Oleh: Aminatuzzuhriah Kader HMI Cabang Pangkep
INSAN.NEWS || Pangkep—Ada kalanya sebuah masyarakat membuka topengnya sendiri melalui bahasa yang digunakannya. Salah satunya adalah istilah “turun mesin.”
Istilah yang terdengar sederhana. Terlihat seperti candaan. Diucapkan sambil tertawa. Dianggap biasa. Namun di balik dua kata itu, tersembunyi cara pandang yang begitu telanjang terhadap perempuan.
Dalam banyak percakapan, “turun mesin” bukan lagi sekadar istilah. Ia adalah label bagi perempuan yang dianggap tidak lagi mampu melahirkan.
Tidak lagi subur. Tidak lagi bisa memberikan keturunan. Tidak lagi memiliki rahim. Tidak lagi memenuhi ekspektasi biologis yang selama ini dibebankan kepadanya.
Dan di situlah persoalannya.
Mengapa ketika seorang laki-laki menua, ia disebut matang, berpengalaman, bahkan semakin berwibawa. Tetapi ketika seorang perempuan kehilangan kemampuan reproduksinya, ia justru dicap telah “turun mesin”?
Mengapa nilai perempuan begitu sering diikat pada rahimnya?
Mengapa keberhargaan seorang istri seolah bergantung pada kemampuannya menghasilkan keturunan?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin membuat sebagian orang tidak nyaman. Tetapi justru ketidaknyamanan itulah yang perlu dihadapi.
Sebab istilah “turun mesin” lahir dari cara berpikir yang melihat perempuan bukan sebagai manusia utuh, melainkan sebagai fungsi. Sebagai alat. Sebagai sarana. Sebagai tubuh yang harus terus membuktikan kegunaannya.
Dalam logika yang kejam itu, perempuan dipuji ketika bisa melahirkan. Perempuan dibanggakan ketika bisa memberi keturunan. Perempuan dianggap sempurna ketika mampu memenuhi seluruh ekspektasi yang dibebankan kepadanya.
Namun ketika tubuhnya berubah karena usia, ketika rahimnya harus diangkat karena alasan medis, ketika ia tidak lagi mampu mengandung, penghargaan itu mendadak dipertanyakan.
Seolah-olah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah cukup.
Seolah-olah nilai seorang perempuan dapat dihitung dari kondisi organ reproduksinya.
Seolah-olah cinta memiliki syarat administratif bernama kesuburan.
Yang lebih mengerikan, cara berpikir semacam ini sering bersembunyi di balik dalih yang dianggap masuk akal. Ada yang berbisik bahwa istri sudah tidak bisa memberikan keturunan.
Ada yang menganggap wajar ketika perempuan yang tidak lagi subur mulai dipandang sebelah mata. Bahkan ada yang menjadikan kondisi biologis perempuan sebagai pembenaran untuk mencari perempuan lain.
Di titik itulah istilah “turun mesin” berubah menjadi lebih dari sekadar ungkapan.
Ia menjadi stempel sosial.
Ia menjadi cara masyarakat mengatakan bahwa nilai seorang perempuan berkurang karena tubuhnya tidak lagi mampu memenuhi harapan tertentu.
Padahal kenyataannya sederhana.
Perempuan bukan pabrik anak.
Perempuan bukan alat produksi keturunan.
Perempuan bukan mesin biologis yang nilainya ditentukan oleh seberapa banyak anak yang bisa dilahirkan.
Dan perempuan tentu bukan budak seksual yang keberadaannya hanya untuk memenuhi kebutuhan orang lain.
Jika seseorang hanya menghargai perempuan selama ia masih mampu melahirkan, maka yang ia cintai bukanlah perempuan itu. Yang ia cintai adalah fungsi biologisnya.
Jika kesetiaan berakhir ketika rahim tidak lagi bekerja, maka yang runtuh bukanlah tubuh perempuan, melainkan kualitas cinta itu sendiri.
Karena pada akhirnya, seorang perempuan yang kehilangan rahimnya tidak kehilangan martabatnya.
Seorang perempuan yang tidak lagi bisa melahirkan tidak kehilangan kemanusiaannya.
Dan masyarakat yang terus menyebutnya “turun mesin” mungkin perlu bertanya pada dirinya sendiri:
Siapa sebenarnya yang kehilangan fungsi kemanusiaan di sini? Perempuan itu, atau cara berpikir kita yang masih mengukur nilai perempuan dari rahim dan tubuhnya?
Pangkajene Kepulauan—02 Juni 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


