Sejarah kadang tidak dibunuh ia hanya dihapus pelan-pelan dari ingatan.
Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidrap—Tragedi Bi’r Ma’unah adalah salah satu luka paling sunyi dalam sejarah Islam. Tujuh puluh sahabat terbaik, para penghafal Al-Qur’an, diutus oleh Nabi Muhammad ke Najd bukan untuk berperang, tetapi untuk mengajar.
Mereka datang membawa ayat, bukan pedang. Tetapi yang mereka terima adalah pengkhianatan pembantaian tanpa ampun.
Sejarah mencatat, Nabi tidak diam. Selama satu bulan, beliau melantunkan doa dalam shalat yaitu qunut nazilah. Bukan sekadar doa, tetapi jeritan spiritual atas tragedi kemanusiaan.
Dalam riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, qunut itu adalah respons langsung atas darah yang ditumpahkan secara zalim.
Namun, berabad-abad kemudian, muncul suara yang mengatakan bahwa itu bid’ah.
Ketika Doa Dipreteli dari Sejarahnya
Sebagian kalangan yang mengikuti garis pemikiran Muhammad ibn Abd al-Wahhab yang kemudian dikenal melalui gerakan Wahhabism yang memilih jalan purifikasi.
Mereka ingin Islam bersih dari tambahan. Mereka ingin kembali ke teks, ke literalitas, ke apa yang mereka sebut sebagai kemurnian.
Masalahnya sederhana sebab dalam proyek pemurnian itu, sejarah ikut terpangkas.
Qunut direduksi menjadi soal teknis; dilakukan atau tidak, rutin atau temporer. Selesai. Padahal, qunut bukan sekadar “gerakan tambahan dalam shalat”. Ia adalah arsip penderitaan umat yang diabadikan dalam ibadah.
Ketika qunut ditolak, yang hilang bukan hanya satu bacaan. Yang hilang adalah ingatan kolektif tentang pengkhianatan di Najd.
Najd dan Ingatan yang Tidak Nyaman
Kita tidak bisa menutup fakta tentang adanya tragedi Bi’r Ma’unah yang terjadi di wilayah Najd. Wilayah yang sama yang berabad-abad kemudian melahirkan Muhammad ibn Abd al-Wahhab.
Apakah ini kebetulan? Mungkin.
Tetapi yang lebih menarik adalah bagaimana ingatan tentang tragedi itu tidak lagi menjadi pusat kesadaran umat, terutama dalam wacana keagamaan yang sangat tekstual dan legalistik.
Di titik ini, pertanyaannya menjadi tidak nyaman yaitu;
Ketika praktik yang lahir dari tragedi di Najd dihapus dari ibadah, apakah yang sedang terjadi adalah pemurnian… atau pelupaan?
Tentu, tidak ada bukti sederhana untuk menyebut adanya “konspirasi besar”. Tetapi sejarah tidak selalu dihapus dengan larangan. Kadang ia dihapus dengan cara yang lebih halus yaitu dengan tidak lagi dianggap penting.
Agama Tanpa Luka, Agama Tanpa Ingatan
Pendekatan yang terlalu kaku terhadap teks sering kali melahirkan agama yang steril, bersih, rapi, tetapi dingin. Dalam agama seperti ini;
- Tidak ada ruang untuk emosi sejarah
- Tidak ada tempat bagi luka kolektif
- Tidak ada kebutuhan untuk mengingat tragedi
Padahal Islam lahir dari penderitaan, dari pengorbanan, dari darah para sahabat.
Mazhab seperti Mazhab Syafi’i mempertahankan qunut bukan semata karena dalil, tetapi juga karena kesadaran bahwa ibadah adalah ruang ingatan. Bahwa setiap doa bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Sebaliknya, ketika semua harus tunduk pada standar “pernah atau tidak pernah dilakukan secara rutin”, maka agama berubah menjadi arsitektur hukum tanpa jiwa.
Bid’ah atau Amnesia?
Label “bid’ah” sering kali terdengar tegas, bahkan final. Tetapi dalam banyak kasus, ia justru menjadi alat untuk menyederhanakan persoalan yang kompleks.
Qunut bukan sekadar soal hukum. Ia adalah soal bagaimana umat mengingat dirinya sendiri.
Menolak qunut mungkin sah secara metodologis. Tetapi menolak makna di baliknya itulah yang berbahaya.
Karena ketika umat mulai kehilangan ingatan atas tragedinya, ia juga mulai kehilangan sensitivitas terhadap kezaliman.
Penutup: Siapa yang Diuntungkan dari Lupa?
Sejarah tidak pernah netral. Ia selalu diperebutkan kadang secara terang-terangan, kadang secara diam-diam.
Tragedi Bi’r Ma’unah adalah pengingat bahwa pengkhianatan bisa terjadi bahkan dalam balutan janji dakwah. Qunut adalah cara Nabi memastikan bahwa tragedi itu tidak dilupakan.
Hari ini, ketika qunut diperdebatkan hanya sebagai “bid’ah atau tidak”, kita mungkin sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar yaitu:
bukan sekadar perdebatan fiqh, tetapi perlahan-lahan terhapusnya ingatan umat tentang luka mereka sendiri.
Dan sejarah mengajarkan satu hal bahwa umat yang lupa pada lukanya, akan mudah mengulanginya.
Sidenreng Rappang—18 Maret 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


