Opinions

Jejak Rezeki di Jalan Langit: Pembacaan Filosofis atas QS. Al-Ankabut: 60

Rezeki
Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag., Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama (KUB) MUI Sulawesi Tenggara dan Dosen Pascasarjana IAIN Kendari, Minggu (14/06/2026). Foto Ist

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.

(Dosen IAIN Kendari dan Anggota Majelis Tarjid dan Tajdid PW Muhammadiyah Sulawesi Tenggara) 

INSAN.NEWS || Kendari—Di antara kegelisahan terbesar manusia modern adalah kegelisahan tentang rezeki. Kita hidup pada zaman yang dipenuhi berbagai kemudahan teknologi, namun pada saat yang sama dibayangi kecemasan yang semakin kompleks.

Orang takut kehilangan pekerjaan karena kecerdasan buatan, takut tertinggal dalam kompetisi global, takut gagal memenuhi standar kesuksesan yang dibangun media sosial, dan takut menghadapi masa depan yang serba tidak pasti. Ironisnya, semakin banyak instrumen ekonomi yang diciptakan manusia, semakin besar pula kecemasan yang menguasai hatinya.

Di tengah situasi demikian, Al-Qur’an menghadirkan sebuah ayat yang sederhana tetapi sangat mendalam:

Ketika Semesta Bekerja: Membaca Takdir dalam Keteraturan Kosmos

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan betapa banyak makhluk bergerak yang tidak mampu membawa rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan juga kepadamu. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabūt: 60)

Ayat ini bukan sekadar berbicara tentang makanan, harta, atau penghasilan. Ia menyentuh persoalan yang lebih mendasar, yakni hubungan eksistensial antara manusia dan Tuhan dalam perkara keberlangsungan hidup.

Ilusi Kendali Manusia

Secara filosofis, manusia modern hidup dalam apa yang dapat disebut sebagai illusion of control (ilusi kendali). Kita merasa bahwa hidup sepenuhnya berada dalam genggaman kita.

Pesantren dan Masa Depan Indonesia: Menjaga Akar, Menyongsong Langit

Gelar akademik, jabatan, tabungan, investasi, dan jaringan sosial dianggap sebagai jaminan masa depan.

Padahal, setiap hari kita menyaksikan bagaimana kepastian dapat berubah menjadi ketidakpastian dalam hitungan detik. Perusahaan besar bangkrut.

Teknologi yang dianggap revolusioner menjadi usang. Pasar yang stabil tiba-tiba bergejolak. Bahkan kesehatan yang selama ini dianggap baik dapat berubah karena satu diagnosis medis.

QS. Al-‘Ankabūt: 60 mengingatkan bahwa manusia sesungguhnya tidak pernah menjadi pengendali mutlak atas hidupnya. Kita hanya mengelola sebab-sebab, sementara hasil akhirnya berada di luar kuasa kita.

Burung yang terbang setiap pagi tidak membawa gudang makanan di bawah sayapnya. Ikan di lautan tidak memiliki rekening untuk menjamin hidupnya. Semut tidak memiliki kontrak kerja. Namun mereka tetap hidup dalam sistem pemeliharaan yang telah Allah tetapkan.

Manifesto Kearifan Leluhur untuk Buka Jalan ke Zaman Baru Kesejahteraan Rakyat

Di sinilah letak kritik Al-Qur’an terhadap kesombongan manusia. Kita sering mengira bahwa rezeki datang karena kecerdasan kita, padahal kecerdasan itu sendiri adalah rezeki dari Allah.

Tawakkal Bukan Pasrah

Salah satu kesalahpahaman terbesar dalam memahami ayat-ayat rezeki adalah menganggapnya sebagai legitimasi untuk bermalas-malasan. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan fatalisme.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; pagi hari ia keluar dalam keadaan lapar dan sore hari kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Perhatikan, burung tetap terbang. Ia tidak menunggu makanan jatuh ke sarangnya. Tawakkal bukan berhenti bergerak, melainkan bergerak tanpa kehilangan keyakinan bahwa Allah adalah sumber segala hasil.

Dalam perspektif tasawuf, tawakkal adalah pembebasan hati dari ketergantungan kepada selain Allah. Seorang sufi bekerja, berdagang, bertani, mengajar, dan berkarya.

