By: Samsir Salam, S.Ag.,MH (Ketua Bawaslu Pangkep/Mantan Ketum HMI Cab. Gowa Raya)
INSAN.NEWS || Pangkep—Kritik sering dipersepsikan sebagai gangguan ketertiban. Ia dianggap suara sumbang yang merusak harmoni, apalagi ketika diarahkan kepada kekuasaan atau kemapanan.
Padahal, dalam tradisi etika dan keagamaan, kritik justru merupakan amanah moral—sebuah ikhtiar menyelamatkan nilai sebelum kerusakan menjadi kebiasaan.
Al-Qur’an tidak menempatkan kritik sebagai tindakan subversif, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab kolektif. Dalam surah Al-‘Ashr, Allah menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ
(QS. Al-‘Ashr: 3)
Ayat ini menempatkan nasihat—yang dalam praktik sosialnya sering berupa kritik—sebagai syarat keselamatan. Artinya, kritik bukan pilihan tambahan, melainkan kewajiban etis. Tanpa kritik, iman dan amal saleh kehilangan daya korektifnya.
Lebih mendalam Samsir jelaskan dalam tulisannya resminya, Jum’at (27/02/2026), di bulan Ramadhan, kewajiban saling mengingatkan itu menemukan maknanya yang paling jernih.
Ramadhan bukan hanya latihan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan menundukkan ego.
Ia mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu datang dari mimbar, dan peringatan tidak selalu harus disampaikan dengan suara tinggi.
Justru dalam suasana spiritual ini, saling mengingatkan menjadi bentuk ibadah sosial—cara menjaga agar kesalehan personal tidak terputus dari tanggung jawab publik.
Masalahnya, tidak sedikit orang yang begitu gembira ketika menerima jabatan, tetapi berubah gusar ketika menerima kritik. Kekuasaan dirayakan sebagai kehormatan, sementara koreksi diperlakukan sebagai gangguan.
Padahal, semakin tinggi jabatan, semestinya semakin luas pula kesediaan untuk diuji dan diingatkan. Kekuasaan tanpa kritik hanya akan melahirkan rasa benar sendiri.
Kritik yang berirama indah bukanlah kritik yang berisik. Ia bekerja seperti dawai; ditekan dengan presisi, disentuh dengan kejujuran. Tujuannya bukan mempermalukan, tetapi menyadarkan. Inilah kritik yang mengetuk nurani, bukan sekadar memuaskan emosi.
LoAl-Qur’an bahkan memuji keberadaan kelompok yang secara sadar mengambil peran korektif dalam masyarakat;
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.”
(QS. Ali ‘Imran: 104)
Ayat ini menegaskan bahwa kritik sosial—amar ma’ruf nahi munkar—adalah fondasi peradaban yang sehat. Ketika kritik dibungkam atau dipelintir sebagai ancaman, sejatinya yang sedang dilemahkan adalah mekanisme penyelamatan moral masyarakat.
Ironisnya, yang sering ditolak bukan kritiknya, melainkan kebenaran yang dibawanya. Kita lebih mudah menuduh niat daripada menguji substansi. Padahal Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehancuran suatu kaum justru bermula ketika peringatan diabaikan;
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka…”
(QS. Al-A‘raf: 165)
Kritik, dengan demikian, adalah bentuk kepedulian paling jujur. Ia tidak selalu nyaman, tetapi selalu diperlukan. Ia menjaga agar kekuasaan tetap rendah hati, agar masyarakat tidak terbuai, dan agar nurani publik tidak mati perlahan.
Jika kritik disampaikan dengan adab, dan diterima dengan kebesaran jiwa, maka ia akan menjadi musik peradaban—tidak bising, tetapi membimbing.
Dan di situlah kritik menemukan makna tertingginya; sebagai amanah untuk menjaga arah, terutama di bulan Ramadhan, ketika kejujuran diuji bukan hanya oleh orang lain, tetapi oleh hati sendiri.
Pangkajene—Kepulauan, 27 Februari 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


