By : Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidrap—Di negeri yang katanya menjunjung tinggi akal sehat, kita justru menyaksikan sebuah ironi: kecerdasan dipinggirkan, sementara ketersinggungan dipelihara seperti hewan ternak yang diberi makan tiap hari oleh potongan video berdurasi 30 detik.
Maka lahirlah generasi baru: para pelapor profesional bukan karena mereka paham substansi, tetapi karena mereka mahir tersinggung.
Sebuah potongan ceramah dari Yusuf Kalla dijadikan dalih untuk menyalakan alarm moral. Lucunya, alarm itu berbunyi bukan karena ada kebakaran, tetapi karena mereka sendiri yang menggesekkan korek api ke tumpukan jerami bernama “SARA”.
Ironi ini menjadi semakin kental jika kita mengingat bahwa sosok yang mereka laporkan bukanlah figuran pinggiran sejarah. Ia adalah salah satu arsitek perdamaian di Ambon dan Poso dua wilayah yang pernah benar-benar terbakar oleh konflik identitas.
Bahkan dalam proses menuju Perjanjian Helsinki, perannya tidak bisa dianggap remeh dalam meredam gejolak Gerakan Aceh Merdeka.
Namun begitulah hukum zaman digital sebab rekam jejak puluhan tahun bisa dikalahkan oleh potongan video setengah menit.
Para pelapor ini tampaknya memiliki keyakinan yang sangat mengagumkan bahwa mereka lebih paham soal potensi konflik dibanding orang yang pernah memadamkan konflik itu sendiri.
Sebuah keberanian yang hampir heroik, kalau tidak ingin disebut sebagai bentuk lain dari ketidaktahuan yang percaya diri.
Mereka mengaku menjaga kerukunan. Padahal, cara mereka bekerja justru seperti menabuh genderang perang di tengah pasar yang sedang tenang.
Mereka mengaku mencegah konflik SARA. Padahal, merekalah yang pertama kali mengangkat isu itu ke permukaan, mengulang-ulangnya, memviralkannya, hingga menjadi konsumsi publik yang lebih luas.
Ini seperti seseorang yang berteriak, “Jangan panik! Jangan panik!” sambil menyalakan petasan di ruang tertutup.
Lebih tragis lagi, fenomena ini memperlihatkan satu hal kita tidak lagi kekurangan informasi, tetapi kekurangan kedewasaan dalam mengolah informasi.
Di sinilah “kebodohan yang dipelihara” menemukan habitatnya. Ia tumbuh subur di tanah algoritma, disiram oleh emosi, dan dipanen dalam bentuk kemarahan kolektif yang sering kali salah alamat.
Padahal, konflik SARA tidak pernah lahir dari satu kalimat. Ia lahir dari akumulasi ketidakpercayaan, ketidakadilan, dan yang paling berbahaya provokasi yang terus diulang tanpa konteks.
Dan dalam konteks ini, para pelapor yang gegabah itu justru berpotensi menjadi katalis.
Bukan karena mereka berniat jahat, tetapi karena mereka gagal memahami bahwa mengangkat isu sensitif tanpa kedalaman analisis sama saja dengan memperluas bara yang seharusnya bisa dipadamkan.
Tentu, dalam negara hukum, melapor adalah hak. Namun hak tanpa kebijaksanaan hanyalah alat yang menunggu disalahgunakan.
Akhirnya, kita sampai pada sebuah kesimpulan yang pahit: bahwa ancaman terhadap harmoni sosial hari ini bukan hanya datang dari ujaran yang dipotong, tetapi juga dari reaksi yang dipercepat tanpa pemahaman.
Dan jika ini terus dipelihara, maka kita tidak sedang menjaga perdamaian, kita sedang merawat benih konflik, sambil merasa diri sebagai penjaga ketertiban.
Sebuah ironi yang terlalu mahal untuk terus kita ulangi.
Sidenreng Rappang—16 April 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


