Opinions

Ulul ‘Azmi dan Krisis Kepemimpinan Kita

Sabar
Baharuddin Hafid - Dosen tetap Universitaz Megatezky Makassar Dan Instruktur NDPers Nasional. Jum'at (27/02/2026). Foto Ist

‎Oleh : Baharuddin Hafid (Akademisi Universitas Megarezky Makassar)

INSAN.NEWS || Makassar—Di tengah republik yang riuh oleh slogan perubahan, kita justru menyaksikan krisis paling sunyi; krisis keteguhan moral. Kita punya banyak pemimpin, tetapi sedikit yang memiliki ‘azm—keteguhan prinsip yang tak goyah oleh tekanan kekuasaan, opini mayoritas, atau rayuan elektoral.

‎Al-Qur’an menyebut satu kategori khusus; rasul-rasul Ulul ‘Azmi (QS. Al-Ahqaf: 35).

‎Dalam tafsir klasik seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dan Al-Tabari, Ulul ‘Azmi adalah para rasul dengan kesabaran paling kokoh dan ujian paling berat.

‎Mayoritas ulama menyebut lima nama; Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad. (Baca QS Al-Ahzab Ayat 7)

Kritik Sebagai Amanah Moral: Menyetel Nurani, Menjaga Peradaban

‎Tetapi membaca Ulul ‘Azmi hanya sebagai “tokoh sabar” adalah reduksi teologis. Kesabaran mereka bukan kesabaran pasif; ia adalah ketahanan revolusioner.

Dari Kesabaran Spiritual ke Revolusi Sosial

‎Dalam tafsir klasik, Ulul ‘Azmi dipahami sebagai hierarki spiritual—mereka yang paling teguh dalam iman dan dakwah.

‎Namun dalam pembacaan modern seperti yang dirintis oleh Muhammad Abduh hingga Fazlur Rahman, keteguhan itu bergerak ke ranah sosial; para nabi adalah arsitek perubahan struktur.

‎Nuh bukan hanya sabar menghadapi ejekan; ia bertahan membangun komunitas iman di tengah peradaban yang runtuh.

Nabi Musa: Figur yang Paling Historis dalam Al-Qur’an

‎Ibrahim bukan sekadar diuji api; ia mendekonstruksi hegemoni teologi-politik zamannya.

‎Musa bukan hanya pembawa mukjizat; ia memimpin eksodus melawan negara tiranik.

‎Isa bukan sekadar figur spiritual; ia mengguncang legalisme agama yang membeku.

‎Muhammad bukan hanya nabi; ia membangun peradaban dengan sintesis moral, hukum, dan politik.

‎Jika kita pinjam teori otoritas karismatik Max Weber, mereka adalah pemimpin yang lahir bukan dari struktur kekuasaan, melainkan dari legitimasi moral.

Dari Cemas ke Cinta: Dzikir sebagai Revolusi Kesadaran Tauhid

Mereka tidak populer di awal. Mereka tidak disukai elite. Mereka bahkan dimusuhi sistem. Tetapi sejarah berpihak pada keteguhan, bukan pada kenyamanan.

‎Problem Kita; Popularitas Tanpa ‘Azm

Kepemimpinan kontemporer—termasuk di negeri ini—terlalu cepat menukar prinsip dengan elektabilitas. Politik menjadi seni kompromi tanpa batas. Moralitas dinegosiasikan atas nama stabilitas. Kritik dibungkam dengan dalih harmoni.

Kita memuja citra, tetapi alergi pada integritas. Kita mengagumi retorika, tetapi takut pada konsistensi.

‎Padahal Ulul ‘Azmi mengajarkan satu hal mendasar; kepemimpinan sejati selalu lahir dari kemampuan menahan tekanan tanpa kehilangan prinsip.

‎Mereka tidak menyesuaikan kebenaran dengan survei. Mereka tidak mengubah nilai demi koalisi. Mereka berdiri—bahkan ketika sendirian.

Sabar Bukan Pasrah

‎Ada kesalahpahaman fatal dalam memahami sabar. Kita sering mengartikannya sebagai diam.

‎Dalam paradigma profetik, sabar adalah strategi jangka panjang. Ia aktif, bukan pasif. Ia visioner, bukan reaksioner.

‎Sabar Nabi Musa berarti konsisten melawan tirani, bukan berdamai dengannya.

‎Sabar Nabi Muhammad berarti membangun institusi, bukan sekadar menunggu mukjizat. Sabar adalah stamina moral.

‎Lanjut penjelasan Bahar dalam tulisan resminya, Jum’at (27/02/2026), dan inilah yang hilang dalam kepemimpinan kita hari ini; stamina untuk menanggung risiko demi nilai.

‎Ulul ‘Azmi Sebagai Kritik Zaman

‎Konsep Ulul ‘Azmi sesungguhnya bukan sekadar kategori kenabian, melainkan cermin kritik sosial. Ia mempertanyakan; Apakah pemimpin hari ini punya keteguhan visi peradaban? Ataukah sekadar mengelola kekuasaan lima tahunan? Apakah keberanian moral masih ada? ‎Ataukah semuanya tunduk pada kompromi pragmatis?

‎Sejarah menunjukkan satu pola; perubahan besar selalu lahir dari minoritas yang teguh. Nuh memulai dari sedikit pengikut.

‎Ibrahim berdiri hampir sendirian. Musa memimpin budak, bukan bangsawan. Muhammad memulai dari komunitas kecil yang dimarginalkan. ‎Keteguhan selalu tampak lemah di awal. Tetapi ia mengubah arah zaman.

‎Pertanyaan untuk Kita

‎Kita tidak sedang kekurangan pemimpin. Kita kekurangan Ulul ‘Azmi dalam jiwa kepemimpinan. Bukan nabi baru—tetapi karakter baru. Bukan mukjizat—tetapi integritas. Bukan slogan perubahan—tetapi keberanian memikul konsekuensi.

‎Sebab sejarah tidak digerakkan oleh mereka yang paling aman, melainkan oleh mereka yang paling teguh.

Dan mungkin, krisis terbesar bangsa ini bukan ekonomi, bukan politik, bukan teknologi—melainkan krisis ‘azm: hilangnya keteguhan moral dalam memimpin.

Pertanyaannya sederhana, tetapi menohok; Siapa di antara kita yang masih berani teguh ketika seluruh sistem menekan untuk tunduk?

‎INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement