Oleh : Baharuddin Hafid (Akademisi Universitas Megarezky Makassar)
INSAN.NEWS || Makassar—Jika semesta sedang bekerja, maka sesungguhnya manusia sedang diingatkan bahwa hidup bukan sekadar rangkaian kebetulan.
Dalam perspektif kosmologis, alam raya bergerak dalam keteraturan yang nyaris mustahil lahir tanpa kehendak agung.
Matahari tidak pernah terlambat terbit, bulan tidak saling bertabrakan, lautan mengenal batasnya, dan bintang-bintang beredar dalam orbit yang presisi.
Keteraturan kosmos itu menunjukkan bahwa semesta bukan ruang chaos, melainkan ruang makna.
Dalam pendekatan teologis, keteraturan itu adalah tanda-tanda Tuhan yang terus berbicara kepada manusia. Al-Qur’an menyebut alam sebagai ayat kauniyah—tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di langit dan bumi.
Maka ketika orang berkata “semesta sedang bekerja”, sesungguhnya yang bekerja bukanlah semesta sebagai entitas independen, melainkan sunnatullah; hukum-hukum Ilahi yang mengatur sebab-akibat kehidupan.
Kadang manusia terlalu tergesa menilai kegagalan sebagai akhir, padahal kosmos mengajarkan bahwa segala sesuatu memiliki siklus.
Malam tidak abadi, musim kemarau pasti berganti hujan, bahkan bintang pun lahir melalui ledakan panjang yang menyakitkan. Dari sudut pandang ini, penderitaan manusia bukan selalu hukuman, melainkan bagian dari proses penyempurnaan eksistensi. Semesta seolah sedang “mendidik” manusia agar memahami makna sabar, ikhtiar, dan tawakal.
Pendekatan kosmologis juga menempatkan manusia bukan sebagai pusat alam, tetapi bagian kecil dari jaringan besar ciptaan Tuhan. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati.
Bahwa ada banyak hal yang tidak dapat dikendalikan manusia: waktu, takdir, kematian, bahkan arah hati seseorang. Di titik itulah teologi hadir memberi jawaban bahwa di balik keterbatasan manusia, terdapat kehendak Tuhan yang Maha Mengatur.
Maka, ketika semesta terasa sedang “bekerja” dalam hidup seseorang—mempertemukan, menjauhkan, menguji, atau mengangkat derajat—boleh jadi itu adalah cara Tuhan menata kehidupan melalui hukum-hukum-Nya yang tak selalu dipahami manusia secara instan.
Sebab tidak semua yang tertunda berarti ditolak, dan tidak semua yang hilang berarti musibah. Ada rahasia kosmik yang sering baru dimengerti setelah manusia melewati waktu yang panjang.
Pada akhirnya, semesta hanyalah medium. Sedangkan pusat dari seluruh gerak kosmos tetaplah Tuhan. Karena itu, manusia tidak cukup hanya percaya pada “energi semesta”, tetapi harus sampai pada kesadaran tauhid: bahwa seluruh jagat raya tunduk pada satu kehendak Ilahi.
Dan ketika manusia mampu membaca tanda-tanda itu dengan hati yang jernih, ia akan memahami bahwa hidup bukan sekadar tentang apa yang diinginkan, melainkan tentang apa yang sedang dipersiapkan Tuhan melalui perjalanan semesta.
Allahu A’lamu Bishshawab
Makassar—14 Juni 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