Namun ia tidak menggantungkan keselamatan hidupnya pada pekerjaan itu. Ia menggantungkan dirinya kepada Tuhan yang mengatur seluruh sebab dan akibat.

Karena itu, tawakkal bukan kelemahan. Tawakkal adalah keberanian spiritual untuk melangkah meskipun masa depan tidak sepenuhnya terlihat.

Rezeki dalam Kosmologi Ilahi

Ayat ini juga mengajak kita melihat alam semesta sebagai jaringan pemeliharaan Ilahi (_divine providence_). Tidak ada makhluk yang hidup sendiri. Semua berada dalam sistem keterhubungan yang sangat kompleks.

Hujan yang turun di pegunungan menjadi sumber air bagi sungai. Sungai menghidupi sawah. Sawah menghasilkan padi. Padi menjadi makanan manusia. Manusia kemudian mengelola bumi dan menjaga keseimbangan kehidupan.

Dalam pandangan ini, rezeki bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan bagian dari kosmologi ketuhanan. Setiap makhluk menerima bagiannya sesuai hukum yang telah ditetapkan Allah.

Maka kerakusan sesungguhnya bukan hanya masalah moral, tetapi juga bentuk pemberontakan terhadap tatanan kosmik yang telah diatur Tuhan.

Ketika manusia menumpuk kekayaan tanpa batas, merusak lingkungan, atau mengeksploitasi sesama demi keuntungan pribadi, ia sedang mengganggu aliran rezeki yang seharusnya dinikmati bersama.

Algoritma Langit di Era Digital

Pada era digital, manusia semakin bergantung pada algoritma. Nilai seseorang sering diukur dari jumlah pengikut, tingkat keterlibatan, atau angka monetisasi.

Banyak orang menghabiskan hidupnya mengejar validasi digital dengan keyakinan bahwa masa depan mereka ditentukan oleh statistik dan data.

Namun QS. Al-‘Ankabūt: 60 mengajarkan bahwa di atas semua algoritma manusia terdapat “algoritma langit” yang jauh lebih luas dan lebih misterius.

Sering kali rezeki datang dari arah yang tidak pernah diperkirakan. Pertemuan yang tidak direncanakan, kesempatan yang tidak terduga, bantuan dari orang yang tidak dikenal, atau jalan hidup yang sama sekali tidak masuk dalam perencanaan kita.

Di sinilah manusia belajar rendah hati. Tidak semua hal dapat dihitung dengan rumus ekonomi. Tidak semua keberhasilan lahir dari strategi. Ada dimensi rahmat yang bekerja melampaui kalkulasi manusia.

Menemukan Kedamaian dalam Ketidakpastian

Barangkali pesan terdalam dari QS. Al-‘Ankabūt: 60 bukanlah tentang jumlah rezeki, melainkan tentang ketenangan hati.

Banyak orang memiliki harta melimpah tetapi tetap gelisah. Sebaliknya, ada yang hidup sederhana namun hatinya damai. Perbedaannya terletak pada tempat ia menggantungkan harapan.

Ketika seseorang meyakini bahwa Allah adalah _Ar-Razzāq_, Sang Maha Pemberi Rezeki, maka ia akan bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa diperbudak oleh kecemasan.

Ia berusaha maksimal tanpa kehilangan ketenangan. Ia merencanakan masa depan tanpa menjadikan masa depan sebagai berhala baru dalam hidupnya.

QS. Al-‘Ankabūt: 60 mengajarkan bahwa hidup bukanlah tentang menguasai seluruh kemungkinan, tetapi tentang mempercayai Tuhan di tengah segala ketidakpastian.

Sebab pada akhirnya, rezeki bukan sekadar apa yang masuk ke dalam genggaman tangan, melainkan apa yang membuat hati tetap tenang dalam perjalanan menuju-Nya.

Karena jejak rezeki sesungguhnya tidak selalu terlihat di jalan-jalan bumi, tetapi sering kali tersembunyi di jalan-jalan langit yang hanya dapat dibaca oleh hati yang bertawakal.

Wallahu A’lam bi al-Shawab

Kendari—14 Juni 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement