Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidrap—Di zaman ketika peluru dapat menghancurkan bangunan dalam hitungan detik, narasi justru menghancurkan kesadaran dalam waktu yang jauh lebih lama.
Perang modern tidak lagi semata-mata berlangsung di medan tempur, tetapi juga di ruang redaksi, di layar televisi, dan terutama di linimasa media sosial.
Di situlah makna diperebutkan, fakta dipoles, dan persepsi diproduksi. Dalam lanskap inilah konsep Hasbara lahir dan berkembang.
Secara etimologis, Hasbara berarti “penjelasan”. Namun dalam praktik politik kontemporer, ia bukan sekadar penjelasan, melainkan arsitektur komunikasi global yang dirancang untuk membentuk cara dunia memahami konflik Timur Tengah.
Dalam pengertian ini, Hasbara bukan hanya strategi komunikasi negara, tetapi sebuah mesin produksi narasi yang bekerja lintas institusi, lintas negara, dan lintas platform digital.
Istilah ini sering dikaitkan dengan diplomasi publik yang dijalankan oleh institusi negara Israel seperti Ministry of Foreign Affairs of Israel, yang bertugas menjelaskan kebijakan Israel kepada publik internasional. Namun dalam praktiknya, jaringan ini tidak berhenti pada institusi negara.
Ia meluas ke organisasi advokasi, lembaga think tank, aktivis digital, hingga jaringan relawan yang secara aktif memproduksi dan menyebarkan narasi pro-Israel di ruang publik global.
Di Amerika Serikat, misalnya, organisasi seperti AIPAC memainkan peran penting dalam mempengaruhi diskursus politik dan kebijakan luar negeri.
Sementara itu, organisasi seperti StandWithUs bergerak di bidang advokasi publik dan kampanye media untuk membela citra Israel di berbagai forum internasional.
Dalam dunia yang semakin digital, aktivitas semacam ini berkembang menjadi apa yang sering disebut sebagai cyber hasbara sebuah bentuk diplomasi narasi yang beroperasi melalui algoritma, influencer, dan jaringan media sosial.
Di sinilah ironi modern itu muncul. Dunia hari ini hidup dalam ilusi keterbukaan informasi, padahal informasi itu sendiri telah menjadi medan perang yang sangat strategis.
Narasi bukan lagi sekadar alat penjelasan, melainkan instrumen kekuasaan. Siapa yang menguasai narasi, dialah yang menguasai legitimasi.
Dalam konflik Israel–Palestina, perebutan narasi sering kali sama sengitnya dengan perebutan wilayah.
Kata-kata seperti “pertahanan diri”, “terorisme”, “pendudukan”, atau “perlawanan” tidak lagi netral. Ia menjadi simbol ideologis yang memuat posisi politik tertentu.
Media global kemudian berfungsi sebagai arena tempat istilah-istilah itu diperebutkan dan dimaknai ulang.
Dalam konteks ini, Hasbara bekerja dengan logika sederhana namun efektif: mengendalikan kerangka interpretasi sebelum publik sempat mempertanyakan fakta.
Ketika sebuah peristiwa terjadi, yang pertama diperebutkan bukanlah kebenaran, tetapi definisi tentang apa yang sedang terjadi. Begitu definisi itu mapan, fakta-fakta berikutnya akan mengikuti jalur interpretasi yang sudah dibangun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perang modern tidak lagi hanya bergantung pada kekuatan militer, tetapi juga pada kekuatan semiotik yaitu kekuatan untuk mengendalikan simbol, bahasa, dan makna.
Di era media global, perang bisa dimenangkan bukan hanya oleh siapa yang memiliki tank terbanyak, tetapi oleh siapa yang memiliki narasi paling persuasif.
Namun di balik kecanggihan strategi komunikasi ini, terdapat pertanyaan etis yang tidak mudah dihindari; sejauh mana diplomasi narasi dapat dibedakan dari propaganda?
Ketika penjelasan berubah menjadi pembingkaian yang selektif, dan ketika informasi disajikan untuk mengarahkan opini publik tertentu, maka batas antara komunikasi dan manipulasi menjadi semakin kabur.
Di titik inilah masyarakat global menghadapi dilema besar. Kita hidup di zaman ketika informasi melimpah, tetapi kejelasan makna justru semakin langka.
Narasi datang dari berbagai arah, masing-masing mengklaim sebagai kebenaran. Publik kemudian terjebak dalam perang interpretasi yang tidak pernah benar-benar selesai.
Hasbara, dalam pengertian ini, hanyalah satu contoh dari fenomena yang lebih besar; politik narasi dalam geopolitik modern. Hampir semua negara besar memiliki mekanisme serupa untuk mempengaruhi opini publik dunia.
Yang membedakan hanyalah tingkat kecanggihan, jaringan, dan efektivitasnya.
Pada akhirnya, konflik Israel Palestina tidak hanya berlangsung di tanah yang diperebutkan, tetapi juga di ruang makna yang jauh lebih luas yaitu ruang tempat dunia menentukan siapa yang dipandang sebagai korban dan siapa yang dipandang sebagai pelaku.
Dan di ruang itulah jaringan narasi bekerja tanpa henti, memproduksi penjelasan, membangun legitimasi, dan kadang-kadang secara halus mengaburkan realitas.
Dalam dunia yang semakin terhubung, perang mungkin tidak selalu dimulai dengan tembakan. Kadang ia dimulai dengan sebuah kata.
Dan ketika kata itu diterima oleh dunia, maka perang makna telah dimenangkan bahkan sebelum peluru pertama ditembakkan.
Sidenreng Rappang—16 Maret 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


