Opinions

Jangan Biarkan Buah Mendahului Bunga

Bunga
‎Dr. Buhari Fakkah, M.Pd---Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng---Rappang, Pemerhati Demokrasi, Dan Etika Publik. Aktif menulis Opini Reflektif Tentang Filsafat, Demokrasi dan Politik di Berbagai Media. Minggu (17/05/2026). Foto Ist

(Menyelam lebih dalam Ide Cak Anas lewat judul diatas) 

Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang 

INSAN.NEWS || Sidrap—Di zaman yang serba simbolik ini, banyak orang ingin segera dipanen sebelum sempat bertumbuh. Baru belajar berdiri di mimbar diskusi, sudah ingin diperlakukan seperti pemilik sejarah.

Baru sekali memegang mikrofon forum, sudah berharap dunia menyiapkan karpet penghormatan. Seolah-olah pengakuan sosial lebih penting daripada proses menjadi manusia yang matang.

Kita hidup di tengah generasi yang sering tergesa-gesa menjadi “buah”, padahal bunganya saja belum benar-benar mekar.

Film Dokumenter Pesta Babi Ungkap Dugaan Kolonialisme Baru di Tanah Papua

Fenomena ini paling lucu terlihat di ruang-ruang organisasi, komunitas, dan lingkaran aktivisme. Tempat yang seharusnya menjadi laboratorium intelektual justru perlahan berubah menjadi panggung kecil perebutan validasi.

Jabatan dijadikan mahkota moral, senioritas berubah menjadi alat pemungutan hormat, dan forum ilmiah kadang terasa seperti upacara penyembahan ego berjamaah.

Ironisnya, sebagian orang tidak lagi sibuk membangun kapasitas diri, tetapi sibuk mengatur bagaimana dirinya dihormati. Mereka lebih sensitif terhadap cara dipanggil daripada kualitas gagasan yang disampaikan.

Kritik dianggap ancaman martabat. Perbedaan pendapat diterjemahkan sebagai pembangkangan. Bahkan ada yang diam-diam mengukur keberhasilannya dari berapa banyak kepala yang menunduk ketika ia lewat.

Di titik ini, organisasi tidak lagi melahirkan kader merdeka, melainkan mencetak bangsawan-bangsawan kecil dengan ego yang tumbuh lebih cepat daripada kualitas berpikirnya.

Metaforis dan Sarkastik dalam Majas Sastra 

Padahal penghormatan sejati tidak pernah lahir dari paksaan simbolik. Ia tumbuh perlahan dari keteladanan, kapasitas, dan integritas yang teruji oleh waktu.

Orang yang benar-benar besar biasanya tidak sibuk meminta pengakuan, sebab nilai dirinya tidak bergantung pada tepuk tangan forum atau pujian musiman.

Masalahnya, budaya gila hormat telah menjelma menjadi epidemi sosial modern. Banyak orang takut terlihat biasa-biasa saja. Semua ingin dianggap penting. Semua ingin dipanggil tokoh. Semua ingin dihormati sebelum sempat memberi manfaat yang berarti.

Akibatnya, lahirlah generasi yang lebih pandai membangun citra daripada membangun diri. Mereka fasih berbicara tentang perjuangan, tetapi rapuh ketika berhadapan dengan kritik.

Mereka gemar mengutip idealisme, tetapi diam-diam memelihara feodalisme kecil di lingkungan sendiri.

Menakar Kebenaran di Butta Gowa: Menjaga Nalar di Tengah Badai Isu

Lucunya lagi, sebagian orang menganggap penghormatan adalah hak otomatis yang muncul dari usia, jabatan, atau lamanya bergabung dalam organisasi.

Seakan-akan waktu bisa menggantikan kualitas. Seakan senioritas adalah sertifikat kebijaksanaan. Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa umur yang panjang tidak selalu menghasilkan pikiran yang dewasa.

Karena itu, mungkin kita perlu kembali belajar satu hal sederhana: jangan biarkan buah mendahului bunga.

Jangan buru-buru ingin dipandang besar sebelum selesai bertumbuh. Jangan tergesa meminta penghormatan sebelum pantas diteladani.

Dan yang paling penting, beranilah mendefinisikan diri tanpa bergantung pada validasi sosial yang rapuh.

Sebab manusia yang terlalu lapar pengakuan biasanya mudah kehilangan dirinya sendiri. Ia hidup bukan untuk bertumbuh, melainkan untuk dipuji. Dan ketika tepuk tangan berhenti, ia tidak lagi tahu siapa dirinya.

Sidenreng Rappang—17 Mei 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement