Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidrap—Oleh bayang-bayang pemikiran Buya Hamka, kita ditampar dengan kalimat sederhana namun memalukan; jika ingin melihat orang Islam, lihatlah saat Idul Fitri; jika ingin melihat orang beriman, datanglah saat Subuh.
Kalimat ini bukan sekadar nasihat ia adalah diagnosis sosial yang dingin.
Idul Fitri telah berubah menjadi panggung akbar. Masjid penuh, jalanan macet oleh takbir, pakaian terbaik dipamerkan, dan kamera menjadi saksi bahwa kita “hadir.”
Tetapi Subuh? Ia sunyi, seperti ditinggalkan oleh umat yang semalam begitu bersemangat menyebut nama Tuhan. Seolah-olah iman hanya bekerja pada momentum, bukan pada konsistensi.
Di sinilah ironi itu menelanjang; kita bangga menjadi “umat terbesar,” tetapi gagal menjadi “umat yang paling bangun pagi.”
Idul Fitri adalah simbol kemenangan, kata kita. Namun kemenangan atas apa? Jika sebulan penuh Ramadhan hanya menghasilkan keramaian sesaat di hari raya, maka mungkin yang menang bukan iman, melainkan budaya seremonial. Kita merayakan kemenangan yang bahkan belum kita perjuangkan sepenuhnya.
Subuh justru menjadi indikator yang jujur. Ia tidak butuh undangan, tidak ada kamera, tidak ada pujian sosial. Subuh adalah ibadah yang telanjang antara manusia dan Tuhannya saja.
Tidak ada ruang untuk pencitraan. Maka wajar jika yang hadir sedikit; keimanan memang tidak pernah suka keramaian.
Kita sering mengukur kualitas umat dari jumlah massa, bukan dari kedalaman iman. Kita bangga dengan lautan manusia di hari raya, tetapi tidak gelisah dengan barisan kosong di waktu Subuh. Kita menghitung jumlah, bukan kualitas. Kita memuja statistik, bukan spiritualitas.
Lebih tragis lagi, kita sering marah ketika dikritik, tetapi diam ketika diingatkan oleh kenyataan. Padahal Subuh setiap hari adalah kritik paling jujur terhadap diri kita sendiri. Ia tidak berdebat, tidak berteriak, hanya menunjukkan; siapa yang benar-benar datang.
Barangkali masalahnya bukan kita tidak tahu, tetapi kita terlalu nyaman dengan ilusi religiusitas massal. Idul Fitri memberi kita rasa cukup padahal Subuh mengungkapkan bahwa kita masih jauh.
Maka kutipan itu bukan sekadar kalimat indah untuk dibagikan di media sosial. Ia adalah cermin yang tidak semua orang berani lihat terlalu lama.
Karena pada akhirnya, menjadi “orang Islam” itu mudah cukup ikut arus. Tetapi menjadi “orang beriman,” seperti Subuh, selalu menuntut sesuatu yang lebih; kesunyian, keikhlasan, dan keberanian untuk datang ketika tidak ada yang melihat.
Dan di situlah, sebagian besar dari kita diam-diam memilih untuk tidak hadir.
Sidenreng Rappang—22 Maret 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


