Opinions

Republik Para Pendusta: Saat Dusta Menjadi Identitas

Republik
‎Dr. Buhari Fakkah, M.Pd---Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng---Rappang, Pemerhati Demokrasi, Dan Etika Publik. Aktif menulis Opini Reflektif Tentang Filsafat, Demokrasi dan Politik di Berbagai Media. Sabtu (21/03/2026). Foto Ist

Telaah Kritis Puasa sebagai Madrasah Jiwa

Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang 

INSAN.NEWS || Sidrap—Di republik para pendusta, kebohongan tidak lagi disembunyikan ia diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi secara massal.

Ia hadir dalam pidato yang penuh keyakinan, dalam data yang tampak ilmiah, bahkan dalam doa yang terdengar khusyuk.

Dusta telah naik kelas: dari sekadar perilaku menjadi identitas yang dipelihara bersama.

Penetapan Tanggal 1 Syawal 1447 H: Ketika Sains, Fikih, dan Otoritas Berjumpa dalam Perbedaan

‎Lalu datanglah bulan puasa ritus tahunan yang konon dimaksudkan sebagai madrasah jiwa. Sebuah sekolah sunyi tempat manusia dilatih menahan diri, menata nafsu, dan setidaknya dalam teori membersihkan batin dari kepalsuan.

Namun, seperti banyak institusi di negeri ini, puasa pun berisiko mengalami inflasi makna: ramai di simbol, kosong di substansi.

‎Siang hari, kita menyaksikan parade kesalehan. Perut kosong, tenggorokan kering, dan wajah-wajah yang tampak lebih religius dari biasanya. Tapi di balik itu, lidah tetap lihai merangkai kebohongan.

Transaksi kecurangan berjalan seperti biasa, hanya bergeser jamnya. Jika sebelumnya dusta diproduksi siang hari, kini ia menunggu waktu berbuka seolah-olah moralitas bisa dijadwal ulang.

‎Puasa, yang seharusnya menjadi latihan kejujuran paling radikal karena hanya Tuhan yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa justru sering direduksi menjadi sekadar ritual fisik. Kita menahan lapar, tetapi tidak menahan dusta.

Setan Bisu Republik: Saat Ulama dan Profesor Menjadi Alat Kekuasaan ‎

Kita menahan dahaga, tetapi tidak menahan manipulasi. Maka lahirlah paradoks: tubuh berpuasa, tetapi karakter tetap kenyang oleh kebohongan.

‎Dalam tradisi etika Islam, puasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Ia adalah disiplin total: menahan mata dari yang haram, telinga dari yang sia-sia, dan terutama lidah dari yang dusta.

Bahkan ada peringatan keras: tidak ada nilai pada puasa seseorang yang tidak meninggalkan kebohongan. Tetapi di republik ini, peringatan itu terdengar seperti angin lalu lembut, lewat, dan dilupakan.

‎Lebih ironis lagi, puasa sering dijadikan kosmetik moral. Ia mempercantik citra, bukan memperbaiki karakter. Para pendusta tetap berdiri di barisan depan, kini dengan tambahan legitimasi religius.

Mereka berbicara tentang kesabaran sambil memanipulasi fakta. Mereka mengutip ayat sambil mengaburkan kebenaran.

Qunut yang Dianggap Bid’ah, dan Upaya Menghapusy Ingatan Umat

Dan publik, yang telah lama hidup dalam kabut informasi, kesulitan membedakan antara kesalehan dan sandiwara.

‎‎Di titik ini, puasa kehilangan daya subversifnya. Ia tidak lagi mengguncang kebiasaan buruk, melainkan justru beradaptasi dengannya.

Padahal, sebagai madrasah jiwa, puasa seharusnya menjadi ruang pembongkaran diri tempat manusia berhadapan dengan kejujuran paling telanjang tentang siapa dirinya sebenarnya. Tanpa itu, puasa hanya menjadi repetisi ritual tanpa transformasi.

‎Pertanyaannya sederhana namun mengganggu: apa yang berubah setelah sebulan berpuasa? Jika dusta tetap menjadi bahasa sehari-hari, jika manipulasi tetap menjadi strategi utama, maka mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya individu, tetapi juga cara kita memahami puasa itu sendiri.

‎‎Barangkali kita terlalu sibuk mengatur menu sahur dan berbuka, tetapi lupa menyusun ulang kompas moral.

Kita menghitung jam menahan lapar, tetapi tidak pernah menghitung berapa kali kita menukar kebenaran dengan kenyamanan. Puasa akhirnya menjadi kalender, bukan kesadaran.

‎Di republik para pendusta, puasa seharusnya menjadi bentuk perlawanan paling sunyi. Ia tidak memerlukan panggung, tidak membutuhkan retorika.

Ia bekerja dalam diam, mengikis kebiasaan buruk, dan memulihkan integritas yang lama terkikis.

Tetapi itu hanya mungkin jika puasa dipahami sebagai latihan kejujuran total, bukan sekadar kewajiban tahunan.

‎Sebab pada akhirnya, yang membatalkan puasa mungkin bukan hanya seteguk air, tetapi juga setiap kebohongan yang kita biarkan tumbuh tanpa rasa bersalah.

‎Dan jika setelah Ramadhan berlalu kita tetap menjadi bagian dari republik para pendusta, maka mungkin yang gagal bukan puasanya melainkan kita yang menolak belajar darinya.

Sidenreng—Rappang, 21 Maret 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement