakyatnya makan cukup, sekolah cukup, dan hidup cukup.

III. La Galigo: Alam Bukan Warisan Nenek Moyang, Tapi Titipan Anak Cucu

La Galigo dari Sulawesi mengajarkan satu hal penting: manusia dan alam tidak boleh saling menghancurkan.

Kalau hutan habis, sungai rusak.

Kalau laut rusak, nelayan susah.

Kalau tanah mati, rakyat juga ikut menderita.

Karena itu pembangunan yang baik bukan pembangunan yang rakus.

Tong ambil hasil alam secukupnya, lalu tong jaga supaya anak cucu masih bisa menikmati.

Nelayan harus dibantu teknologi yang baik.

Laut harus dijaga dari pencurian ikan.

Hutan harus dikelola dengan bijaksana.

Sebab kemakmuran sejati bukan soal ambil sebanyak-banyaknya hari ini, tetapi memastikan kehidupan tetap berjalan sampai generasi berikutnya.

IV. Mura Sata Patana: Pemimpin Harus Jujur Baru Rakyat Percaya

Leluhur Kesultanan Buton meninggalkan pesan yang sangat dalam:

Jangan salah gunakan kekuasaan. Jangan terima suap. Jangan berbohong.

Sederhana, tetapi sangat kuat.

Banyak program gagal bukan karena rakyat malas. Banyak program gagal karena ada orang yang mencuri hak rakyat.

Kalau anggaran bocor.

Kalau bantuan tidak sampai.

Kalau tanah rakyat dirampas.

Kalau izin diberikan karena uang.

Maka rakyat kehilangan kepercayaan.

Karena itu semangat Mura Sata Patana harus hidup kembali.

Pejabat harus transparan.

Penegak hukum harus adil.

Pemimpin harus memberi contoh.

Sebab rakyat akan bekerja keras kalau mereka percaya hasil kerja itu tidak dicuri oleh segelintir orang.

V. Koreri: Dari Menunggu Menjadi Membangun

Inilah inti pembaruan cara pandang tong terhadap Koreri.

Koreri bukan alasan untuk duduk menunggu.

Koreri adalah panggilan untuk bangkit.

Setiap pohon sagu yang tong tanam.

Setiap kebun yang tong rawat.

Setiap ikan yang tong tangkap dengan cara yang benar.

Setiap anak yang tong sekolahkan.

Setiap koperasi adat yang tong bangun.

Itu semua adalah Koreri yang sedang tumbuh.

Harapan tidak cukup hanya dibicarakan.

Harapan harus ditanam, dipelihara, dan diperjuangkan.

TNI dan Polri harus hadir sebagai pelindung ruang hidup rakyat.

Tanah adat harus dihormati.

Hak masyarakat harus dijaga.

Pemerintah harus membuka akses modal, teknologi, pendidikan, dan pasar.

Bukan menciptakan ketergantungan, tetapi membangun kemandirian.

Karena Koreri sejati bukan hidup dari belas kasihan.

Koreri sejati adalah kemampuan berdiri di atas kaki sendiri dengan martabat.

VI. Tong Punya Jalan Bersama untuk Bangun Nusantara

Kalau semangat empat warisan besar Nusantara ini tong satukan, maka tong dapat arah yang jelas:

Nagarakretagama mengajar negara melayani rakyat.

La Galigo mengajar manusia hidup harmonis dengan alam.

Mura Sata Patana mengajar integritas dan kejujuran.

Koreri mengajar harapan yang diwujudkan melalui kerja nyata.

Kalau empat nilai ini berjalan bersama, maka pembangunan bukan hanya soal angka statistik, tetapi soal manusia yang hidup lebih baik.

VII. Penutup: Koreri Harus Hadir di Atas Tanah yang Tong Pijak

Sa pu saudara-saudari,

Masalah terbesar bangsa ini bukan kemalasan rakyat.

Masalah terbesar adalah ketika harapan hilang karena ketidakadilan.

Kalau keadilan ditegakkan, rakyat akan bekerja.

Kalau hasil kerja dihargai, rakyat akan berusaha.

Kalau hukum berlaku sama untuk semua, rakyat akan percaya.

Dan kalau negara benar-benar hadir untuk melayani, maka semangat Koreri akan hidup kembali.

Petani di Jawa akan bangga dengan warisan leluhurnya.

Nelayan di Sulawesi akan menjaga lautnya dengan hormat.

Pemimpin di seluruh Indonesia akan takut berbuat curang.

Dan rakyat Papua akan berdiri tegak, bukan sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek yang menentukan masa depannya sendiri.

Karena sesungguhnya Koreri bukan mimpi yang berada jauh di ujung cakrawala.

Koreri ada setiap kali rakyat bekerja dengan jujur.

Koreri ada setiap kali keadilan ditegakkan.

Koreri ada setiap kali hasil bumi dinikmati secara adil oleh pemiliknya.

Tong tidak sedang tunggu zaman baru datang. Tong sedang bangun zaman baru itu dengan tangan tong sendiri.

Itulah Koreri yang hidup. Koreri yang bekerja. Koreri yang memuliakan manusia, menjaga alam, dan menguatkan Indonesia dari kampung sampai ke kota, dari pesisir sampai ke gunung, dari Papua sampai seluruh Nusantara.

Papua—06 Juni 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement